Kamis, 23 April 2015

Pertolongan Allah SWT Itu Dekat


“Kita berangkat pagi ya …..” Kata bos ku pagi itu.

“Siap komandan !!” jawab kami serempak

Seminggu sudah kami melakukan survey rencana perbaikan jalan. Keputusan pimpinan untuk membuka akses jalan pengamanan areal mengharuskan kami bekerja lebih cepat. Mulai dari meeting besar untuk menentukan rencana kerja hingga pada tahap evaluasi rencana. Kesimpulan kami adalah bahwa sebagian besar jalan harus diperbaiki.

Hari terakhir kami, berada pada kabupaten di ujung propinsi. Tidak kurang dari 300 km jauhnya perjalanan kami dengan kemungkinan masalah jalan rusak sampai pohon tumbang ditengah jalan. “Bismillah, semoga lancar………………..”

Sepintas kondisi jalannya seragam. Ada bagian yang masih baik lengkap dengan batuan pengeras jalannya, namun banyak juga titik-titik jalan rusak. Dari kerusakan dengan kategori ringan hingga berat. Ada juga beberapa ruas jalan yang tergenang air. Lama aku tidak melewatinya. Kurang lebih 2 tahun. Aku masih ingat, bersama tim estimasi asset selalu lewat jalan ini. Pernah juga memancing seharian hingga sekadar makan saja. Ah, sudah lah. Itu kenangan masa lalu.

Ku pandang kanan dan kiri jalan, rupanya masih banyak juga tanaman bagus di sini. Mungkin ada rencana kegiatan tebangan tahun 2015 di sini. Semoga banyak kayu yang dihasilkan. Setiap lokasi jalan rusak, aku tandai dengan GPS. Nantinya data GPS tersebut akan dibaca komputer dan selanjutnya dimasukkan ke program pemetaan.

Agenda survey selesai hari ini jam 3 sore. 3 jam perjalanan normal baru sampai di kantor. Dan sekitar satu jam berikutnya baru sampai rumah. Sesekali pulang malam karena kerjaan ga apalah. Yang penting kerjaan selesai, toh juga besok libur

Dalam perjalanan pulang, ku lihat hasil kerjaan hari ini di layar GPS sembari menghitung seberapa jauh dengan posisi kantor camp di areal.

“Tinggal 4 km lagi, setelah itu jalannya bagus”
“Iya semoga saja seperti itu de”

Belum sampai 5 menit dari percakapan itu, tiba2 kendaraan kami terperosok. Driver kami mencoba sekuat tenaga hingga akhirnya menyerah. Kami keluar kendaraan untuk melihat kondisi di sekitar kami. Dalam juga rupanya lumpur yang kami injak.  Aku hampir kehilangan keseimbangan dan terjatuh karena lumpur itu. Begitu juga dengan kawan2 lainnya.

Akupun hanya bisa perpikir “Ya allah, separah ini kah kondisinya ? apa bisa kami lewati dan segera keluar ? atau jangan-jangan sepanjang jalan di depan rusak seperti ini ??“ banyak pertanyaan yang muncul dam benak ku hinggai pada dua pertanyaan terakhir, “apakah bermalam di sini, atau tertolong dan bermalam di kantor wilayah ?”

Alhamdulillah kami membawa sling besi untuk menarik. Ada harapan. Asalkan bisa memasang tempat kaitan sling yang terbenam di dalam lumpur, dan menggali tanah untuk roda kendaraan pasti bisa teratasi. Ternyata tak semudah itu, lumpur itu lengket, tanah di bawahnya keras sedangkan kami hanya menggunakan tangan secara manual. Meskipun demikian, kami tetap berusaha hingga sekitar satu jam lebih. Usaha kami membuahkan hasil. Perlahan kendaraan kami bisa ditarik oleh mobil rombongan lainnya. Kami hasrus lebih berhati-hati karena waktu sudah sore, suasana makin gelap. BBM kian menipis sedangkan di sini susah sinyal HP.

Kami mencari kayu untuk menutup alur jalan yang berlumpur dengan harapan kedaraan kami berhasil melewati jalan rusak tersebut. Ada yang memotong batang pohon, ada juga yang memungut ranting-ranting kecil. Mobil ke dua mencoba untuk berjalan terlebih dahulu. Semuapun berharap mobil itu berhasil melewatinya.

 “Braaaak….. nguuuungg……” setelah sampai di tengah-tengah areal jalan rusak, rupanya mobil kami kembali terperosok. Kali ini jauh lebih parah. Lumpur dan airnya lebih dalam, sling penghubung kendaraan juga tidak sampai menjangkau mobil. Asap hitam pekat muncul semakin banyak. Semakin banyak usaha driver untuk bisa lolos, makin banyak asap yang keluar dari kendaraan itu. Nah, positif ini pasti malam sampai rumah apa malah tidur di lapangan.

Akhirnya kami menyerah. Semua hanya bisa tertunduk. Tak tampak sedikitpun senyum dari wajah kami. Ada yang duduk, ada yang sudah bersiap membuat tenda, ada juga yang menyalakan musik dari kendaraan, sedangkan aku terus mencoba menghubungi kantor. Meskipun banyak yang mengatahakan itu tak ada gunanya, aku terus mencoba. Menelpon, mengirim pesan. Sampai kontak internet. Bagi kita manusia mungkin sudah menyerah, tapi bagi ku masih ada yang Maha Penolong.

Hingga waktu masuk maghrib, saat yang lain santai menunggu bantuan yang mungkin besok baru datang. Aku cari sumber air untuk berwudu dan menjalankan sholat maghrib di pinggir jalan. Selesai dari sholat maghrib aku hanya bisa berdoa, “Ya allah, segera datangkan pada kami pertolonganMU”

Selesai melipat jaket lapangan yang aku jadikan sajadah, hp ku berbunyi. Itu tanda panggilan masuk. Segera ku jawab panggilan itu, rupanya ada panggilan dari kantor unit terdekat. Setelah tim dari kantor unit paham lokasi kami, segera mereka bergegas menuju lokasi kami dengan menggunakan alat berat. Semua pun gembira, saking senangnya semua langsung berwudu dan sholat berjamaah. Subhanallah, kesulitan ini menjadikan kami semakin dekat denganMU ya Robb.

Setengah jam kemudian muncul cahaya dari ujung jalan, perlahan terdengar suara mesin alat berat. Alhamdulillah, benar adanya. Alat kiriman dari kantor unit sudah sampai. Tanpa banyak bicara, kami langsung bergerak saling membantu. Alat pembuat jalan itu langsung membuang lumpur jalan dan menghaluskan permukaan jalan, sesampainya di dekat mobil, dikaitkanlah sebuat sling baca ke mobil kami dan perlahan menariknya. Tepat pukul tujuh malam semua kendaraan berhasil dievakuasi. Semua tim gembira karena bisa lepas dari lumpur.

Hikmah dari peristiwa ini adalah selalu berbaik sangka. Berusaha dan Allah SWT yang akan menolong kita. Adapun setiap kesulitan yang kita hadapi, jika ikhlas karenaNYa makan akan menjadi warna tersendiri dalam setiap langkah kehidupan kita

0 komentar:

Posting Komentar