Tepat pukul 6.30 bel sekolah
berbunyi. Khusus hari senin bel itu berbunyi dua kali karena ada upacara bendera
rutin setiap minggunya. Hari ini tiba giliran kelas kami menjadi petugas
upacara. Oleh karena itu, aku berangkat sekolah lebih awal dari biasanya.
Sesaat menjelang upacara di mulai,
mendadak penglihatan ku mulai kabur dan gelap. Suara yang ku dengar juga mulai
kacau, kecil dan tak terdengar lagi. Yang kurasa hanya badan ku melemah dan
seolah melayang. Dan ………… aku pingsan.
Apa, aku pingsan ?
Seolah tak percaya karena aku memang
belum ernah mengalaminya. Dibantu tim palang merah remaja, aku jalan terkulai
menuju ruang kesehatan. Sebenarnya tidak jauh tempat itu dari lapangan upacara,
namun karena kondisi ku lemah sehingga terasa berat.dan perlu bantuan orang
lain untuk ke sana
Sesampainya aku di ruang kesehatan,
tampak ada seorang siswa yang sangat aku kenal. Sayangnya bukan prestasi atau
sikap baiknya yang menjadikan aku kenal, melainkan sikap kasar dan
kenakalannya. Jujur saja aku lebih suka nongkrong di perpustakaan dari pada
tinggal di ruang kesehatan bersama preman sekolah itu.
Sesaat terdengar suara komandan
upacara pertanda upacara sudah di mulai. Ku pandangi suasana ruang kesehatan
hingga lapangan upacara. Dari pinggir lapangan tampak bu Ani berjalan menyusuri
pinggir lapangan. Ternyata beliau menuju ruang kesehatan ini. Beliau adalah
wali kelas ku, jadi wajar bila beliau ingin tahu kondisi siswanya yang tidak
mengikuti kegiatan rutin setiap hari senin itu.
Bu guru yang terkenal dengan logat
khasnya itu menanyakan kondisi ku, sembari berjalan menuju almari minuman.
Dibukanya pintu dan menawari minuman yang sudah disiapkan untuk siswa yang
sakit.
“Gimana kondisi mu
sekarang De ? Sudah lebih baik kan ? ini ibu ambilkan minuman biar kondisi mu
cepat pulih” kata bu ani
“Alhamdulillah saya
sudah lebih baik bu, Cuma sedikit pusing. InsyaALLAH kalo sudah tilawah, saya sehat lagi. Mungkin danang
lebih perlu minuman itu bu” jawab ku sambil menoleh ke arah danang.
Danang yang dari tadi main hp dari balik
selimut cuma mengangguk saja tanda ia setuju.
“ah, aklo danang sih
ga usah di kasih. Dia kan malas ikut upacara, makanya pura2 sakit. Hey, kamu
itu cepet hilang nakalnya, biar jadi anak pintar” kata bu ani sambil duduk di
bangku administrasi kesehatan.
Aku pun
cuma ketawa kecil
Setelah pusing ku sedikit hilang, ku
ambil hp di kantong celana. Ku buka aplikasi quran, dan ku lanjutkan ngaji
semalam yang tak sempat ku baca setelah sholat subuh. Mungkin ini yang
menyebabkan ku lemah pagi ini. Oleh karena itu dengan semangat ku lanjutkan
ngaji ku.
“De, kamu ga minum ya
? Kamu mesti minum, biar cepat pulih. Ingat pesan ibu ani tadi” kata danang
sembari berjalan menuju pinggir jendela ruang kesehatan
“Aku puasa bro,
insyaALLAH aku lanjutkan sampai maghrib nanti. Baru aku minum dan makan” Ku
jawan pertanyaan danang. Dia hanya bengong mendengar jawaban ku
Aku baca Quran sambil sesekali ku
lihat danang. Rupanya dia mendengarkan apa yang ku baca. Surat lanjutan ngaji
ku pas di Surat Ar Rahman. Selesai dengan membaca, ku lanjutkan membaca arti
setiap ayat surat tersebut.
Tiba2 ku dengar isak tangis
seseorang. Makin lama makin kuat tangisannya. Meskipun ia berusaha menahan
tangisnya, tapi aku yakin dia berada di dekat ku. Setelah aku selesai membaca
terjemahan, aku baru memastikan dari mana suara isak tangis itu.
Masyaallah, ternyata danang. Danang
bisa menangis ? Masa iya preman sekolah bisa nangis, adanya orang dibuat nangis
sama dia ? atau jangan2 dia sakit, tapi sakit apa ya yang bisa bikin dia nangis
?
“Kamu kenapa danang ?
sakit ya, sakit apa ? ayo bilang biar aku panggil petugas kesehatan sekolah” ku
borong pertanyaan untuk memastikan ia baik2 saja
“De, aku capek… aku
capek sama kenakalan ku selama ini. Aku pingin taubat, aku kapok” jawab danang
sambil terisak.
Tentu saja
jawaban itu membuat ku bingung. Apa yang bisa buat ia berkata seperti itu ?
“Ku dengar tadi quran
yang kau baca, bergetar badan ku, sesak nafas ku. Tak terbayang begitu banyak
dosa ku. Banyak maksiat yang telah ku lakukan, banyak nikmat tuhan yang tak aku
syukuri. Dan sekarang aku pingin berubah” jawab dia sambil meringkuk di pojok
ruang ini.
“Sebenernya sudah lama
aku perhatikan kamu sama kawan2 lainnya, sholat di masjid sekolah, ngaji
bareng, dan banyak kegiatan yang kalian kerjakan di sana. Sebenernya aku pingin
ikut. Tapi… tapi…” iya tak sampai mampu melanjutkannya. Hanya tangisan saja
yang bisa ia lakukan
“ Sabar Danang,
tenang. Katakana saja, tapi apa ??” Tanya ku penasaran dengan kalimat
sambungannya.
“Aku malu, aku merasa
tak pantas duduk bersama kalian. Aku kotor, aku penuh dosa, dan aku tak layak.
Jujur aku pingin berubah. Aku sadar selama ini hidup ku kacau. Apa kah kamu mau
ngajari aku ngaji ? ngajari aku sholat ? ngajari aku agama ?”
Sungguh aku hampir tak bisa berkata2 lagi.
Kaget bercampur kagum rasanya ku lihat seorang preman yang ingin berubah
“Tenang bro,
insyaALLAH kami siap membantu. Aku juga masih belajar, ngajiku belum lancar,
makanya perlu komunitas kebaikan untuk selalu saling mengingatkan. Kalo sudah
kita sadari, bismillah saja. Kita jalani, terserah orang mau menilai apa. Yang
penting kita makin dekat dengan allah swt. Karena IA lah sumber kekuatan dan
ketenangan hidup kita.”
“Makasih bro, nanti
tunggu aku ya di masjid pas jam istirahat pertama. Aku pingin sholat dhuha
bareng kalian” kata danang sebelum kembali ke kelas
Wow,
subhanallah.
Jujur, aku juga masih belajar. Aku
juga ngerasa semua yang aku lakukan bersama kawan2 rohis adalah hal yang biasa.
Lumrah gitu. Jalan sekolah bareng, ngerjain tugas bareng2, sholat dhuha bareng,
sholat berjamaah dan ngaji bareng, dan semua kegiatan sekolah ataupun oranisasi
kami lakukan bersama2.
Ternyata orang lain memperhatikan
kita. Jika niat kita memang mencari rido allah swt, maka yakinlah gelombang kebaikan
itu akan menyentuh hati orang lain dan mengajak bersama dalam kebaikan







0 komentar:
Posting Komentar