Waktu
sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hari minggu ini terasa begitu panas di kota
minyak Bumi Sriwijaya. Setelah seharian berkutat dengan seminar, sore ini ada
agenda yang sangat penting. Forum pekanan itu kami sebut dengan istilah liqo. Alhamdulillah sejak sekolah,
berarti 12 tahun sudah, aku mengikuti forum pekanan seperti ini. Dari kota Kedu
Selatan, Kota pelajar, dan kini di kota minyak masih lanjut.
Setelah
berpamitan dengan istri dan anak, aku meluncur ke lokasi forum pekanan. Tempat
liqo kali ini di rumah akh fajar. Tempat akh fajar itu baru 2 bulan
dikontraknya untuk usaha aquarium, tepat di simpang tiga Stasiun.
Sesampainya
di sana, sudah ada beberapa kawan yang duduk di belakang etalase toko. Kecil
tapi cukup menampung 10 orang. Teduh wajah sahabat-sahabat ku, senyum selalu
terpancar dari wajah mereka. Tutur katanya sopan dan penuh makna.
Diawali
dengan salam, cipika-cipiki, dan menanyakan kabar sekeluarga. Luar biasa
perhatian mereka. Senyuman itu menjukkan kebahagiaan mereka saat berjumpa
dengan saudara satu imannya, meskipun bisa jadi ada luka, ada masalah yang
mereka rasakan.
Kami
awali acara pekanan kami dengan membaca Al Quran. Masing2 membaca satu halaman.
Semua serius menyimak bacaan. Sudah sebagian besar kami lancar dalam membaca, namun
ada juga yang masih terbata-bata. Di situlah kami saling mengajari sehingga
sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Kami
lanjutkan dengan infak pekanan. Biasanya kami gunakan tas kecil, tempat pensil,
kadang juga salah satu peci dari kami menjadi wadahnya. Di sana saya lihat
semangat berkorban dan member yang terbaik dari masing-masing anggota liqo. Entah
berapa banyak yang diinfakkan, tak ada yang tahu. Yang pasti semangatnya luar
biasa. Setelah semua terkumpul ada seorang yang bertugas untuk menghitung dan
merekap semua infak yang terkumpul.
Materi
bedah buku pekan ini membahas buku “Menuju Jamaatul Muslimin”. Akh Abas sebagai
petugas pekan ini membahas tentang bab 2 buku itu. Dengan semangat beliau
menjelaskan kepada semua peserta liqo, sedangkan yang lain serius mendengarkan
pemamparan akh Abas. Tak kurang dari setengah jam penjelasan bab 2, dilanjutkan
dengan diskusi. Mulai dari sejarah latarbelakang penulisan buku, hingga kondisi
kontemporer keummatan. Singkat, padat dan banyak hal baru yang kami dapatkan
setelah bertukar pikiran. Maklumlah, dari kelompok kami ada yang meraih gelar
masternya dari buku tersebut. Tentu banyak referensi yang dibaca. Sehingga diskusi buku pekan ini sama seperti
seminar nasional, atau bahkan internasional. Sesi bedah buku kami cukupkan Saat
kumandang adzan mulai terdengar. Kami semua menjalankan sholat di masid di
samping tempat liqo kami.
Setelah
kembalinya kami dari sholat maghrib, sudah ada hidangan yang akan menemani kami
untuk melanjutkan pertemuan pekanan kami. Sirup jeruk dingin, pempek lengkap
dengan cukanya, bakwan, pisang goreng, hingga camilan macaroni. Seperti itulah
gambaran setiap acara. Ada minuman, buah, cemilan, hingga makanan khas daerah.
Kumplit kaya jajanan pasar. Setiap pekan kami giliran membawa makanan. Tak
jarang tuan rumah juga sudah menyediakan hidangan.
Yang
terakhir, materi dari pak ustad mengingatkan pada saat kuliah dulu. Materi
dasar namun belum tentu mudah untuk dilakukan. Taaruf, saling mengenal. Tentu dalam bahasan di sini kami
diharapkan saling mengenal antar anggota kelompuk lebih jauh. Bukan sebatas
nama, tempat tinggal, pekerjaan, nama istri, nama anak. Jauh lebih dari itu.
Kami mesti mengenal dari latar belakang keluarga, perjalanan hidup hingga
bergabung dalam jamaah dakwah. Sungguh luar biasa dari sekian banyak komunias
yang aku ikuti, hanya komunitas liqo ini lah yang memperhatikan sampai sedetail
itu.
Melingkar
itu cinta
Melingkar
itu luarbiasa







0 komentar:
Posting Komentar