Tampilkan postingan dengan label TAJUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAJUK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2015

secercah harapan dari belantara rimba




sebuah tulisan singkat ku, dulu....
ketika akan ku ayunkan langkah kaki ku..
menapaki episode kehidupan..
jauh di perantauan





Assalamualaykum wm. wb.

Detik-detik menjelang pergantian waktu menuju 2 Desember 2011, di Bumi Sriwijaya
Sebuah kepingan waktu yang menyusun episode perjuangan untuk meniti jalan Illahi.
Sebuah usaha, yang dilakukan dengan segenap keterbatasan diri menuju kekayaan harapan..
Adalah ridho dan maghfiroh dari Robb semesta alam, tujuan yang menjadi sumber kekuatan.
Teriring basmallah pada setiap awal langkah, zikir di setiap tarikan nafas...
Semoga sedikit azzam di hati, kan memudahkan langkah menuju JannahMU....
Amin..

Wassalamualaykum wm. wb.


Minggu, 21 Juni 2015

Taubatnya Sang Preman Sekolah


Tepat pukul 6.30 bel sekolah berbunyi. Khusus hari senin bel itu berbunyi dua kali karena ada upacara bendera rutin setiap minggunya. Hari ini tiba giliran kelas kami menjadi petugas upacara. Oleh karena itu, aku berangkat sekolah lebih awal dari biasanya.

Sesaat menjelang upacara di mulai, mendadak penglihatan ku mulai kabur dan gelap. Suara yang ku dengar juga mulai kacau, kecil dan tak terdengar lagi. Yang kurasa hanya badan ku melemah dan seolah melayang. Dan ………… aku pingsan.

Apa, aku pingsan ?

Seolah tak percaya karena aku memang belum ernah mengalaminya. Dibantu tim palang merah remaja, aku jalan terkulai menuju ruang kesehatan. Sebenarnya tidak jauh tempat itu dari lapangan upacara, namun karena kondisi ku lemah sehingga terasa berat.dan perlu bantuan orang lain untuk ke sana

Sesampainya aku di ruang kesehatan, tampak ada seorang siswa yang sangat aku kenal. Sayangnya bukan prestasi atau sikap baiknya yang menjadikan aku kenal, melainkan sikap kasar dan kenakalannya. Jujur saja aku lebih suka nongkrong di perpustakaan dari pada tinggal di ruang kesehatan bersama preman sekolah itu.

Sesaat terdengar suara komandan upacara pertanda upacara sudah di mulai. Ku pandangi suasana ruang kesehatan hingga lapangan upacara. Dari pinggir lapangan tampak bu Ani berjalan menyusuri pinggir lapangan. Ternyata beliau menuju ruang kesehatan ini. Beliau adalah wali kelas ku, jadi wajar bila beliau ingin tahu kondisi siswanya yang tidak mengikuti kegiatan rutin setiap hari senin itu.

Bu guru yang terkenal dengan logat khasnya itu menanyakan kondisi ku, sembari berjalan menuju almari minuman. Dibukanya pintu dan menawari minuman yang sudah disiapkan untuk siswa yang sakit.

“Gimana kondisi mu sekarang De ? Sudah lebih baik kan ? ini ibu ambilkan minuman biar kondisi mu cepat pulih” kata bu ani

“Alhamdulillah saya sudah lebih baik bu, Cuma sedikit pusing. InsyaALLAH kalo sudah tilawah, saya sehat lagi. Mungkin danang lebih perlu minuman itu bu” jawab ku sambil menoleh ke arah danang.

Danang yang dari tadi main hp dari balik selimut cuma mengangguk saja tanda ia setuju.
“ah, aklo danang sih ga usah di kasih. Dia kan malas ikut upacara, makanya pura2 sakit. Hey, kamu itu cepet hilang nakalnya, biar jadi anak pintar” kata bu ani sambil duduk di bangku administrasi kesehatan.

Aku pun cuma ketawa kecil

Setelah pusing ku sedikit hilang, ku ambil hp di kantong celana. Ku buka aplikasi quran, dan ku lanjutkan ngaji semalam yang tak sempat ku baca setelah sholat subuh. Mungkin ini yang menyebabkan ku lemah pagi ini. Oleh karena itu dengan semangat ku lanjutkan ngaji ku.

“De, kamu ga minum ya ? Kamu mesti minum, biar cepat pulih. Ingat pesan ibu ani tadi” kata danang sembari berjalan menuju pinggir jendela ruang kesehatan

“Aku puasa bro, insyaALLAH aku lanjutkan sampai maghrib nanti. Baru aku minum dan makan” Ku jawan pertanyaan danang. Dia hanya bengong mendengar jawaban ku

Aku baca Quran sambil sesekali ku lihat danang. Rupanya dia mendengarkan apa yang ku baca. Surat lanjutan ngaji ku pas di Surat Ar Rahman. Selesai dengan membaca, ku lanjutkan membaca arti setiap ayat surat tersebut.

Tiba2 ku dengar isak tangis seseorang. Makin lama makin kuat tangisannya. Meskipun ia berusaha menahan tangisnya, tapi aku yakin dia berada di dekat ku. Setelah aku selesai membaca terjemahan, aku baru memastikan dari mana suara isak tangis itu.

Masyaallah, ternyata danang. Danang bisa menangis ? Masa iya preman sekolah bisa nangis, adanya orang dibuat nangis sama dia ? atau jangan2 dia sakit, tapi sakit apa ya yang bisa bikin dia nangis ?

“Kamu kenapa danang ? sakit ya, sakit apa ? ayo bilang biar aku panggil petugas kesehatan sekolah” ku borong pertanyaan untuk memastikan ia baik2 saja

“De, aku capek… aku capek sama kenakalan ku selama ini. Aku pingin taubat, aku kapok” jawab danang sambil terisak.

Tentu saja jawaban itu membuat ku bingung. Apa yang bisa buat ia berkata seperti itu ?

“Ku dengar tadi quran yang kau baca, bergetar badan ku, sesak nafas ku. Tak terbayang begitu banyak dosa ku. Banyak maksiat yang telah ku lakukan, banyak nikmat tuhan yang tak aku syukuri. Dan sekarang aku pingin berubah” jawab dia sambil meringkuk di pojok ruang ini.

“Sebenernya sudah lama aku perhatikan kamu sama kawan2 lainnya, sholat di masjid sekolah, ngaji bareng, dan banyak kegiatan yang kalian kerjakan di sana. Sebenernya aku pingin ikut. Tapi… tapi…” iya tak sampai mampu melanjutkannya. Hanya tangisan saja yang bisa ia lakukan

“ Sabar Danang, tenang. Katakana saja, tapi apa ??” Tanya ku penasaran dengan kalimat sambungannya.

“Aku malu, aku merasa tak pantas duduk bersama kalian. Aku kotor, aku penuh dosa, dan aku tak layak. Jujur aku pingin berubah. Aku sadar selama ini hidup ku kacau. Apa kah kamu mau ngajari aku ngaji ? ngajari aku sholat ? ngajari aku agama ?”

Sungguh aku hampir tak bisa berkata2 lagi. Kaget bercampur kagum rasanya ku lihat seorang preman yang ingin berubah

“Tenang bro, insyaALLAH kami siap membantu. Aku juga masih belajar, ngajiku belum lancar, makanya perlu komunitas kebaikan untuk selalu saling mengingatkan. Kalo sudah kita sadari, bismillah saja. Kita jalani, terserah orang mau menilai apa. Yang penting kita makin dekat dengan allah swt. Karena IA lah sumber kekuatan dan ketenangan hidup kita.”

“Makasih bro, nanti tunggu aku ya di masjid pas jam istirahat pertama. Aku pingin sholat dhuha bareng kalian” kata danang sebelum kembali ke kelas

Wow, subhanallah.

Jujur, aku juga masih belajar. Aku juga ngerasa semua yang aku lakukan bersama kawan2 rohis adalah hal yang biasa. Lumrah gitu. Jalan sekolah bareng, ngerjain tugas bareng2, sholat dhuha bareng, sholat berjamaah dan ngaji bareng, dan semua kegiatan sekolah ataupun oranisasi kami lakukan bersama2.


Ternyata orang lain memperhatikan kita. Jika niat kita memang mencari rido allah swt, maka yakinlah gelombang kebaikan itu akan menyentuh hati orang lain dan mengajak bersama dalam kebaikan

RAMADHAN DELAPAN RASA


Cilacap, 2008
illustrasi

Cilacap merupakan tempat tinggal orang tua ku. 30 tahun lamanya beliau berdua mengabdi menjadi guru sekolah dasar. Bilangan waktu yang tidak sedikit.
Sebagai pendatang, kami sudah bisa beradaptasi dan bahkan banyak yang mengira kami warga asli daerah tersebut. Di sana ku habiskan masa kecil, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama.
Tahun 2008, aku sudah duduk di perguruan tinggi. Ramadhan ini banyak ku habiskan di rumah. Aku merasa selama ini waktu untuk keluarga terlalu sedikit. Tinggal di kos dan hanya pulang setahun 3 kali, sehingga setiap kali libur kugunakan untuk keluarga.
Kegiatan ku antara lain bersih2 rumah, berkebun, memasak dsb. Menjelang idul fitri pasti kami membuat kue hidangan lebaran.



Klaten, 2009 

Klaten merupakan salah satu kabupaten perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Provinsi  Jawa Tengah di sisi timur. Ramadhan 2009 ku bertepatan dengan akhir masa prakek kerja masyarakat, atau yang lebih dikenal dengan istilah KKN.
3 bulan lamanya kami di sana, banyak kesan baik yang kami rasakan. Kami yang datang dengan berbagai latar suku, budaya, bahasa, dan disiplin ilmu harus mampu beradaptasi dengan lingkungan jawa khas Klaten lereng Gunung Merapi. Alhamdulillah selama masa KKN, program yang kami ajukan diterima dengan baik oleh masyarakat, dan kami merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat di sana.
Ramadhan 2009 ini kami mengenal suasana khas Klaten di mana budaya dan agama disandingkan. Acara yang sudah dilakukan secara turun temurun seperti padusan, kegiatan bersih masal masyarakat menjelang bulan suci ramadhan. Ada juga ruahan, di mana setiap keluarga membawa sepikul makanan untuk dikumpulkan di makam leluhur dan di makan bersama.
Meskipun tidak ada tuntunannya, satu nilai positif adalah kebersamaan dan kerukunan masyarakat terus terjaga. Begitu juga dengan silaturahim yang terus terjalin antar warga


Kalimantan, 2010 

Untuk pertama kalinya aku berada di Pulau Kalimantan. Sebagai mahasiswa kehutanan, praktek di  Kalimantan itu sesuatu yang wajib hukumnya. Meskipun menjadi salah satu keingian ku untuk pergi ke pulau tersebut, sejujurnya aku anggap itu hal mustahil karena sampai saat itu sudah bergulat dengan ujian skripsi.
Di sana lah Allah SWT mengingatkan ku bahwa sesuatu apapun itu bisa terjadi dengan izinNYA. Menjelang penentuan tanggal ujian skripsi, seorang dosen pembimbing dan penguji skripsi mendadak haru ke negeri matahari terbut untuk urusan dinas kampus. Alhasil kelulusan ku pun mundur, aku pun syok karena harus mundur 6 bulan.
Seorang dosen merekomendasikan ku untuk bergabung dengan tim penelitian untuk satwa dilindungi. Selain mengisi waktu menunggu dosen pulang, penelitian itu juga untuk mengenal dunia kehutanan lebih lajut karena lokasi penelitian benar2 di hutan alam dan belum pernah aku bayangkan sebelumnya.
Tiga bulan menjelang Ramadhan menjadikan jadual penelitian diubah, lebih padat dilapangan sehingga waktunya puasa, tinggal merekap data dan persiapan laporan. Satu hari menjelang puasa, tim sudah keluar dari lokasi di pedalaman daerah sangatta menuju kota Berau. Sedangkan hari pertama puasa, kami lanjutkan perjalanan dari kota Berau menuju kota Balikpapan menggunakan jalur udara. Sejak awal kami persiapkan dan waktu yang ada digunakan dengan efektif sehingga jadual membuat laporan pun sudah selesai. Waktu sisa dua hari kami habiskan untuk berlibur, belajar sedikit kultur, dan menikmati suasana ramadhan di kota itu.


Jogjakarta, 2011

Ramadhan 2011 ini tepat hari libur panjang . Tahun itu aku sudah bekerja di pulau Sumatera. Perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan industri menjadi pilihan. Ku atur waktu libur sehingga ramadhan bisa libur penuh hingga 7 hari setelah lebaran. Baik bus atupun pesawat, semua tidak bisa mengantar ku langsung ke kota orang tua ku, sehingga aku putuskan singah di kota Jogja.
Banyak hal yang bisa ku lakukan di kota gudeg ini. Menghilangkan penat pascakerja, refresing dan sebagainya. Tak lupa kukunjungi sahabat yang masih menyelesaikan study nya, ku datangi tempat yang menjadi saksi perjuangan dulu meraih gelar sarana, dan juga tempat bersejarah bagi ku mendapatkan hidayahNYA menemukan Tarbiyah.
Dan pastinya sebagai anak aku ingin memberikan hadiah untuk kedua orang tua ku, kakak, dan adik ku. Tentu saja sebatas yang aku mampu. Bagi ku, bisa member dan membuat keluarga ku tersenyum adalah segalanya.
Jogja memang istimewa


Lematang, 2012

Tahun di mana aku mulai telat pulang. Mudik puasa pun hanya bisa ku lakukan menjelang lebaran. Ini lokasi pertama aku bekerja. Tempat perbatasan kabupaten Muara Enim dan Lahat, Sumatera Selatan.
Mulai ku biasakan dengan lingkungan kerja, kultur budaya, makanan dan semua pernak pernik ramadhan, kususnya saat puasa di lokasi yang jauh di pedalaman. Semua keterbatasan itu menjadikan ku lebih mudah mengingat besarnya karunia yang Allah SWT berikan.
Alhamdulillah semua rekan kerja ku baik, untuk sahur dan buka kami masak dan makan bersama. Sesekali juga aku diajak tidur di rumah mereka. Hal yang paling aku ingat adalah sore sepulang kerja kami ke kebun mencari kelapa muda, membawanya ke GOR kota dan buka bersama di sana. Sebenarnya banyak penjual makanan untuk berbuka, tapi kami memilih untuk membawa sendiri dari kebun. Adapun orang yang lewat hanya senyum memandang tingkah kami yang sok cuek.. hehehe J




Niru, 2013

Setahun kemudian, aku pindah lokasi kerja di Kantor Pusat Operasional (KPO Niru). Sebagai pusat operasional, tentu saja aku mesti sering keliling 3 kantor wilayah yang membawahi areal di 6 kabupaten.
Ku atur ritme kerja supaya pekerjaan bisa berjalan tanpa mengganggu puasa ku. Sering kali pulang dari lokasi menjelang buka puasa. Oleh karena itu segera aku mandi dan pergi ke masjid kantor karena setiap hari ada buka puasa bersama. Di sana aku mulai mengenal lebih banyak ragam makanan khas daerah seperti pempek, tekwan dsb. Yang paling aku suka tentu saja Pempek Kapal Selam. Pernah suatu hari, saat buka puasa makan 2 porsi PKS, paginya ga sahur karena masih kenyang. hehe
Ramadhan tahun ini terasa lebih capek karena mesti lebih banyak keliling lokasi, meskipun demikian, fasilitas ibadah dll relatif lebih baik dari sebelumnya. Alhamdulillah, beguyuuuur


Prabumulih, 2014

Hari pertama masuk kerja pascalebaran, kuputuskan untuk tinggal kost di kota Prabumulih. Banyak yang menyayangkan kenapa mesti kost, tidak di mes lagi. Kenapa buang uang untuk sesuatu yang tidak perlu ? jawaban ku sederhana, aku mau nikah. Jadi perlu persiapan, perlu latihan gitu biar ga kaget nantinya. Yang bikin senyum kecut itu kalo ada kawan yang nanya, “Emang calonnya sudah ada ?” ah, itu urusan Allah SWT, aku Cuma bisa buat rencana J
Kegiatan Tarbawi ku yang dulu pernah berhenti, kini jalan lagi. Alhamdulillah dari sana lah pertolongan Allah muncul. Melalui seorang ustadz, aku dikenalkan dengan seorang gadis dari kota minyak ini. Cukup 2 minggu, aku mantap untuk melamarnya. Jadi ramadhan pertama di kota ini, aku sudah ditemani bidadari J
Ramadhan ini aku benar2 mendapatkan banyak berkah, keluarga baru, saudara baru di jalan Tarbiyah dan masih banyak lagi yang tentunya ak bisa ku uraikan sau persatu. Alhamdulillah



Prabumulih, 2015

4 Juni 2015,hadir di tengah2 keluarga kami. Seorang putri cantik yang Allah SWT kirimkan. Seperti kado pernikahan pertama kami.
Meskipun penuh dengan kekurangan, aku dan istriku selalu berusaha member yang terbaik untuk bidadari kecil itu. Kami pun mulai mengerti pengorbanan orang tua untuk kami. Meskipun kami tau tak akan mampu membayar pengorbanan mereka.
Ramadhan ini, ada tangisan bidadari kecil, ada tawa lebih karena melihat polah lucu sang bidadari. Bidadari kecil itu yang telah memberikan warna kehidupan kami menjadi lebih lengkap. Semoga kamibisa membimbing mu menjadi bidadari dunia akhirat,
aamiin

Jumat, 19 Juni 2015

Pesan Singkat Pagi Ini



Bidadari ku
Sama seperti hari-hari biasanya, setelah acara olahraga pagi di salah satu stasiun televisi swasta, saya berkemas menuju kantor. Masih terbayang sms semalam dari orang asing yang sebentar lagi menjadi bagian dari hidup ku, insyaALLAH…

Tak terasa langkah kaki ku sudah sampai di jalan utama kota ini. Di pinggir jalan, bus kantor sudah menunggu, sedangkan ada beberapa kawan kerja yang asyik diskusi di belakang bus sambil memegang koran terbitan setiap hari. 

Tak seperti biasanya, aku langsung masuk ke bus dan duduk  di bangku paling belakang. Sengaja ku pilih di sana karena bisa leluasa baca koran  yang ku beli pagi ini. Dan tentu saja bisa ku baca-baca  lagi sms semalam yang dikirim oleh si dia, orang asing tersebut.

“Dengan niatan yang sama, mengharap ridho Allah SWT saya juga memiliki rencana yang sama dengan Mas. Saya terima niat baik Mas untuk membangun rumah tangga”

Pesan singkat itu tak sesingkat kesannya, berulang kali aku baca pesan itu. Tak pernah bosan rasanya. Justru semakin aku baca semakin sadar begitu banyak nikmat ALLAH SWT yang tercurah pada ku. Jujur aku merasa begitu malu dengan semua nikmat itu sedang aku jarang sekali bersyukur.

Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, memikirkan semua yang telah ku lalui. Sungguh begitu singkat proses  yang ku jalani. Tak kurang dari 2 minggu sudah ku jalani. Hingga tadi malam ku sampaikan niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sudah tak ada lagi alasan untuk menunda. Sudah tak ada lagi alasan untuk menghindar. Kini semua kuserahkan pada MU ya Robb…..

Bimbinglah setiap proses ini…
Jagalah niat kami, luruskan karena mengharap ridho MU
Jadikan kami tergolong dalam orang-orang ahli syukur atas semua karunia MU
Mudahkanlah langkah-langkah kami…
Kekalkan ikatan di antara kami
Jadikan rumah tangga kami adalah sebagian dari rumah tangga peradaban penuh cahaya MU
Jadikan kami pengantin dunia akhirat… istiqomah di jalanMU
Aamiin

Menguatkan kembali mengasah minat menulis J
Teruntuk calon permaisuri ku, jadilah penyeuk mata dan hati ku J


NIRU, 09052014

Selasa, 28 April 2015

Sekeping Doa untuk Pejuang Bumi Anbiya


Ku ayunkan langkah kaki, menuju terminal pasar kota minyak ini. Tak lupa ku perhatikan sekeliling ku. Sudah banyak aktivitas masyarakat setelah sholat subuh. Jual beli di pasar sudah ramai, tukang ojek lalu lalang mengantarkan langganannya, ada juga abang angkot membungkus dan menata barang-barang yang akan ia bawa.

Sesampainya di bis, ku pilih tempat duduk paling depan. Ya itu posisi favorit ku. Pemandangan yang lega tanpa terhalang, dan tentu saja ruang gerak kaki lebih lega dibandingkan kursi lain. Selagi bus menunggu penumpang lain, ku buka hp dan mencari berita. Setiap pagi aku selalu membuka laman berita untuk menambah pengetahuan dan apa-apa yang sedang terjadi.

Sepintas ada berita yang sangat menarik perhatian ku. Kabar tentang palestina. Sejak sekolah aku selalu mengikuti perkembangan beritanya.

Pagi ini ada kabar gembira dan duka sekaligus. Kabar gembiranya adalah parlemen mahasiswa di tepi barat di menangkan oleh gerakan mahasiswa yang berafiliasi ke hamas. Kita sudah tau siapa itu HAMAS, dan apa yang mereka perjuangkan.

Bagi ku, HAMAS adalah pahlawan, bukan saja untuk masyarakat palestina. Ia adalah symbol kekuatan dan semangat untuk mempertahankan bumi nabi yang kini dijajah oleh zionis laknatullah. Dengan orientasi perjuangannya itu lah akhirnya masyarakat palestin mengerti dan mempercayai hamas.

Dalam berita pagi ini, rupanya kancah perpolitikan mahasiswa juga tidak kalah penting. Mahasiswa yang notabene calon generasi mendatang, tulang punggung bangsa juga sudah mulai mengerti akan arti hamas. Oleh karena itulah pemilihan anggota dewan mahasiswa mencerminkan sikap generasi muda terpelajar palestina. Gerakan mahasiswa pro hamas memenangkan pemilihan raya mahasiswa.

Itu artinya hamas memiliki masa depan yang cerah. Masyarakat semakin banyak mendukungnya. Gerakan perlawanan terhadap zionis penjajah makin massif. Berarti pembebeasan palestina seutuhnya semakin terang. Bukan saja dari segi perlawanan kontak senjata yang dilakukan oleh pejuang Brigadir Al Qossam saja, dukungan mahasiswa semakin massif.

Sedangkan kabar sedih datang dari penangkapan aktivis mahasiswa prohamas. Banyak kasus penculikan untuk meredam semangat mahasiswa untuk membebaskan bumi palestin dari penjajahan zionis. Itulah cara curang yang dilakukan oleh musuh. Menculik bahkan membunuh. Meskipun demikian, aku tetap percaya akan semangat para mahasiswa palestina. Pergerakan atas dasar pemahaman dan semangat karena menjaga bumi para nabi, insyaALLAH bereka bersama tentara langit yang tak tampak kasat mata.


Hanya sekeping doa yang bisa aku panjatkan.

Bersama mengalir air mata ku, ku doakan kalian selalu dalam lindunganNYA
Menjaga bumi anbiya, meski nyawa taruhannya
Saudara ku, sejatinya kita adalah Satu
Kalian selalu ada dalam setiap doa2ku
Semoga kalian selalu kuat
Berjuang dengan penuh semangat
Karena tujuan kita adalah akhirat
Maka langkah2 mu kian kuat
Saudara2 ku
Aku di sini bukan berarti berdiam diri
Ku beritakan tujuan mulia mu ke segala penjuru negeri
Hingga mereka mengerti
Singa2 allah penjaga bumi anbiya
Semoga kalian temui cita2 mulia
Bebaskan bumi palestina atau syahid menjadi syuhada


 Prabumulih, 28042015

Episode Ukhuwah Berdering


Jam di komputer sudah menunjukkan pukul 12 malam, sementara monitor itu tampak penuh dengan desain kartu identitas peserta seminar. Besok pagi acara seminar nasional hari kehutanan akan diadakan di kampus. Oleh karena itu persiapan terus dilakukan semua panitia. Dan aku, mendapat tugas mempersiapkan : ID Card peserta dan sertifikat. insyaALLAH setengah jam lagi selesai semua.

Kriiiing…… Kring….

Hp jadul ku bernyanyi, tanda ada panggilan masuk. Tampak sebuah nama dari layar hp kecil itu. Nama seorang sahabat yang sangat aku kenal sejak kepindahan ku di kota pelajar ini. Resa namanya, sebagai ketua pelaksana kegiatan seinar besok ia terus memantau progress persiapan acara.

“Halo, assalamualaikum akh, belum istirahat ya” sapa akh Resa

“Waalaikumussalam, belum. Ini sebentar lagi. Tinggal print ID Card peserta. Sertifikatnya Alhamdulillah sudah selesai” jawab ku

“Gimana, antum dah beli hp apa belum ? Kalo antum susah dihubungi itu gawat namanya. Kita perlu banyak komunikasi akh”. Tiba-tiba akh Resa membahas hp.

Seminggu ini hp ku macet. Alat komunikasi ku memang terbilang sudah jadul. Hampir 3 tahun sudah selalu menemani ke mana pun kaki ini melangkah. Aku membelinya waktu masih duduk di bangku SMA. Batere yang sudah usang ditambah lagi masalah pengisian daya hp membuat ku sering memilih untuk mematikan hp. Rupanya banyak kawan seperjuangan terganggu, sulit menghubungi ku. Mungkin juga karena itu akh Resa tiba-tiba menanyakan perihal hp.

“Hehe…. Afwan akh kalo seminggu ini ana susah dihubungi, maklumlah hp jadul. Sayang mau ganti soalnya banyak kenangannya ini” jawab ku sambil tertawa kecil.

“Gini aja, ana ada hp tapi model jadul. Ya lumayan lah bisa telpon dan sms. Kalo antum tidak keberatan, ana pinjami” akh Resa mencoba memberikan solusi.

“Alhamdulillah, semoga niat baik antum mendapat pahala akh. Ana bukan menolak. Alhamdulillah, sore tadi ana dapat rizki. Ana belikan hp baru akh. Jadi komunikasi tetap jalan dan antum ga perlu repot-repot minjami hp” jawab ku

Sore tadi, aku mengumpulkan uang hasil penjualan. Setahun sudah aku latihan berwirausaha. Aku berjualan roti donat. Ada 5 kontrakan dan beberapa warung langganan ku. Alhamdulillah aku belajar mandiri, belajar mengelola uang dll. Untung penjualan selama seminggu ini aku sisihkan untuk membeli hp, dan sisanya aku tabung untuk hari nanti.

“Alhamdulillah kalo gitu. Jaga kesehatan akh, jangan lupa besok pagi kita datang lebih awal ya. Semoga lancar agendanya. Wassalamualaikum” tutup akh Resa.

“Waalaikumussalam…………”

Sejenak ku alihkan pandangan dari monitor komputer. Ku pandangi semua yang ada di dalam kamar kost ku. Rak dengan buku kuliah dan semua bacaan, kasur dan print out sertifikat serta ID Card peserta seminar besok pagi.

Sambil ku ingat kembali saudara-saudara yang pernah ku jumpai di jalan dakwah ini. Begitu besar perhatian mereka kepada saudaranya yang lain. Berusaha menjadi yang paling dekat, paling mengerti, dan pertama membantu setiap permasalahan. Sungguh begitu indah persaudaraan ini. Ia tak membedakan usia, program studi, bahkan suku asal daerah.

Ku rebahkan badan di atas kasur. Ku pandang langit-langit. Ku bayangkan begitu besar perhatian orang-orang yang ada di jamaah dakwah ini. Bisa jadi, dakwah ini terus bertahan karena ikhlas mengharap ridho Allah AWT. Begitu juga dengan pengeraknya, tetap solid dalam kerja-kerja amal, karena mereka saling menopang, saling melengkapi, dan saling menguatkan.

Semoga kita semua selalu dikuatkan dalam jalan ini, bersama dakwah selalu dan selamanya.
 Dari sebuah kamar kost kecil di kota pelajar ini, ukhuawah kami terus berdering.


Yogyakarta 17 Mei 2009

Kamis, 23 April 2015

Bumi Allah itu Luas Akhi…..


Jam tangan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku dan delapan orang lain berkumpul di sudut masjid kampus. Kami berkumpul rutin setiap pekan. Aku tahu, semua yang hadir mahasiswa-mahasiswa sibuk. Skripsi, bimbingan studi, organisasi, hingga bisnis. Meskipun demikian, tak tampak sedikitpun kelelahan dari wajah-wajah saudara ku di lingkaran cinta ini.

Sudah 3 jam lebih kami duduk dalam formasi melingkar. Semua aktivitas rutin kami seperti membaca Al Quran, tausiyah, infak rutin, dan materi pekanan sudah selesai. Tinggal acara penutup. Adalah laporan kondisi dari masing-masing kami, tentang perkembangan dakwah, amanah yang sedang diemban, juga progress studi hingga kondisi keluarga. Lama juga aku absen dari forum pekanan ini, kurang lebih 10 minggu karena ada urusan studi di timur nusantara ini.

Giliran ku pun tiba. Aku sampaikan kondisi kesehatan dan keluarga. Alhamdulillah semua sehat, meski masih tersisa rasa lelah perjalanan. Tak lupa juga ku sampaikan program praktek lapangan ku juga sudah selesai, dan hanya tinggal menyerahkan saja laporannya. Tentu saja hal ku sampaikan hal yang paling mengganjal dalam benak ku selama dalam masa studi lapangan kemarin.

Afwan mas, ana baru nyadar seolah-olah salah memilih program studi” kata ku.
“Kok bisa begitu de ? ” Tanya mas ku, ustadz yang sudah 1 tahun bersama ku dalam lingkaran dakwah.

Rupanya pernyataan ku membuat semua teman-teman merasa heran.

“Kenapa akh, tenang, bisa kita bahas kan ?” tanya seorang teman dari Fakultas Hukum.

Ana baru baru pulang praktek, jurusan ana mengharuskan kami praktek di daerah pedalaman. Di sana jauh aksesnya dari kota, hingga selama praktek ana ga pernah liqo ataupun menghubungi saudara kita di sana” mulailah cerita kegundahan ku.

Sambil ku perhatikan satu persatu wajah saudaraku. Serius,dan menatap tajam tajam ke arah ku.

“Lingkungannya sungguh jauh dari kata kondusif, pergaulan hingga pekerjaan sangat sulit menjaga sholat. Apa lagi sholat jumat kami harus menempuh perjalanan yang jauh. Tak seorang pun yang mengerti tentang agama, tak ada ikhwah satupun Ibadah yaumiyah juga sulit !! Berbeda dengan kita di sini.. Ana futur mas”

Ku sampaikan semua kekhawatiran bila ternyata semua tempat pekerjaan bidang ku seperti itu. Rasanya berat sekali bisa bertahan dalam lingkungan seperti itu. Tanpa terasa air mata ini mengalir, berat sekali meneruskan cerita ku.

Dengan wajah serius dan senyum penyemangat mereka memandangku, sedang di samping ku sambil memeluk ku erat mencoba menguatkan ku. Ini lah ukhuwah yang membuatku selalu rindu dengan forum pekanan ini, orang-orang dalam jamaah dakwah ini dan agenda-agenda dakwah ini.

Ana berat kalo nantinya bekerja di tempat seperti itu. Semuanya sungguh berbeda, bertolak belakang dengan lingkungan kita di kampus. Bagaimana nantinya kalo sudah saatnya menikah, berkeluarga. Apa jadinya keluarga ku nanti mas”

Terkenang selama ini bersama orang-orang yang berusaha menjadi baik. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam lingkungan yang baik saja kadang masih sulit. Apalagi kalo lingkungannya segitu kacaunya. Berat rasanya ku teruskan cerita ku. Aku hanya bisa menunduk, tak kuasa lagi ku pandangi wajah-wajah teduh saudara ku. Ari mata ku tak terasa mengair di kedua pipi ku.

“Sudah berapa lama adik ber-Tarbiyah, sudah lama bukan?” Tanya mas ku

Aku tak bisa mengeluarkan kata2 lagi, hanya anggukan saja yang bisa mengisyaratkan aku sudah lama dalam jamaah ini. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah mengenal jamaah dakwah ini.

”Adik sudah berazzam menjadi kader dakwah bukan ?” kembali mas ku bertanya
Kembali hanya bisa ku anggukan kepala.

Allhamdulillah, semoga kita semua di sini selalu berazzam untuk menjadi kader dakwah, tentu saja yang produktif dan siap ditempatkan di mana saja kami nanti berada. Kita ingat perjuangan Nabi Muhammad SAW. Pertentangan masyarakat Mekah saat itu begitu besar. Namun karena lillah, Allah SWT kuatkan dalam dakwahnya hingga kini banyak manusia mendapatkan hidayah, mengerti keagungan Islam. Ia hadir menjadi cahaya di tengah kegelapan, dan semua kesulitan itu akan menjadi saksi perjuangan kita di akhirat nanti. Dan antum sekarang, mungkin itu lah jalan yang akan menghantarkan kita pada cita-cita mulia itu……”

 “Aamiin mas, semoga kita semua terus istiqomah dalam jalan Allah SWT”

Doa robithoh menutup pertemuan kami. Khusyuk melantunkan dan mengamini setiap untaian doa di sana. Berharap diteguhkan hati kami dalam naungan cintaNYA. Mengingatkan hakikat pertemuan ini dalam bingkai ketaatan padaNYA. Dan juga berjuang bersama di jalanNYA. Berharap suatu saat nanti Islam kembali menaungi semua aspek kehidupan di dunia ini. 

Setelah itu aku bewudhu untuk sholat malam dan berdoa padaNYA untuk dikuatkan dalam barisan dakwah ini…
Kuatkan lah ikatannya
Kekalkan lah cintanya
Tunjuki lah jalannya
Terangilah dengan cahayauMU
Yang takkan pernah padam

Ya robb, bimbinglah kami