Kamis, 23 April 2015

Memburu waktu


Kriiiing……Kring……Kring…..

Bunyi alarm hp kian nyaring terdengar dari atas meja. Perlahan mulai jelas hp itu. Ternyata aku tertidur setelah sholat subuh. Quran masih di tangan, sarung masih terpakai, dan sajadah juga masih di lantai. Segera ku rapikan kamar kost, mandi, sarapan dan berangkat kerja.ini adalah hari pertama ku berangkat kerja dari kost. Tiga tahun lebih tinggal di mess kantor membuat ku manja karena banyak waktu luang. Dan kini, di kost harus padai2 mengatur waktu.

Pagi itu gerimis, cukup deras juga. Hanya jaket palestina dan topi lapangan yang ku pakai. Ku percepat langkah kaki menyusuri gang dan jalanan menuju pasar di kota baru ini. Lumayan juga perjalanan perdana ku ini, 15 menit berjalan kaki membuat jaket dan topi kesayangan ku basah. Basah karena gerimis dan keringat. Sepanjang jalan juga banyak genangan air karena saluran yang tersumbat. Ada juga jembatan kayu using yang mesti ekstra hati2 melewatinya. Bukan itu saja, jalur kereta ganda juga harus diseberangi dengan teliti. Salah melangkah bisa jatuh.

Sesampainya di pasar, bis karyawan sudah menunggu. Sekitar 6 orang sudah berada di dalamnya. Aku pilih duduk dibelakang sopir. Selain ruang lebih lebar, pemandangan depan dan samping juga lega tanpa halangan. Sembari menunggu kawan kerja lainnya, ku rapikan jake dan topi basah ke dalam tas.

Sepanjang perjalanan, aku merenung. Beginilah rutinitas yang akan ku lalui. Bangun lebih awal, pake acara bersih2 kost, masak dan sarapan, hingga berangkat kerja lebih pagi. Beda sekali dengan hari2 sebelumnya di mess kantor di mana kamar sudah ada yang beresi, sarapan sudah siap dan berangkat ke kantor cuma butuh waktu lima menit. Tiga tahun lamanya tinggal di mess dengan semua kemudahan membuat ku jenuh. Itulah motivasi terbesar ku keluar dari zona nyaman. Aku mau menikah, dan tentu saja harus mempersiapkan keperluan dan mandiri, juga tinggal di lingkungan yang kondusif untuk keluarga nanti.

Aku paham konsekuensi keluar dari zona nyaman itu. Biaya kost, listrik, transportasi dan masih banyak lagi. Tak masalah, asal aku menjadi manusia normal seutuhnya. Ada kalanya bekerja, ada kalanya liburan, ada waktu bermasyarakat, dan juga ada waktuuntuk menemukan komunitas kebaikan yang sudah lama hilang dari hidup ku.

Mulai saat ini juga, akan semakin padat aktivitas ku, makin beragam kegiatan ku, dan semakin banyak pula saudara2 ku. Semoga semua itu semakin mendekatkan ku pada ridho Mu ya Allah… memburu waktu, mempersiapkan bekal terbaik untuk kepulanganku.


Niru, 18032015; 08.03

0 komentar:

Posting Komentar