Kamis, 23 April 2015

Bumi Allah itu Luas Akhi…..


Jam tangan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku dan delapan orang lain berkumpul di sudut masjid kampus. Kami berkumpul rutin setiap pekan. Aku tahu, semua yang hadir mahasiswa-mahasiswa sibuk. Skripsi, bimbingan studi, organisasi, hingga bisnis. Meskipun demikian, tak tampak sedikitpun kelelahan dari wajah-wajah saudara ku di lingkaran cinta ini.

Sudah 3 jam lebih kami duduk dalam formasi melingkar. Semua aktivitas rutin kami seperti membaca Al Quran, tausiyah, infak rutin, dan materi pekanan sudah selesai. Tinggal acara penutup. Adalah laporan kondisi dari masing-masing kami, tentang perkembangan dakwah, amanah yang sedang diemban, juga progress studi hingga kondisi keluarga. Lama juga aku absen dari forum pekanan ini, kurang lebih 10 minggu karena ada urusan studi di timur nusantara ini.

Giliran ku pun tiba. Aku sampaikan kondisi kesehatan dan keluarga. Alhamdulillah semua sehat, meski masih tersisa rasa lelah perjalanan. Tak lupa juga ku sampaikan program praktek lapangan ku juga sudah selesai, dan hanya tinggal menyerahkan saja laporannya. Tentu saja hal ku sampaikan hal yang paling mengganjal dalam benak ku selama dalam masa studi lapangan kemarin.

Afwan mas, ana baru nyadar seolah-olah salah memilih program studi” kata ku.
“Kok bisa begitu de ? ” Tanya mas ku, ustadz yang sudah 1 tahun bersama ku dalam lingkaran dakwah.

Rupanya pernyataan ku membuat semua teman-teman merasa heran.

“Kenapa akh, tenang, bisa kita bahas kan ?” tanya seorang teman dari Fakultas Hukum.

Ana baru baru pulang praktek, jurusan ana mengharuskan kami praktek di daerah pedalaman. Di sana jauh aksesnya dari kota, hingga selama praktek ana ga pernah liqo ataupun menghubungi saudara kita di sana” mulailah cerita kegundahan ku.

Sambil ku perhatikan satu persatu wajah saudaraku. Serius,dan menatap tajam tajam ke arah ku.

“Lingkungannya sungguh jauh dari kata kondusif, pergaulan hingga pekerjaan sangat sulit menjaga sholat. Apa lagi sholat jumat kami harus menempuh perjalanan yang jauh. Tak seorang pun yang mengerti tentang agama, tak ada ikhwah satupun Ibadah yaumiyah juga sulit !! Berbeda dengan kita di sini.. Ana futur mas”

Ku sampaikan semua kekhawatiran bila ternyata semua tempat pekerjaan bidang ku seperti itu. Rasanya berat sekali bisa bertahan dalam lingkungan seperti itu. Tanpa terasa air mata ini mengalir, berat sekali meneruskan cerita ku.

Dengan wajah serius dan senyum penyemangat mereka memandangku, sedang di samping ku sambil memeluk ku erat mencoba menguatkan ku. Ini lah ukhuwah yang membuatku selalu rindu dengan forum pekanan ini, orang-orang dalam jamaah dakwah ini dan agenda-agenda dakwah ini.

Ana berat kalo nantinya bekerja di tempat seperti itu. Semuanya sungguh berbeda, bertolak belakang dengan lingkungan kita di kampus. Bagaimana nantinya kalo sudah saatnya menikah, berkeluarga. Apa jadinya keluarga ku nanti mas”

Terkenang selama ini bersama orang-orang yang berusaha menjadi baik. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam lingkungan yang baik saja kadang masih sulit. Apalagi kalo lingkungannya segitu kacaunya. Berat rasanya ku teruskan cerita ku. Aku hanya bisa menunduk, tak kuasa lagi ku pandangi wajah-wajah teduh saudara ku. Ari mata ku tak terasa mengair di kedua pipi ku.

“Sudah berapa lama adik ber-Tarbiyah, sudah lama bukan?” Tanya mas ku

Aku tak bisa mengeluarkan kata2 lagi, hanya anggukan saja yang bisa mengisyaratkan aku sudah lama dalam jamaah ini. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah mengenal jamaah dakwah ini.

”Adik sudah berazzam menjadi kader dakwah bukan ?” kembali mas ku bertanya
Kembali hanya bisa ku anggukan kepala.

Allhamdulillah, semoga kita semua di sini selalu berazzam untuk menjadi kader dakwah, tentu saja yang produktif dan siap ditempatkan di mana saja kami nanti berada. Kita ingat perjuangan Nabi Muhammad SAW. Pertentangan masyarakat Mekah saat itu begitu besar. Namun karena lillah, Allah SWT kuatkan dalam dakwahnya hingga kini banyak manusia mendapatkan hidayah, mengerti keagungan Islam. Ia hadir menjadi cahaya di tengah kegelapan, dan semua kesulitan itu akan menjadi saksi perjuangan kita di akhirat nanti. Dan antum sekarang, mungkin itu lah jalan yang akan menghantarkan kita pada cita-cita mulia itu……”

 “Aamiin mas, semoga kita semua terus istiqomah dalam jalan Allah SWT”

Doa robithoh menutup pertemuan kami. Khusyuk melantunkan dan mengamini setiap untaian doa di sana. Berharap diteguhkan hati kami dalam naungan cintaNYA. Mengingatkan hakikat pertemuan ini dalam bingkai ketaatan padaNYA. Dan juga berjuang bersama di jalanNYA. Berharap suatu saat nanti Islam kembali menaungi semua aspek kehidupan di dunia ini. 

Setelah itu aku bewudhu untuk sholat malam dan berdoa padaNYA untuk dikuatkan dalam barisan dakwah ini…
Kuatkan lah ikatannya
Kekalkan lah cintanya
Tunjuki lah jalannya
Terangilah dengan cahayauMU
Yang takkan pernah padam

Ya robb, bimbinglah kami

0 komentar:

Posting Komentar