wrt by Ale Ikhwan Jumali
“Wahai Bilal,
Istirahatkan kami dengan shalat!”
Shalat adalah ibadah
yang membangkitkan jiwa, menjadi tiangnya agama, dan pilihan utama untuk
mengistirahatkan diri kita saat beban begitu menggunung banyaknya.
Pokok segala urusan
adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah
(Al Hadits). Maka tidak cukup aktifitas kita hanya terhenti di dalam masjid
saja, pada liqoat pekanan kita, pada kajian tatsqif rutin kita, pada kajian
tahsin dan tafsir kita. Tidak! Kita harus segera berbenah memperbaiki diri dan
menyeru orang lain menuju cahaya Illahi.
Lantas, bagaimana
aktifitas dakwah kita hari ini?
Sudahkah merasa lelah
dan ingin berhenti?
Sudahkah merasa kecewa
dan ingin mencari jamaah lainnya?
Jika hari ini kita belum
merasakan lelah yang berpayah, Ust Cahyadi Takaryawan justru mengkhawatirkan
itu bersebab karena kita belum melakukan apa-apa di dalam dakwah ini. Kok
bisa-bisanya, dengan agenda dan urusan keummatan yang sebanyak ini belum
menjadikan kita berlelah payah? Atau barangkali karena memang kita belum
totalitas berdakwah, baru berkontribusi seadanya dengan energi sisa. Ya pantas
saja.
Lelah adalah bagian yang
tak terpisahkan dalam perjuangan, kenapa harus merasa kuat sedang nyatanya kita
memang lemah tanpa bantuan dari-Nya. Kita hanya perlu untuk terus berjalan,
Allah yang akan mencukupkan. Ketika ditanya kapankah kita istirahat? Wajar Imam
Ahmad bin Hambal berkata, “Istirahatnya kaum muslimin adalah saat kaki kanannya
menginjak surga.”
Ust Rahmad Abdulllah
membuat sebuah pengandaian,
“JIka dakwah adalah
cinta, maka cinta akan meminta semuanya dari dirimu”
Ya, benar. Dakwah akan
mencabut rasa kantuk dalam kelopak matamu, mengambil rasa lelah dalam tubuhmu,
mengambil rasa kecewa dalam hatimu. Semenjak kita memutuskan untuk berafiliasi
pada dakwah, maka kita sudah menyepakati semua konsekuensinya, termasuk bersiap
untuk merasa kecewa.
Mengutip kalimatnya Ust
Cahyadi Takaryawan,
“Dakwah dibangun dengan
ikatan cinta. Gerbong dakwah melaju dengan berbagai proses dan dinamika, menuju
harapan dan cita-cita yang telah dicanangkan. Dalam perjalanan inilah muncul
friksi, muncul perbedaan pandangan, muncul gesekan satu dengan yang lain. Di
antara orang-orang yang saling mencinta, akhirnya muncul perasaan kecewa.
Muncul tuduhan, muncul praduga, muncul syak prasangka. Maka dalam kumpulan
orang-orang yang atas dasar cinta saja masih bisa menimbulkan kekecewaan dan
sederetan prasangka, lantas bagaimana dengan orang-orang yang berkumpulnya
karena kecewa?”
Seolah kesadaran kita
terbangunkan, bahwa keluar dari jamaah bukankah cara yang bijak. Saya selalu
mencoba mencari tahu apa yang bisa dihasilkan dari kumpulan orang-orang yang
sedang kecewa? Saya tidak menemukan itu, karena memang tidak ada! Mereka hanya
sedang membuat barisan untuk menyerang jamaah, kemudian merasa benar dan ingin
menunjukkan bahwa jamaah yang ditinggalkan nya memang salah.
Ikhwahfillah,
kembalilah…
Jadikankah ikhlas
sebagai panglimamu, jamaah sebagai kendaraanmu, totalitas sebagai bahan
bakarmu. Dan jihad sebagai tujuan akhirmu. Apa sebenarnya tujuanmu selama ini?
Begitu mudahnya antum berpaling dan meninggalkan jamaah yang sudah menjadikanmu
menjadi sejauh ini. Kalaulah memang ada yang salah, kenapa tidak engkau perbaiki
dari dalam saja? Ataukah antum sedang ingin masuk surga sendirian dan
membiarkan kumpulan jamaah ini masuk ke neraka? Ataukah antum sudah mencoba
memperbaiki namun tak jua kunjung ada hasil kemudian antum berputus asa dan
memilih meninggalkan jamaah?
Ikhwah, ingatkah antum
tentang wasiat Allah,
“Jangan kamu berputus
asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah,
melainkan kaum yang kafir.” (QS. 12: 87)
Kita hanya perlu
bersabar lebih lama lagi, berjamaah memang melelahkan. Pahamilah dinamika dan
segala konsekuensinya. Jika ada yang futur dan keluar dari jamaah, sesungguhnya
justru akan memperkuat dan mempersolid jamaah ini. Allah hendak menunjukkan
mana dan siapa yang ikhlas dan dan tidak, mana yang pemersatu dan mana yang
benalu. Eksistensi barisan sakit hati akan menggarap program kerja pertama
mereka. Proyek pertama dan paling utama mereka adalah menyerang jamaah, memilih
berseberangan dalam manhaj perjuangan, ini sangat melemahkan, namun disukai
oleh musuh islam. Mari rapatkan barisan!
Ikhwahfillah yang masih
terjaga dalam jamaah, bertahanlah!
Dengan kesabaran yang
baik lagi, dengan kesabaran yang panjang lagi. Jika masih terpikir untuk kecewa
dan ingin berhenti, periksa lagi hati. Kapan terakhir shalat jamaah lima waktu
sehari? Kapan terakhir target tilawah harian terpenuhi? Kapan terakhir
istirahat di dalam shalat malam menjadi destinasi? Kapan terakhir berdiri
berlama lama di sepertiga malam yang akhir, kemudian bermunajat dengan segala
hajat? Ayo berbenah lagi.
Istirahatkan hati yang
sedang menganga terluka, obati perih yang menggores hati,
“Yaa Bilal, arihna bi
shalaah!”
Mari rapatkan barisan
jamaah kita lagi.







0 komentar:
Posting Komentar