Minggu, 21 Juni 2015

Taubatnya Sang Preman Sekolah


Tepat pukul 6.30 bel sekolah berbunyi. Khusus hari senin bel itu berbunyi dua kali karena ada upacara bendera rutin setiap minggunya. Hari ini tiba giliran kelas kami menjadi petugas upacara. Oleh karena itu, aku berangkat sekolah lebih awal dari biasanya.

Sesaat menjelang upacara di mulai, mendadak penglihatan ku mulai kabur dan gelap. Suara yang ku dengar juga mulai kacau, kecil dan tak terdengar lagi. Yang kurasa hanya badan ku melemah dan seolah melayang. Dan ………… aku pingsan.

Apa, aku pingsan ?

Seolah tak percaya karena aku memang belum ernah mengalaminya. Dibantu tim palang merah remaja, aku jalan terkulai menuju ruang kesehatan. Sebenarnya tidak jauh tempat itu dari lapangan upacara, namun karena kondisi ku lemah sehingga terasa berat.dan perlu bantuan orang lain untuk ke sana

Sesampainya aku di ruang kesehatan, tampak ada seorang siswa yang sangat aku kenal. Sayangnya bukan prestasi atau sikap baiknya yang menjadikan aku kenal, melainkan sikap kasar dan kenakalannya. Jujur saja aku lebih suka nongkrong di perpustakaan dari pada tinggal di ruang kesehatan bersama preman sekolah itu.

Sesaat terdengar suara komandan upacara pertanda upacara sudah di mulai. Ku pandangi suasana ruang kesehatan hingga lapangan upacara. Dari pinggir lapangan tampak bu Ani berjalan menyusuri pinggir lapangan. Ternyata beliau menuju ruang kesehatan ini. Beliau adalah wali kelas ku, jadi wajar bila beliau ingin tahu kondisi siswanya yang tidak mengikuti kegiatan rutin setiap hari senin itu.

Bu guru yang terkenal dengan logat khasnya itu menanyakan kondisi ku, sembari berjalan menuju almari minuman. Dibukanya pintu dan menawari minuman yang sudah disiapkan untuk siswa yang sakit.

“Gimana kondisi mu sekarang De ? Sudah lebih baik kan ? ini ibu ambilkan minuman biar kondisi mu cepat pulih” kata bu ani

“Alhamdulillah saya sudah lebih baik bu, Cuma sedikit pusing. InsyaALLAH kalo sudah tilawah, saya sehat lagi. Mungkin danang lebih perlu minuman itu bu” jawab ku sambil menoleh ke arah danang.

Danang yang dari tadi main hp dari balik selimut cuma mengangguk saja tanda ia setuju.
“ah, aklo danang sih ga usah di kasih. Dia kan malas ikut upacara, makanya pura2 sakit. Hey, kamu itu cepet hilang nakalnya, biar jadi anak pintar” kata bu ani sambil duduk di bangku administrasi kesehatan.

Aku pun cuma ketawa kecil

Setelah pusing ku sedikit hilang, ku ambil hp di kantong celana. Ku buka aplikasi quran, dan ku lanjutkan ngaji semalam yang tak sempat ku baca setelah sholat subuh. Mungkin ini yang menyebabkan ku lemah pagi ini. Oleh karena itu dengan semangat ku lanjutkan ngaji ku.

“De, kamu ga minum ya ? Kamu mesti minum, biar cepat pulih. Ingat pesan ibu ani tadi” kata danang sembari berjalan menuju pinggir jendela ruang kesehatan

“Aku puasa bro, insyaALLAH aku lanjutkan sampai maghrib nanti. Baru aku minum dan makan” Ku jawan pertanyaan danang. Dia hanya bengong mendengar jawaban ku

Aku baca Quran sambil sesekali ku lihat danang. Rupanya dia mendengarkan apa yang ku baca. Surat lanjutan ngaji ku pas di Surat Ar Rahman. Selesai dengan membaca, ku lanjutkan membaca arti setiap ayat surat tersebut.

Tiba2 ku dengar isak tangis seseorang. Makin lama makin kuat tangisannya. Meskipun ia berusaha menahan tangisnya, tapi aku yakin dia berada di dekat ku. Setelah aku selesai membaca terjemahan, aku baru memastikan dari mana suara isak tangis itu.

Masyaallah, ternyata danang. Danang bisa menangis ? Masa iya preman sekolah bisa nangis, adanya orang dibuat nangis sama dia ? atau jangan2 dia sakit, tapi sakit apa ya yang bisa bikin dia nangis ?

“Kamu kenapa danang ? sakit ya, sakit apa ? ayo bilang biar aku panggil petugas kesehatan sekolah” ku borong pertanyaan untuk memastikan ia baik2 saja

“De, aku capek… aku capek sama kenakalan ku selama ini. Aku pingin taubat, aku kapok” jawab danang sambil terisak.

Tentu saja jawaban itu membuat ku bingung. Apa yang bisa buat ia berkata seperti itu ?

“Ku dengar tadi quran yang kau baca, bergetar badan ku, sesak nafas ku. Tak terbayang begitu banyak dosa ku. Banyak maksiat yang telah ku lakukan, banyak nikmat tuhan yang tak aku syukuri. Dan sekarang aku pingin berubah” jawab dia sambil meringkuk di pojok ruang ini.

“Sebenernya sudah lama aku perhatikan kamu sama kawan2 lainnya, sholat di masjid sekolah, ngaji bareng, dan banyak kegiatan yang kalian kerjakan di sana. Sebenernya aku pingin ikut. Tapi… tapi…” iya tak sampai mampu melanjutkannya. Hanya tangisan saja yang bisa ia lakukan

“ Sabar Danang, tenang. Katakana saja, tapi apa ??” Tanya ku penasaran dengan kalimat sambungannya.

“Aku malu, aku merasa tak pantas duduk bersama kalian. Aku kotor, aku penuh dosa, dan aku tak layak. Jujur aku pingin berubah. Aku sadar selama ini hidup ku kacau. Apa kah kamu mau ngajari aku ngaji ? ngajari aku sholat ? ngajari aku agama ?”

Sungguh aku hampir tak bisa berkata2 lagi. Kaget bercampur kagum rasanya ku lihat seorang preman yang ingin berubah

“Tenang bro, insyaALLAH kami siap membantu. Aku juga masih belajar, ngajiku belum lancar, makanya perlu komunitas kebaikan untuk selalu saling mengingatkan. Kalo sudah kita sadari, bismillah saja. Kita jalani, terserah orang mau menilai apa. Yang penting kita makin dekat dengan allah swt. Karena IA lah sumber kekuatan dan ketenangan hidup kita.”

“Makasih bro, nanti tunggu aku ya di masjid pas jam istirahat pertama. Aku pingin sholat dhuha bareng kalian” kata danang sebelum kembali ke kelas

Wow, subhanallah.

Jujur, aku juga masih belajar. Aku juga ngerasa semua yang aku lakukan bersama kawan2 rohis adalah hal yang biasa. Lumrah gitu. Jalan sekolah bareng, ngerjain tugas bareng2, sholat dhuha bareng, sholat berjamaah dan ngaji bareng, dan semua kegiatan sekolah ataupun oranisasi kami lakukan bersama2.


Ternyata orang lain memperhatikan kita. Jika niat kita memang mencari rido allah swt, maka yakinlah gelombang kebaikan itu akan menyentuh hati orang lain dan mengajak bersama dalam kebaikan

0 komentar:

Posting Komentar