Kamis, 23 April 2015

Melingkar itu Luar biasa


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hari minggu ini terasa begitu panas di kota minyak Bumi Sriwijaya. Setelah seharian berkutat dengan seminar, sore ini ada agenda yang sangat penting. Forum pekanan itu kami sebut dengan istilah liqo. Alhamdulillah sejak sekolah, berarti 12 tahun sudah, aku mengikuti forum pekanan seperti ini. Dari kota Kedu Selatan, Kota pelajar, dan kini di kota minyak masih lanjut.


Setelah berpamitan dengan istri dan anak, aku meluncur ke lokasi forum pekanan. Tempat liqo kali ini di rumah akh fajar. Tempat akh fajar itu baru 2 bulan dikontraknya untuk usaha aquarium, tepat di simpang tiga Stasiun.

Sesampainya di sana, sudah ada beberapa kawan yang duduk di belakang etalase toko. Kecil tapi cukup menampung 10 orang. Teduh wajah sahabat-sahabat ku, senyum selalu terpancar dari wajah mereka. Tutur katanya sopan dan penuh makna.

Diawali dengan salam, cipika-cipiki, dan menanyakan kabar sekeluarga. Luar biasa perhatian mereka. Senyuman itu menjukkan kebahagiaan mereka saat berjumpa dengan saudara satu imannya, meskipun bisa jadi ada luka, ada masalah yang mereka rasakan.

Kami awali acara pekanan kami dengan membaca Al Quran. Masing2 membaca satu halaman. Semua serius menyimak bacaan. Sudah sebagian besar kami lancar dalam membaca, namun ada juga yang masih terbata-bata. Di situlah kami saling mengajari sehingga sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kami lanjutkan dengan infak pekanan. Biasanya kami gunakan tas kecil, tempat pensil, kadang juga salah satu peci dari kami menjadi wadahnya. Di sana saya lihat semangat berkorban dan member yang terbaik dari masing-masing anggota liqo. Entah berapa banyak yang diinfakkan, tak ada yang tahu. Yang pasti semangatnya luar biasa. Setelah semua terkumpul ada seorang yang bertugas untuk menghitung dan merekap semua infak yang terkumpul.

Materi bedah buku pekan ini membahas buku “Menuju Jamaatul Muslimin”. Akh Abas sebagai petugas pekan ini membahas tentang bab 2 buku itu. Dengan semangat beliau menjelaskan kepada semua peserta liqo, sedangkan yang lain serius mendengarkan pemamparan akh Abas. Tak kurang dari setengah jam penjelasan bab 2, dilanjutkan dengan diskusi. Mulai dari sejarah latarbelakang penulisan buku, hingga kondisi kontemporer keummatan. Singkat, padat dan banyak hal baru yang kami dapatkan setelah bertukar pikiran. Maklumlah, dari kelompok kami ada yang meraih gelar masternya dari buku tersebut. Tentu banyak referensi yang dibaca.  Sehingga diskusi buku pekan ini sama seperti seminar nasional, atau bahkan internasional. Sesi bedah buku kami cukupkan Saat kumandang adzan mulai terdengar. Kami semua menjalankan sholat di masid di samping tempat liqo kami.

Setelah kembalinya kami dari sholat maghrib, sudah ada hidangan yang akan menemani kami untuk melanjutkan pertemuan pekanan kami. Sirup jeruk dingin, pempek lengkap dengan cukanya, bakwan, pisang goreng, hingga camilan macaroni. Seperti itulah gambaran setiap acara. Ada minuman, buah, cemilan, hingga makanan khas daerah. Kumplit kaya jajanan pasar. Setiap pekan kami giliran membawa makanan. Tak jarang tuan rumah juga sudah menyediakan hidangan.

Yang terakhir, materi dari pak ustad mengingatkan pada saat kuliah dulu. Materi dasar namun belum tentu mudah untuk dilakukan. Taaruf, saling mengenal. Tentu dalam bahasan di sini kami diharapkan saling mengenal antar anggota kelompuk lebih jauh. Bukan sebatas nama, tempat tinggal, pekerjaan, nama istri, nama anak. Jauh lebih dari itu. Kami mesti mengenal dari latar belakang keluarga, perjalanan hidup hingga bergabung dalam jamaah dakwah. Sungguh luar biasa dari sekian banyak komunias yang aku ikuti, hanya komunitas liqo ini lah yang memperhatikan sampai sedetail itu.

Melingkar itu cinta
Melingkar itu luarbiasa


0 komentar:

Posting Komentar