Jam
tangan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku dan delapan orang lain berkumpul di
sudut masjid kampus. Kami berkumpul rutin setiap pekan. Aku tahu, semua yang
hadir mahasiswa-mahasiswa sibuk. Skripsi, bimbingan studi, organisasi, hingga
bisnis. Meskipun demikian, tak tampak sedikitpun kelelahan dari wajah-wajah saudara
ku di lingkaran cinta ini.
Sudah
3 jam lebih kami duduk dalam formasi melingkar. Semua aktivitas rutin kami
seperti membaca Al Quran, tausiyah, infak rutin, dan materi pekanan sudah
selesai. Tinggal acara penutup. Adalah laporan kondisi dari masing-masing kami,
tentang perkembangan dakwah, amanah yang sedang diemban, juga progress studi
hingga kondisi keluarga. Lama juga aku absen dari forum pekanan ini, kurang
lebih 10 minggu karena ada urusan studi di timur nusantara ini.
Giliran ku pun tiba. Aku sampaikan kondisi kesehatan
dan keluarga. Alhamdulillah semua sehat, meski masih tersisa rasa lelah
perjalanan. Tak lupa juga ku sampaikan program praktek lapangan ku juga sudah
selesai, dan hanya tinggal menyerahkan saja laporannya. Tentu saja hal ku
sampaikan hal yang paling mengganjal dalam benak ku selama dalam masa studi
lapangan kemarin.
“Afwan mas, ana baru nyadar seolah-olah salah memilih program studi” kata ku.
“Kok
bisa begitu de ? ” Tanya mas ku, ustadz yang sudah 1 tahun bersama ku dalam
lingkaran dakwah.
Rupanya pernyataan ku membuat semua
teman-teman merasa heran.
“Kenapa
akh, tenang, bisa kita bahas kan ?”
tanya seorang teman dari Fakultas Hukum.
“Ana baru baru pulang praktek, jurusan ana mengharuskan kami praktek di daerah
pedalaman. Di sana jauh aksesnya dari kota, hingga selama praktek ana ga pernah liqo ataupun menghubungi saudara kita di sana” mulailah cerita
kegundahan ku.
Sambil ku perhatikan satu persatu wajah saudaraku.
Serius,dan menatap tajam tajam ke arah ku.
“Lingkungannya
sungguh jauh dari kata kondusif, pergaulan hingga pekerjaan sangat sulit
menjaga sholat. Apa lagi sholat jumat kami harus menempuh perjalanan yang jauh.
Tak seorang pun yang mengerti tentang agama, tak ada ikhwah satupun Ibadah
yaumiyah juga sulit !! Berbeda dengan kita di sini.. Ana futur mas”
Ku
sampaikan semua kekhawatiran bila ternyata semua tempat pekerjaan bidang ku seperti
itu. Rasanya berat sekali bisa bertahan dalam lingkungan seperti itu. Tanpa
terasa air mata ini mengalir, berat sekali meneruskan cerita ku.
Dengan
wajah serius dan senyum penyemangat mereka memandangku, sedang di samping ku
sambil memeluk ku erat mencoba menguatkan ku. Ini lah ukhuwah yang membuatku
selalu rindu dengan forum pekanan ini, orang-orang dalam jamaah dakwah ini dan
agenda-agenda dakwah ini.
“Ana berat kalo nantinya bekerja di
tempat seperti itu. Semuanya sungguh berbeda, bertolak belakang dengan lingkungan
kita di kampus. Bagaimana nantinya kalo sudah saatnya menikah, berkeluarga. Apa
jadinya keluarga ku nanti mas”
Terkenang
selama ini bersama orang-orang yang berusaha menjadi baik. Saling mengingatkan
dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam lingkungan yang baik saja kadang masih
sulit. Apalagi kalo lingkungannya segitu kacaunya. Berat rasanya ku teruskan
cerita ku. Aku hanya bisa menunduk, tak kuasa lagi ku pandangi wajah-wajah
teduh saudara ku. Ari mata ku tak terasa mengair di kedua pipi ku.
“Sudah
berapa lama adik ber-Tarbiyah, sudah lama bukan?” Tanya mas ku
Aku
tak bisa mengeluarkan kata2 lagi, hanya anggukan saja yang bisa mengisyaratkan
aku sudah lama dalam jamaah ini. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah mengenal
jamaah dakwah ini.
”Adik
sudah berazzam menjadi kader dakwah bukan ?” kembali mas ku bertanya
Kembali hanya bisa ku anggukan kepala.
“Allhamdulillah, semoga kita semua di
sini selalu berazzam untuk menjadi
kader dakwah, tentu saja yang produktif dan siap ditempatkan di mana saja kami
nanti berada. Kita ingat perjuangan Nabi Muhammad SAW. Pertentangan masyarakat Mekah
saat itu begitu besar. Namun karena lillah, Allah SWT kuatkan dalam dakwahnya
hingga kini banyak manusia mendapatkan hidayah, mengerti keagungan Islam. Ia
hadir menjadi cahaya di tengah kegelapan, dan semua kesulitan itu akan menjadi
saksi perjuangan kita di akhirat nanti. Dan antum
sekarang, mungkin itu lah jalan yang akan menghantarkan kita pada cita-cita
mulia itu……”
“Aamiin mas, semoga kita semua terus
istiqomah dalam jalan Allah SWT”
Doa
robithoh menutup pertemuan kami.
Khusyuk melantunkan dan mengamini setiap untaian doa di sana. Berharap
diteguhkan hati kami dalam naungan cintaNYA. Mengingatkan hakikat pertemuan ini
dalam bingkai ketaatan padaNYA. Dan juga berjuang bersama di jalanNYA. Berharap
suatu saat nanti Islam kembali menaungi semua aspek kehidupan di dunia
ini.
Setelah
itu aku bewudhu untuk sholat malam dan berdoa padaNYA untuk dikuatkan dalam barisan
dakwah ini…
Kuatkan
lah ikatannya
Kekalkan
lah cintanya
Tunjuki
lah jalannya
Terangilah
dengan cahayauMU
Yang
takkan pernah padam
Ya
robb, bimbinglah kami







0 komentar:
Posting Komentar