“Kita
berangkat pagi ya …..” Kata bos ku pagi itu.
“Siap
komandan !!” jawab kami serempak
Seminggu
sudah kami melakukan survey rencana perbaikan jalan. Keputusan pimpinan untuk
membuka akses jalan pengamanan areal mengharuskan kami bekerja lebih cepat. Mulai
dari meeting besar untuk menentukan
rencana kerja hingga pada tahap evaluasi rencana. Kesimpulan kami adalah bahwa sebagian
besar jalan harus diperbaiki.
Hari
terakhir kami, berada pada kabupaten di ujung propinsi. Tidak kurang dari 300
km jauhnya perjalanan kami dengan kemungkinan masalah jalan rusak sampai pohon
tumbang ditengah jalan. “Bismillah, semoga lancar………………..”
Sepintas
kondisi jalannya seragam. Ada bagian yang masih baik lengkap dengan batuan
pengeras jalannya, namun banyak juga titik-titik jalan rusak. Dari kerusakan
dengan kategori ringan hingga berat. Ada juga beberapa ruas jalan yang
tergenang air. Lama aku tidak melewatinya. Kurang lebih 2 tahun. Aku masih
ingat, bersama tim estimasi asset selalu lewat jalan ini. Pernah juga memancing
seharian hingga sekadar makan saja. Ah, sudah lah. Itu kenangan masa lalu.
Ku
pandang kanan dan kiri jalan, rupanya masih banyak juga tanaman bagus di sini.
Mungkin ada rencana kegiatan tebangan tahun 2015 di sini. Semoga banyak kayu
yang dihasilkan. Setiap lokasi jalan rusak, aku tandai dengan GPS. Nantinya
data GPS tersebut akan dibaca komputer dan selanjutnya dimasukkan ke program
pemetaan.
Agenda
survey selesai hari ini jam 3 sore. 3 jam perjalanan normal baru sampai di
kantor. Dan sekitar satu jam berikutnya baru sampai rumah. Sesekali pulang
malam karena kerjaan ga apalah. Yang penting kerjaan selesai, toh juga besok
libur
Dalam perjalanan pulang, ku lihat hasil
kerjaan hari ini di layar GPS sembari menghitung seberapa jauh dengan posisi
kantor camp di areal.
“Tinggal
4 km lagi, setelah itu jalannya bagus”
“Iya
semoga saja seperti itu de”
Belum
sampai 5 menit dari percakapan itu, tiba2 kendaraan kami terperosok. Driver
kami mencoba sekuat tenaga hingga akhirnya menyerah. Kami keluar kendaraan
untuk melihat kondisi di sekitar kami. Dalam juga rupanya lumpur yang kami
injak. Aku hampir kehilangan
keseimbangan dan terjatuh karena lumpur itu. Begitu juga dengan kawan2 lainnya.
Akupun
hanya bisa perpikir “Ya allah, separah ini kah kondisinya ? apa bisa kami
lewati dan segera keluar ? atau jangan-jangan sepanjang jalan di depan rusak
seperti ini ??“ banyak pertanyaan yang muncul dam benak ku hinggai pada dua
pertanyaan terakhir, “apakah bermalam di sini, atau tertolong dan bermalam di
kantor wilayah ?”
Alhamdulillah
kami membawa sling besi untuk menarik. Ada harapan. Asalkan bisa memasang tempat
kaitan sling yang terbenam di dalam lumpur, dan menggali tanah untuk roda
kendaraan pasti bisa teratasi. Ternyata tak semudah itu, lumpur itu lengket,
tanah di bawahnya keras sedangkan kami hanya menggunakan tangan secara manual.
Meskipun demikian, kami tetap berusaha hingga sekitar satu jam lebih. Usaha
kami membuahkan hasil. Perlahan kendaraan kami bisa ditarik oleh mobil
rombongan lainnya. Kami hasrus lebih berhati-hati karena waktu sudah sore,
suasana makin gelap. BBM kian menipis sedangkan di sini susah sinyal HP.
Kami
mencari kayu untuk menutup alur jalan yang berlumpur dengan harapan kedaraan
kami berhasil melewati jalan rusak tersebut. Ada yang memotong batang pohon,
ada juga yang memungut ranting-ranting kecil. Mobil ke dua mencoba untuk
berjalan terlebih dahulu. Semuapun berharap mobil itu berhasil melewatinya.
“Braaaak….. nguuuungg……” setelah sampai di
tengah-tengah areal jalan rusak, rupanya mobil kami kembali terperosok. Kali
ini jauh lebih parah. Lumpur dan airnya lebih dalam, sling penghubung kendaraan
juga tidak sampai menjangkau mobil. Asap hitam pekat muncul semakin banyak. Semakin
banyak usaha driver untuk bisa lolos, makin banyak asap yang keluar dari
kendaraan itu. Nah, positif ini pasti malam sampai rumah apa malah tidur di
lapangan.
Akhirnya
kami menyerah. Semua hanya bisa tertunduk. Tak tampak sedikitpun senyum dari
wajah kami. Ada yang duduk, ada yang sudah bersiap membuat tenda, ada juga yang
menyalakan musik dari kendaraan, sedangkan aku terus mencoba menghubungi
kantor. Meskipun banyak yang mengatahakan itu tak ada gunanya, aku terus
mencoba. Menelpon, mengirim pesan. Sampai kontak internet. Bagi kita manusia
mungkin sudah menyerah, tapi bagi ku masih ada yang Maha Penolong.
Hingga
waktu masuk maghrib, saat yang lain santai menunggu bantuan yang mungkin besok baru datang. Aku cari sumber air untuk berwudu dan menjalankan sholat maghrib di
pinggir jalan. Selesai dari sholat maghrib aku hanya bisa berdoa, “Ya allah,
segera datangkan pada kami pertolonganMU”
Selesai
melipat jaket lapangan yang aku jadikan sajadah, hp ku berbunyi. Itu tanda
panggilan masuk. Segera ku jawab panggilan itu, rupanya ada panggilan dari
kantor unit terdekat. Setelah tim dari kantor unit paham lokasi kami, segera
mereka bergegas menuju lokasi kami dengan menggunakan alat berat. Semua pun
gembira, saking senangnya semua langsung berwudu dan sholat berjamaah.
Subhanallah, kesulitan ini menjadikan kami semakin dekat denganMU ya Robb.
Setengah
jam kemudian muncul cahaya dari ujung jalan, perlahan terdengar suara mesin
alat berat. Alhamdulillah, benar adanya. Alat kiriman dari kantor unit sudah
sampai. Tanpa banyak bicara, kami langsung bergerak saling membantu. Alat
pembuat jalan itu langsung membuang lumpur jalan dan menghaluskan permukaan
jalan, sesampainya di dekat mobil, dikaitkanlah sebuat sling baca ke mobil kami
dan perlahan menariknya. Tepat pukul tujuh malam semua kendaraan berhasil
dievakuasi. Semua tim gembira karena bisa lepas dari lumpur.
Hikmah
dari peristiwa ini adalah selalu berbaik sangka. Berusaha dan Allah SWT yang
akan menolong kita. Adapun setiap kesulitan yang kita hadapi, jika ikhlas
karenaNYa makan akan menjadi warna tersendiri dalam setiap langkah kehidupan
kita







0 komentar:
Posting Komentar