wrrt by Hamizan
Abqari
Pagi itu, jarum jam menunjukkan tepat
pukul 06.00. Semua orang sibuk mempersiapkan aktivitas keseharian mereka. Di
ujung jalan, dari sebuah rumah sederhana, terdengar seorang anak kecil
menyanyikan lagu Sakitnya
Tuh Di Sini. Usianya baru lima tahun. Tetapi ia
hafal dan sangat fasih menirukan lagu yang biasa diputar tiap pagi oleh orang
tuanya.
Dari gambaran di atas, semestinya
seorang anak tidak seperti itu. Seusia anak 5 tahun yang masih duduk di bangku
TK mestinya diajarkan hal-hal yang positif, karena masa-masa tersebut dalam
fase meniru dan mengikuti. Maka sangat berbahaya jika apa yang dilihat dan
didengarkannya sesuatu yang mungkar dan tidak ada manfaat sama sekali. Karena
untuk menjadi anak yang sholeh, doa dari orang tua saja tidak cukup namun dari
semua yang dilihat maupun didengar anak harus dijadikan idola maupun teladan
yang baik sehingga anak menirukan atau mengikuti hal-hal yang positif bagi
kehidupannya.
Seharusnya yang diberikan pertama kali
kepada anak adalah kalimat tauhid. Kalimat itulah yang harus diulang-ulang
kepada anak hingga fasih, dengan cara mendikte dan anak menirukan terus menerus
dengan mendasari keimanan kepada anak-anak kita.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
Imam Hakim, Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya untuk mengajarkan
kalimat La
ilaaha illallah kepada anak-anak sejak dini. Ibnu Qayim
dalam Ahkamul
Maulud menegaskan, pada saat anak-anak mulai
belajar bicara, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendiktekan kepada
mereka kalimat La
ilaaha illallah. Maka, dengan kalimat tersebut ita
dapat menjelaskan kepada anak bahwasanya Allah maha pencipta, Allah maha
pemberi, Allah yang mengatur semua yang ada di alam ini, Allah mendengarkan
semua ucapan manusia, mengawasi gerak gerik manusia dan Allah bersama hamba-Nya
di mana pun berada.
Sungguh sekiranya semua manusia
mengetahui dan yakin betapa besarnya kalimat tauhid yang diperintahkan oleh
Rasulullah SAW, niscaya orang tua akan mewajibkan dirinya mendiktekan dan
mengajarkan kalimat Tauhid yang mempunyai makna terdalam dan terbesar jika
disertai keimanan dalam hati, sehingga dalam mengajarkan kepada anak juga
disertai pengamalan-pengamalan dari yang terkecil, misalnya:
1.
Belajar mensyukuri nikmat yang telah diberikan
2.
Pengenalan tokoh-tokoh yang agung dalam
Islam
3.
Pengajaran etika/berperilaku terhadap
orang lain
4.
Pengajaran akan tanggungjawab anak
terhadap Rabb-Nya, kita bisa mengajaknya shalat ke masjid
5.
Mengembangkan rasa percaya diri dan
tanggung jawab dalam diri anak
Doa orang tua mempunyai peranan penting
sekali dalam pendidikan anak, bahkan dalam urusan kehidupan, dan hanya Allah
‘Azza wa Jalla yang memberikan taufiq dan hidayah. Orang tua mungkin telah
berusaha maksimal mungkin dalam mendidik anaknya supaya menjadi anak shaleh
tetapi tidak berhasil. Sebaliknya, ada anak shaleh sekalipun terdidik di tengah
lingkungan yang menyimpang dan jelek bahkan mungkin dibesarkan tanpa mendapat
perhatian pendidikan dari kedua orangtua jadi, petunjuk itu semata-mata dari Allah.
Dialah yang berfirman:
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ
يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَأَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…” (QS. Al Qashash:56).
Maka kita sebagai orang tua tidak boleh
melupakan aspek ini dan wajib memohon dan berdo’a kepada Allah semoga berkenan
menjadikan kita dan anak keturunan kita orang-orang yang shaleh. Hanya Dialah
yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan upayakan kalimat Tauhid
sudah tertancap di hati anak sejak dini dan diiringi dengan pengamalan sesuai
ajaran islam yang benar.
Sungguh, amat berbeda jauh dengan apa
yang dilakukan para sahabat Nabi terhadap anak-anak mereka. Mereka tidak saja
mengajarkan kalimat tauhid tetapi juga olahraga yang diperintahkan Rasulullah
SAW, yaitu: memanah dan menunggang kuda. Para sahabat mengenalkan situasi dan
kondisi pada saat berperang di medan jihad.
Wallahu a’lam.







0 komentar:
Posting Komentar