Selasa, 28 April 2015

Sekeping Doa untuk Pejuang Bumi Anbiya


Ku ayunkan langkah kaki, menuju terminal pasar kota minyak ini. Tak lupa ku perhatikan sekeliling ku. Sudah banyak aktivitas masyarakat setelah sholat subuh. Jual beli di pasar sudah ramai, tukang ojek lalu lalang mengantarkan langganannya, ada juga abang angkot membungkus dan menata barang-barang yang akan ia bawa.

Sesampainya di bis, ku pilih tempat duduk paling depan. Ya itu posisi favorit ku. Pemandangan yang lega tanpa terhalang, dan tentu saja ruang gerak kaki lebih lega dibandingkan kursi lain. Selagi bus menunggu penumpang lain, ku buka hp dan mencari berita. Setiap pagi aku selalu membuka laman berita untuk menambah pengetahuan dan apa-apa yang sedang terjadi.

Sepintas ada berita yang sangat menarik perhatian ku. Kabar tentang palestina. Sejak sekolah aku selalu mengikuti perkembangan beritanya.

Pagi ini ada kabar gembira dan duka sekaligus. Kabar gembiranya adalah parlemen mahasiswa di tepi barat di menangkan oleh gerakan mahasiswa yang berafiliasi ke hamas. Kita sudah tau siapa itu HAMAS, dan apa yang mereka perjuangkan.

Bagi ku, HAMAS adalah pahlawan, bukan saja untuk masyarakat palestina. Ia adalah symbol kekuatan dan semangat untuk mempertahankan bumi nabi yang kini dijajah oleh zionis laknatullah. Dengan orientasi perjuangannya itu lah akhirnya masyarakat palestin mengerti dan mempercayai hamas.

Dalam berita pagi ini, rupanya kancah perpolitikan mahasiswa juga tidak kalah penting. Mahasiswa yang notabene calon generasi mendatang, tulang punggung bangsa juga sudah mulai mengerti akan arti hamas. Oleh karena itulah pemilihan anggota dewan mahasiswa mencerminkan sikap generasi muda terpelajar palestina. Gerakan mahasiswa pro hamas memenangkan pemilihan raya mahasiswa.

Itu artinya hamas memiliki masa depan yang cerah. Masyarakat semakin banyak mendukungnya. Gerakan perlawanan terhadap zionis penjajah makin massif. Berarti pembebeasan palestina seutuhnya semakin terang. Bukan saja dari segi perlawanan kontak senjata yang dilakukan oleh pejuang Brigadir Al Qossam saja, dukungan mahasiswa semakin massif.

Sedangkan kabar sedih datang dari penangkapan aktivis mahasiswa prohamas. Banyak kasus penculikan untuk meredam semangat mahasiswa untuk membebaskan bumi palestin dari penjajahan zionis. Itulah cara curang yang dilakukan oleh musuh. Menculik bahkan membunuh. Meskipun demikian, aku tetap percaya akan semangat para mahasiswa palestina. Pergerakan atas dasar pemahaman dan semangat karena menjaga bumi para nabi, insyaALLAH bereka bersama tentara langit yang tak tampak kasat mata.


Hanya sekeping doa yang bisa aku panjatkan.

Bersama mengalir air mata ku, ku doakan kalian selalu dalam lindunganNYA
Menjaga bumi anbiya, meski nyawa taruhannya
Saudara ku, sejatinya kita adalah Satu
Kalian selalu ada dalam setiap doa2ku
Semoga kalian selalu kuat
Berjuang dengan penuh semangat
Karena tujuan kita adalah akhirat
Maka langkah2 mu kian kuat
Saudara2 ku
Aku di sini bukan berarti berdiam diri
Ku beritakan tujuan mulia mu ke segala penjuru negeri
Hingga mereka mengerti
Singa2 allah penjaga bumi anbiya
Semoga kalian temui cita2 mulia
Bebaskan bumi palestina atau syahid menjadi syuhada


 Prabumulih, 28042015

Episode Ukhuwah Berdering


Jam di komputer sudah menunjukkan pukul 12 malam, sementara monitor itu tampak penuh dengan desain kartu identitas peserta seminar. Besok pagi acara seminar nasional hari kehutanan akan diadakan di kampus. Oleh karena itu persiapan terus dilakukan semua panitia. Dan aku, mendapat tugas mempersiapkan : ID Card peserta dan sertifikat. insyaALLAH setengah jam lagi selesai semua.

Kriiiing…… Kring….

Hp jadul ku bernyanyi, tanda ada panggilan masuk. Tampak sebuah nama dari layar hp kecil itu. Nama seorang sahabat yang sangat aku kenal sejak kepindahan ku di kota pelajar ini. Resa namanya, sebagai ketua pelaksana kegiatan seinar besok ia terus memantau progress persiapan acara.

“Halo, assalamualaikum akh, belum istirahat ya” sapa akh Resa

“Waalaikumussalam, belum. Ini sebentar lagi. Tinggal print ID Card peserta. Sertifikatnya Alhamdulillah sudah selesai” jawab ku

“Gimana, antum dah beli hp apa belum ? Kalo antum susah dihubungi itu gawat namanya. Kita perlu banyak komunikasi akh”. Tiba-tiba akh Resa membahas hp.

Seminggu ini hp ku macet. Alat komunikasi ku memang terbilang sudah jadul. Hampir 3 tahun sudah selalu menemani ke mana pun kaki ini melangkah. Aku membelinya waktu masih duduk di bangku SMA. Batere yang sudah usang ditambah lagi masalah pengisian daya hp membuat ku sering memilih untuk mematikan hp. Rupanya banyak kawan seperjuangan terganggu, sulit menghubungi ku. Mungkin juga karena itu akh Resa tiba-tiba menanyakan perihal hp.

“Hehe…. Afwan akh kalo seminggu ini ana susah dihubungi, maklumlah hp jadul. Sayang mau ganti soalnya banyak kenangannya ini” jawab ku sambil tertawa kecil.

“Gini aja, ana ada hp tapi model jadul. Ya lumayan lah bisa telpon dan sms. Kalo antum tidak keberatan, ana pinjami” akh Resa mencoba memberikan solusi.

“Alhamdulillah, semoga niat baik antum mendapat pahala akh. Ana bukan menolak. Alhamdulillah, sore tadi ana dapat rizki. Ana belikan hp baru akh. Jadi komunikasi tetap jalan dan antum ga perlu repot-repot minjami hp” jawab ku

Sore tadi, aku mengumpulkan uang hasil penjualan. Setahun sudah aku latihan berwirausaha. Aku berjualan roti donat. Ada 5 kontrakan dan beberapa warung langganan ku. Alhamdulillah aku belajar mandiri, belajar mengelola uang dll. Untung penjualan selama seminggu ini aku sisihkan untuk membeli hp, dan sisanya aku tabung untuk hari nanti.

“Alhamdulillah kalo gitu. Jaga kesehatan akh, jangan lupa besok pagi kita datang lebih awal ya. Semoga lancar agendanya. Wassalamualaikum” tutup akh Resa.

“Waalaikumussalam…………”

Sejenak ku alihkan pandangan dari monitor komputer. Ku pandangi semua yang ada di dalam kamar kost ku. Rak dengan buku kuliah dan semua bacaan, kasur dan print out sertifikat serta ID Card peserta seminar besok pagi.

Sambil ku ingat kembali saudara-saudara yang pernah ku jumpai di jalan dakwah ini. Begitu besar perhatian mereka kepada saudaranya yang lain. Berusaha menjadi yang paling dekat, paling mengerti, dan pertama membantu setiap permasalahan. Sungguh begitu indah persaudaraan ini. Ia tak membedakan usia, program studi, bahkan suku asal daerah.

Ku rebahkan badan di atas kasur. Ku pandang langit-langit. Ku bayangkan begitu besar perhatian orang-orang yang ada di jamaah dakwah ini. Bisa jadi, dakwah ini terus bertahan karena ikhlas mengharap ridho Allah AWT. Begitu juga dengan pengeraknya, tetap solid dalam kerja-kerja amal, karena mereka saling menopang, saling melengkapi, dan saling menguatkan.

Semoga kita semua selalu dikuatkan dalam jalan ini, bersama dakwah selalu dan selamanya.
 Dari sebuah kamar kost kecil di kota pelajar ini, ukhuawah kami terus berdering.


Yogyakarta 17 Mei 2009

Kamis, 23 April 2015

Bumi Allah itu Luas Akhi…..


Jam tangan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku dan delapan orang lain berkumpul di sudut masjid kampus. Kami berkumpul rutin setiap pekan. Aku tahu, semua yang hadir mahasiswa-mahasiswa sibuk. Skripsi, bimbingan studi, organisasi, hingga bisnis. Meskipun demikian, tak tampak sedikitpun kelelahan dari wajah-wajah saudara ku di lingkaran cinta ini.

Sudah 3 jam lebih kami duduk dalam formasi melingkar. Semua aktivitas rutin kami seperti membaca Al Quran, tausiyah, infak rutin, dan materi pekanan sudah selesai. Tinggal acara penutup. Adalah laporan kondisi dari masing-masing kami, tentang perkembangan dakwah, amanah yang sedang diemban, juga progress studi hingga kondisi keluarga. Lama juga aku absen dari forum pekanan ini, kurang lebih 10 minggu karena ada urusan studi di timur nusantara ini.

Giliran ku pun tiba. Aku sampaikan kondisi kesehatan dan keluarga. Alhamdulillah semua sehat, meski masih tersisa rasa lelah perjalanan. Tak lupa juga ku sampaikan program praktek lapangan ku juga sudah selesai, dan hanya tinggal menyerahkan saja laporannya. Tentu saja hal ku sampaikan hal yang paling mengganjal dalam benak ku selama dalam masa studi lapangan kemarin.

Afwan mas, ana baru nyadar seolah-olah salah memilih program studi” kata ku.
“Kok bisa begitu de ? ” Tanya mas ku, ustadz yang sudah 1 tahun bersama ku dalam lingkaran dakwah.

Rupanya pernyataan ku membuat semua teman-teman merasa heran.

“Kenapa akh, tenang, bisa kita bahas kan ?” tanya seorang teman dari Fakultas Hukum.

Ana baru baru pulang praktek, jurusan ana mengharuskan kami praktek di daerah pedalaman. Di sana jauh aksesnya dari kota, hingga selama praktek ana ga pernah liqo ataupun menghubungi saudara kita di sana” mulailah cerita kegundahan ku.

Sambil ku perhatikan satu persatu wajah saudaraku. Serius,dan menatap tajam tajam ke arah ku.

“Lingkungannya sungguh jauh dari kata kondusif, pergaulan hingga pekerjaan sangat sulit menjaga sholat. Apa lagi sholat jumat kami harus menempuh perjalanan yang jauh. Tak seorang pun yang mengerti tentang agama, tak ada ikhwah satupun Ibadah yaumiyah juga sulit !! Berbeda dengan kita di sini.. Ana futur mas”

Ku sampaikan semua kekhawatiran bila ternyata semua tempat pekerjaan bidang ku seperti itu. Rasanya berat sekali bisa bertahan dalam lingkungan seperti itu. Tanpa terasa air mata ini mengalir, berat sekali meneruskan cerita ku.

Dengan wajah serius dan senyum penyemangat mereka memandangku, sedang di samping ku sambil memeluk ku erat mencoba menguatkan ku. Ini lah ukhuwah yang membuatku selalu rindu dengan forum pekanan ini, orang-orang dalam jamaah dakwah ini dan agenda-agenda dakwah ini.

Ana berat kalo nantinya bekerja di tempat seperti itu. Semuanya sungguh berbeda, bertolak belakang dengan lingkungan kita di kampus. Bagaimana nantinya kalo sudah saatnya menikah, berkeluarga. Apa jadinya keluarga ku nanti mas”

Terkenang selama ini bersama orang-orang yang berusaha menjadi baik. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam lingkungan yang baik saja kadang masih sulit. Apalagi kalo lingkungannya segitu kacaunya. Berat rasanya ku teruskan cerita ku. Aku hanya bisa menunduk, tak kuasa lagi ku pandangi wajah-wajah teduh saudara ku. Ari mata ku tak terasa mengair di kedua pipi ku.

“Sudah berapa lama adik ber-Tarbiyah, sudah lama bukan?” Tanya mas ku

Aku tak bisa mengeluarkan kata2 lagi, hanya anggukan saja yang bisa mengisyaratkan aku sudah lama dalam jamaah ini. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah mengenal jamaah dakwah ini.

”Adik sudah berazzam menjadi kader dakwah bukan ?” kembali mas ku bertanya
Kembali hanya bisa ku anggukan kepala.

Allhamdulillah, semoga kita semua di sini selalu berazzam untuk menjadi kader dakwah, tentu saja yang produktif dan siap ditempatkan di mana saja kami nanti berada. Kita ingat perjuangan Nabi Muhammad SAW. Pertentangan masyarakat Mekah saat itu begitu besar. Namun karena lillah, Allah SWT kuatkan dalam dakwahnya hingga kini banyak manusia mendapatkan hidayah, mengerti keagungan Islam. Ia hadir menjadi cahaya di tengah kegelapan, dan semua kesulitan itu akan menjadi saksi perjuangan kita di akhirat nanti. Dan antum sekarang, mungkin itu lah jalan yang akan menghantarkan kita pada cita-cita mulia itu……”

 “Aamiin mas, semoga kita semua terus istiqomah dalam jalan Allah SWT”

Doa robithoh menutup pertemuan kami. Khusyuk melantunkan dan mengamini setiap untaian doa di sana. Berharap diteguhkan hati kami dalam naungan cintaNYA. Mengingatkan hakikat pertemuan ini dalam bingkai ketaatan padaNYA. Dan juga berjuang bersama di jalanNYA. Berharap suatu saat nanti Islam kembali menaungi semua aspek kehidupan di dunia ini. 

Setelah itu aku bewudhu untuk sholat malam dan berdoa padaNYA untuk dikuatkan dalam barisan dakwah ini…
Kuatkan lah ikatannya
Kekalkan lah cintanya
Tunjuki lah jalannya
Terangilah dengan cahayauMU
Yang takkan pernah padam

Ya robb, bimbinglah kami

Melingkar itu Luar biasa


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hari minggu ini terasa begitu panas di kota minyak Bumi Sriwijaya. Setelah seharian berkutat dengan seminar, sore ini ada agenda yang sangat penting. Forum pekanan itu kami sebut dengan istilah liqo. Alhamdulillah sejak sekolah, berarti 12 tahun sudah, aku mengikuti forum pekanan seperti ini. Dari kota Kedu Selatan, Kota pelajar, dan kini di kota minyak masih lanjut.


Setelah berpamitan dengan istri dan anak, aku meluncur ke lokasi forum pekanan. Tempat liqo kali ini di rumah akh fajar. Tempat akh fajar itu baru 2 bulan dikontraknya untuk usaha aquarium, tepat di simpang tiga Stasiun.

Sesampainya di sana, sudah ada beberapa kawan yang duduk di belakang etalase toko. Kecil tapi cukup menampung 10 orang. Teduh wajah sahabat-sahabat ku, senyum selalu terpancar dari wajah mereka. Tutur katanya sopan dan penuh makna.

Diawali dengan salam, cipika-cipiki, dan menanyakan kabar sekeluarga. Luar biasa perhatian mereka. Senyuman itu menjukkan kebahagiaan mereka saat berjumpa dengan saudara satu imannya, meskipun bisa jadi ada luka, ada masalah yang mereka rasakan.

Kami awali acara pekanan kami dengan membaca Al Quran. Masing2 membaca satu halaman. Semua serius menyimak bacaan. Sudah sebagian besar kami lancar dalam membaca, namun ada juga yang masih terbata-bata. Di situlah kami saling mengajari sehingga sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kami lanjutkan dengan infak pekanan. Biasanya kami gunakan tas kecil, tempat pensil, kadang juga salah satu peci dari kami menjadi wadahnya. Di sana saya lihat semangat berkorban dan member yang terbaik dari masing-masing anggota liqo. Entah berapa banyak yang diinfakkan, tak ada yang tahu. Yang pasti semangatnya luar biasa. Setelah semua terkumpul ada seorang yang bertugas untuk menghitung dan merekap semua infak yang terkumpul.

Materi bedah buku pekan ini membahas buku “Menuju Jamaatul Muslimin”. Akh Abas sebagai petugas pekan ini membahas tentang bab 2 buku itu. Dengan semangat beliau menjelaskan kepada semua peserta liqo, sedangkan yang lain serius mendengarkan pemamparan akh Abas. Tak kurang dari setengah jam penjelasan bab 2, dilanjutkan dengan diskusi. Mulai dari sejarah latarbelakang penulisan buku, hingga kondisi kontemporer keummatan. Singkat, padat dan banyak hal baru yang kami dapatkan setelah bertukar pikiran. Maklumlah, dari kelompok kami ada yang meraih gelar masternya dari buku tersebut. Tentu banyak referensi yang dibaca.  Sehingga diskusi buku pekan ini sama seperti seminar nasional, atau bahkan internasional. Sesi bedah buku kami cukupkan Saat kumandang adzan mulai terdengar. Kami semua menjalankan sholat di masid di samping tempat liqo kami.

Setelah kembalinya kami dari sholat maghrib, sudah ada hidangan yang akan menemani kami untuk melanjutkan pertemuan pekanan kami. Sirup jeruk dingin, pempek lengkap dengan cukanya, bakwan, pisang goreng, hingga camilan macaroni. Seperti itulah gambaran setiap acara. Ada minuman, buah, cemilan, hingga makanan khas daerah. Kumplit kaya jajanan pasar. Setiap pekan kami giliran membawa makanan. Tak jarang tuan rumah juga sudah menyediakan hidangan.

Yang terakhir, materi dari pak ustad mengingatkan pada saat kuliah dulu. Materi dasar namun belum tentu mudah untuk dilakukan. Taaruf, saling mengenal. Tentu dalam bahasan di sini kami diharapkan saling mengenal antar anggota kelompuk lebih jauh. Bukan sebatas nama, tempat tinggal, pekerjaan, nama istri, nama anak. Jauh lebih dari itu. Kami mesti mengenal dari latar belakang keluarga, perjalanan hidup hingga bergabung dalam jamaah dakwah. Sungguh luar biasa dari sekian banyak komunias yang aku ikuti, hanya komunitas liqo ini lah yang memperhatikan sampai sedetail itu.

Melingkar itu cinta
Melingkar itu luarbiasa


Pertolongan Allah SWT Itu Dekat


“Kita berangkat pagi ya …..” Kata bos ku pagi itu.

“Siap komandan !!” jawab kami serempak

Seminggu sudah kami melakukan survey rencana perbaikan jalan. Keputusan pimpinan untuk membuka akses jalan pengamanan areal mengharuskan kami bekerja lebih cepat. Mulai dari meeting besar untuk menentukan rencana kerja hingga pada tahap evaluasi rencana. Kesimpulan kami adalah bahwa sebagian besar jalan harus diperbaiki.

Hari terakhir kami, berada pada kabupaten di ujung propinsi. Tidak kurang dari 300 km jauhnya perjalanan kami dengan kemungkinan masalah jalan rusak sampai pohon tumbang ditengah jalan. “Bismillah, semoga lancar………………..”

Sepintas kondisi jalannya seragam. Ada bagian yang masih baik lengkap dengan batuan pengeras jalannya, namun banyak juga titik-titik jalan rusak. Dari kerusakan dengan kategori ringan hingga berat. Ada juga beberapa ruas jalan yang tergenang air. Lama aku tidak melewatinya. Kurang lebih 2 tahun. Aku masih ingat, bersama tim estimasi asset selalu lewat jalan ini. Pernah juga memancing seharian hingga sekadar makan saja. Ah, sudah lah. Itu kenangan masa lalu.

Ku pandang kanan dan kiri jalan, rupanya masih banyak juga tanaman bagus di sini. Mungkin ada rencana kegiatan tebangan tahun 2015 di sini. Semoga banyak kayu yang dihasilkan. Setiap lokasi jalan rusak, aku tandai dengan GPS. Nantinya data GPS tersebut akan dibaca komputer dan selanjutnya dimasukkan ke program pemetaan.

Agenda survey selesai hari ini jam 3 sore. 3 jam perjalanan normal baru sampai di kantor. Dan sekitar satu jam berikutnya baru sampai rumah. Sesekali pulang malam karena kerjaan ga apalah. Yang penting kerjaan selesai, toh juga besok libur

Dalam perjalanan pulang, ku lihat hasil kerjaan hari ini di layar GPS sembari menghitung seberapa jauh dengan posisi kantor camp di areal.

“Tinggal 4 km lagi, setelah itu jalannya bagus”
“Iya semoga saja seperti itu de”

Belum sampai 5 menit dari percakapan itu, tiba2 kendaraan kami terperosok. Driver kami mencoba sekuat tenaga hingga akhirnya menyerah. Kami keluar kendaraan untuk melihat kondisi di sekitar kami. Dalam juga rupanya lumpur yang kami injak.  Aku hampir kehilangan keseimbangan dan terjatuh karena lumpur itu. Begitu juga dengan kawan2 lainnya.

Akupun hanya bisa perpikir “Ya allah, separah ini kah kondisinya ? apa bisa kami lewati dan segera keluar ? atau jangan-jangan sepanjang jalan di depan rusak seperti ini ??“ banyak pertanyaan yang muncul dam benak ku hinggai pada dua pertanyaan terakhir, “apakah bermalam di sini, atau tertolong dan bermalam di kantor wilayah ?”

Alhamdulillah kami membawa sling besi untuk menarik. Ada harapan. Asalkan bisa memasang tempat kaitan sling yang terbenam di dalam lumpur, dan menggali tanah untuk roda kendaraan pasti bisa teratasi. Ternyata tak semudah itu, lumpur itu lengket, tanah di bawahnya keras sedangkan kami hanya menggunakan tangan secara manual. Meskipun demikian, kami tetap berusaha hingga sekitar satu jam lebih. Usaha kami membuahkan hasil. Perlahan kendaraan kami bisa ditarik oleh mobil rombongan lainnya. Kami hasrus lebih berhati-hati karena waktu sudah sore, suasana makin gelap. BBM kian menipis sedangkan di sini susah sinyal HP.

Kami mencari kayu untuk menutup alur jalan yang berlumpur dengan harapan kedaraan kami berhasil melewati jalan rusak tersebut. Ada yang memotong batang pohon, ada juga yang memungut ranting-ranting kecil. Mobil ke dua mencoba untuk berjalan terlebih dahulu. Semuapun berharap mobil itu berhasil melewatinya.

 “Braaaak….. nguuuungg……” setelah sampai di tengah-tengah areal jalan rusak, rupanya mobil kami kembali terperosok. Kali ini jauh lebih parah. Lumpur dan airnya lebih dalam, sling penghubung kendaraan juga tidak sampai menjangkau mobil. Asap hitam pekat muncul semakin banyak. Semakin banyak usaha driver untuk bisa lolos, makin banyak asap yang keluar dari kendaraan itu. Nah, positif ini pasti malam sampai rumah apa malah tidur di lapangan.

Akhirnya kami menyerah. Semua hanya bisa tertunduk. Tak tampak sedikitpun senyum dari wajah kami. Ada yang duduk, ada yang sudah bersiap membuat tenda, ada juga yang menyalakan musik dari kendaraan, sedangkan aku terus mencoba menghubungi kantor. Meskipun banyak yang mengatahakan itu tak ada gunanya, aku terus mencoba. Menelpon, mengirim pesan. Sampai kontak internet. Bagi kita manusia mungkin sudah menyerah, tapi bagi ku masih ada yang Maha Penolong.

Hingga waktu masuk maghrib, saat yang lain santai menunggu bantuan yang mungkin besok baru datang. Aku cari sumber air untuk berwudu dan menjalankan sholat maghrib di pinggir jalan. Selesai dari sholat maghrib aku hanya bisa berdoa, “Ya allah, segera datangkan pada kami pertolonganMU”

Selesai melipat jaket lapangan yang aku jadikan sajadah, hp ku berbunyi. Itu tanda panggilan masuk. Segera ku jawab panggilan itu, rupanya ada panggilan dari kantor unit terdekat. Setelah tim dari kantor unit paham lokasi kami, segera mereka bergegas menuju lokasi kami dengan menggunakan alat berat. Semua pun gembira, saking senangnya semua langsung berwudu dan sholat berjamaah. Subhanallah, kesulitan ini menjadikan kami semakin dekat denganMU ya Robb.

Setengah jam kemudian muncul cahaya dari ujung jalan, perlahan terdengar suara mesin alat berat. Alhamdulillah, benar adanya. Alat kiriman dari kantor unit sudah sampai. Tanpa banyak bicara, kami langsung bergerak saling membantu. Alat pembuat jalan itu langsung membuang lumpur jalan dan menghaluskan permukaan jalan, sesampainya di dekat mobil, dikaitkanlah sebuat sling baca ke mobil kami dan perlahan menariknya. Tepat pukul tujuh malam semua kendaraan berhasil dievakuasi. Semua tim gembira karena bisa lepas dari lumpur.

Hikmah dari peristiwa ini adalah selalu berbaik sangka. Berusaha dan Allah SWT yang akan menolong kita. Adapun setiap kesulitan yang kita hadapi, jika ikhlas karenaNYa makan akan menjadi warna tersendiri dalam setiap langkah kehidupan kita

Amanah Meningkatkan Kapasitas Kita

“Assalamualaikum, de… “ suara mas Wiku dari hp ku.

“Waalaikumussalam mas.. ada apa ya ?” jawab ku.
“Begini de, hasil pertemuan sore tadi minta antum jadi seksi Publikasi, Dokumentasi, dan Dekorasi (PDD)” lanjut mas Wiku menerangkan.
“Iya mas. Tapi kan  saya  belum bisa bagian publikasi ?” jawabanku sebagai isyarat menolak.
“Ga apa-apa de, biar sekalian belajar. Tolong dibuatkan baliho yang besar, 5 meter X 3 meter.  hehe…. Sudah ya, kalo ada kesulitan tinggal kami. Wassalamualaikum…”

What ??? gimana bisa aku masuk ke PDD acara seminar lingkungan nasional  ? Padahal belum ada pengalaman buat spanduk deelel. Mana waktunya mepet, skup nasional pula…. Pasti ada yang salah ini… Seperti itulah kira galaunya waktu itu.
Malam itu juga aku meluncur ke tempat salah satu kakak senior. Apa lagi kalau bukan minta tolong diinstalkan dan diajari program desain grafis. Mesti ku kebut.. waktu tinggal 3 minggu lagi. Ku kayuh sepeda yang sudah menemaniku sejak SMA. 20 menit lamanya dari kos ke tampat mas Robi. Tahun itu, masih sedikit sekali mahasiswa yang punya motor. Umumnya jalan kaki, paling top ya pake sepeda.
Sesampainya di kos mas Robi ternyata sudah ada kakak-kakak senior termasuk mas Wiku. Tanpa banyak kata, ku keluarkan laptop dan ku taruh di atas meja lipat kecil di samping Komputer.rupanya mereka juga sedang membahas persiapan acara seminar nasional ini. Sambil terus berdiskusi, program desain mulai diinstal di laptop ku.
“Ribet juga ya mas instalnya, apa lagi buat desainnya nanti ? pokoknya aku dibantu ya mas..” keluh ku mulai banyak.
Mas Robi dengan sabar menginstal dan mengajari dasar2 desain grafis.
“Sudah selesai ya, selanjutnya kami serahkan ke ade, semoga lancer. Kalo butuh inspirasi  desain bisa liat contoh di internet banyak” Kata mas Robi.
Malam itu juga ku garap hingga menjelang subuh. Alhamdulillah dengan beberapa contoh desain yang ada ku cukupkan buat model desainnya. Tinggal minta saran dari panitian lainnya nanti di kampus.
Semua panitia setuju dengan desain baliho yang sudah aku buat. Berarti tinggal minta uang ke bendahara terus lanjut ke Percetakan.
Sesampainya di Percetakan dan ku serahkan desainnya, ternyata ga bisa dibuka. Kata operatornya ga bisa dibuka karena versi yang aku pake lebih tinggi dari yang digunakan percetakan. Alhasil aku harus kembali ke kos dan menurunkan output versi programnya. Hal sederhana yang aku dapatkan dari kasus pertama ku adalah menurun kan versi, bisa jadi kalo percetakan itu menggunakan program terbaru, aku tidak tahu cara menurunkan versi programnya. Setelah selesai aku meluncur ke percetakan lagi.
Setelah di buka file nya di dalam computer percetakan, Alhamdulillah bisa muncul. Artinya sudah nyambung versi programnya, Alhamdulillah.  Ilmu baru yang aku dapatkan dari praktek. Tapi kok ada yang aneh dari desain ku.
“Mas, kenapa kok tulisannya berubah menjadi simbol-simbol ya ? Padahal di komputer ku ga kaya gitu” kata ku menjelaskan kepada mas operator.
“Iya ya de, mungkin computer ade banyak variasi fontnya de, mungkin kami belum punya. Jadi waktu dibuka di sini ga kebaca dan berubah jadi simbol-simbol kaya gini” kata mas operator computer menerangkan.
“Terus aku mesti gimana mas, masa bolak balik lagi ?” aku mulai kesal
“Hehehe… santai saja de, tinggal di-convert saja, begini caranya……” mas operator pun menjelaskan cara mengconvert font tulisan supaya tidak berubah ketika dibuka di komputer lain.
Akhirnya dengan perasaan agak kesel aku kembali ke kos ku. Satu persatu kalimat yang ada pada desain seminar itu aku convert. Ya ampuuun, ternyata masih banyak hal yang aku belum tahu. Sampai hal sepele seperti ini membuat ku harus bolak-balik kos ke percetakan.
Sudah menjadi tekatku untuk menyelesaikan baliho hari itu juga. Apa pun yang terjadi harus selesai, pekerjaan ku masih banyak, tugas dikepanitian seminar ini masih banyak. Belum lagi tugas kuliah. Pokoknya harus selesai hari itu juga.
Untuk kesekian kalinya aku datang lagi ke percetakan itu. Ku perhatikan pegawai di depan sampai senyum-senyum melihat ku. Mungkin bosan kali ya ? entahlah apa yang ia pikirkan yang penting hari ini harus selesai.
“Jangan ada yang ketinggal lagi ya de” kata mas operator yang sedari tadi membantu ku.
“Iya mas, capek juga bolak-balik” ucap ku menjawab mas operator
Kami teliti lagi setiap kata, dan tata letaknya juga. Ada beberapa yang digeser untuk pertimbangan tampilan. Dari judul, deskripsi kegiatan, pembicara seminar, waktu dan tempat sudah lengkap. Tapi ternyata ada satu hal yang masih tertinggal. Apa kah itu ?
“De ini acaranya gratis apa bayar ? “ Tanya mas operator
“Ya bayar lah mas, sedikit sih. Masa acara bagus gitu gratis, mana pembicaranya dari jauh” jawab k
“Tapi ini belum ada harga tiket masuknya de, hehehe” mas operator menerangkan
What ???? masih ada yang salah lagi ??? Ya Allah, kuatkan aku. Aku sudah berusaha maksimal. Tapi masih ada yang kurang.  Apa aku harus balik lagi ?? Tidaaaaaak…..
Akhirnya mas operator itu membantu ku menulis harga tiket masuk yang aku lupa membuatnya. Alhamdulillah. Selesai juga target ku hari ini menyelesaikan baliho publikasi seminar ini.
Beginilah cara Allah SWT mengasah kemampuan ku. Amanah yang belum pernah aku jalani sebelumnya membuat ku sedikit bisa bermain di dunia ddesain grafis. Aku bersyukur. Jika kemarin aku ga masuk seksi publikasi mungkin tidak secepat ini mengerti desain grafis. Atau bahkan ga paham sama sekali.
Begini lah amanah, tanggungjawab yang dilaksanakan akan menambah kemampuan setiap orang yang mengembannya…


Memburu waktu


Kriiiing……Kring……Kring…..

Bunyi alarm hp kian nyaring terdengar dari atas meja. Perlahan mulai jelas hp itu. Ternyata aku tertidur setelah sholat subuh. Quran masih di tangan, sarung masih terpakai, dan sajadah juga masih di lantai. Segera ku rapikan kamar kost, mandi, sarapan dan berangkat kerja.ini adalah hari pertama ku berangkat kerja dari kost. Tiga tahun lebih tinggal di mess kantor membuat ku manja karena banyak waktu luang. Dan kini, di kost harus padai2 mengatur waktu.

Pagi itu gerimis, cukup deras juga. Hanya jaket palestina dan topi lapangan yang ku pakai. Ku percepat langkah kaki menyusuri gang dan jalanan menuju pasar di kota baru ini. Lumayan juga perjalanan perdana ku ini, 15 menit berjalan kaki membuat jaket dan topi kesayangan ku basah. Basah karena gerimis dan keringat. Sepanjang jalan juga banyak genangan air karena saluran yang tersumbat. Ada juga jembatan kayu using yang mesti ekstra hati2 melewatinya. Bukan itu saja, jalur kereta ganda juga harus diseberangi dengan teliti. Salah melangkah bisa jatuh.

Sesampainya di pasar, bis karyawan sudah menunggu. Sekitar 6 orang sudah berada di dalamnya. Aku pilih duduk dibelakang sopir. Selain ruang lebih lebar, pemandangan depan dan samping juga lega tanpa halangan. Sembari menunggu kawan kerja lainnya, ku rapikan jake dan topi basah ke dalam tas.

Sepanjang perjalanan, aku merenung. Beginilah rutinitas yang akan ku lalui. Bangun lebih awal, pake acara bersih2 kost, masak dan sarapan, hingga berangkat kerja lebih pagi. Beda sekali dengan hari2 sebelumnya di mess kantor di mana kamar sudah ada yang beresi, sarapan sudah siap dan berangkat ke kantor cuma butuh waktu lima menit. Tiga tahun lamanya tinggal di mess dengan semua kemudahan membuat ku jenuh. Itulah motivasi terbesar ku keluar dari zona nyaman. Aku mau menikah, dan tentu saja harus mempersiapkan keperluan dan mandiri, juga tinggal di lingkungan yang kondusif untuk keluarga nanti.

Aku paham konsekuensi keluar dari zona nyaman itu. Biaya kost, listrik, transportasi dan masih banyak lagi. Tak masalah, asal aku menjadi manusia normal seutuhnya. Ada kalanya bekerja, ada kalanya liburan, ada waktu bermasyarakat, dan juga ada waktuuntuk menemukan komunitas kebaikan yang sudah lama hilang dari hidup ku.

Mulai saat ini juga, akan semakin padat aktivitas ku, makin beragam kegiatan ku, dan semakin banyak pula saudara2 ku. Semoga semua itu semakin mendekatkan ku pada ridho Mu ya Allah… memburu waktu, mempersiapkan bekal terbaik untuk kepulanganku.


Niru, 18032015; 08.03

Selasa, 14 April 2015

Katak Kecil yang Tuli


Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi.
Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta...
Perlombaan dimulai...Secara jujur tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara. Terdengar suara: "Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak" atau: "Tidak ada kesempatan untuk berhasil...Menaranya terlalu tinggi...!! . Menyerah saja......."
Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu... ..Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi...dan semakin tinggi.. Penonton terus bersorak "Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!"
Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah... ..Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi...Dia tak akan menyerah! Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!
SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?
Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?
Ternyata... Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!, sehingga ia tidak mendengar teriakan - teriakan pesimis dan cibiran yang dilontarkan oleh para penonton di sekitarnya.
Sahabat.....dalam banyak hal, kadang kita tidak perlu mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis, karena sesungguhnya mereka telah mengambil sebagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita.

Tetaplah selalu....berfikir positif. Dan yang terpenting, berlakulah "TULI" jika ada orang berkata kepada kita bahwa kita tidak bisa menggapai cita-cita kita! Selalu berpikirlah: "I can do it!". Insya Alloh semua akan kita raih dengan usaha dan doa. Biidznillah wa binashrillah. Dengan ijin dan pertolongan Alloh.

Sumber : FB Ust Dwinanto Purworejo
Atas ijin ALLAH SWT ia mempertemukan ku dengan Tarbiyah

Rabu, 01 April 2015

Ajarkan Anakmu Tauhid Sejak Dini

wrrt by  Hamizan Abqari
Pagi itu, jarum jam menunjukkan tepat pukul 06.00. Semua orang sibuk mempersiapkan aktivitas keseharian mereka. Di ujung jalan, dari sebuah rumah sederhana, terdengar seorang anak kecil menyanyikan lagu Sakitnya Tuh Di Sini. Usianya baru lima tahun. Tetapi ia hafal dan sangat fasih menirukan lagu yang biasa diputar tiap pagi oleh orang tuanya.
Dari gambaran di atas, semestinya seorang anak tidak seperti itu. Seusia anak 5 tahun yang masih duduk di bangku TK mestinya diajarkan hal-hal yang positif, karena masa-masa tersebut dalam fase meniru dan mengikuti. Maka sangat berbahaya jika apa yang dilihat dan didengarkannya sesuatu yang mungkar dan tidak ada manfaat sama sekali. Karena untuk menjadi anak yang sholeh, doa dari orang tua saja tidak cukup namun dari semua yang dilihat maupun didengar anak harus dijadikan idola maupun teladan yang baik sehingga anak menirukan atau mengikuti hal-hal yang positif bagi kehidupannya.
Seharusnya yang diberikan pertama kali kepada anak adalah kalimat tauhid. Kalimat itulah yang harus diulang-ulang kepada anak hingga fasih, dengan cara mendikte dan anak menirukan terus menerus dengan mendasari keimanan kepada anak-anak kita.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Hakim, Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya untuk mengajarkan kalimat La ilaaha illallah kepada anak-anak sejak dini. Ibnu Qayim dalam Ahkamul Maulud menegaskan, pada saat anak-anak mulai belajar bicara, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendiktekan kepada mereka kalimat La ilaaha illallah. Maka, dengan kalimat tersebut ita dapat menjelaskan kepada anak bahwasanya Allah maha pencipta, Allah maha pemberi, Allah yang mengatur semua yang ada di alam ini, Allah mendengarkan semua ucapan manusia, mengawasi gerak gerik manusia dan Allah bersama hamba-Nya di mana pun berada.
Sungguh sekiranya semua manusia mengetahui dan yakin betapa besarnya kalimat tauhid yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW, niscaya orang tua akan mewajibkan dirinya mendiktekan dan mengajarkan kalimat Tauhid yang mempunyai makna terdalam dan terbesar jika disertai keimanan dalam hati, sehingga dalam mengajarkan kepada anak juga disertai pengamalan-pengamalan dari yang terkecil, misalnya:
1.    Belajar mensyukuri nikmat yang telah diberikan
2.    Pengenalan tokoh-tokoh yang agung dalam Islam
3.    Pengajaran etika/berperilaku terhadap orang lain
4.    Pengajaran akan tanggungjawab anak terhadap Rabb-Nya, kita bisa mengajaknya shalat ke masjid
5.    Mengembangkan rasa percaya diri dan tanggung jawab dalam diri anak
Doa orang tua mempunyai peranan penting sekali dalam pendidikan anak, bahkan dalam urusan kehidupan, dan hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang memberikan taufiq dan hidayah. Orang tua mungkin telah berusaha maksimal mungkin dalam mendidik anaknya supaya menjadi anak shaleh tetapi tidak berhasil. Sebaliknya, ada anak shaleh sekalipun terdidik di tengah lingkungan yang menyimpang dan jelek bahkan mungkin dibesarkan tanpa mendapat perhatian pendidikan dari kedua orangtua jadi, petunjuk itu semata-mata dari Allah. Dialah yang berfirman:
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَأَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…” (QS. Al Qashash:56).
Maka kita sebagai orang tua tidak boleh melupakan aspek ini dan wajib memohon dan berdo’a kepada Allah semoga berkenan menjadikan kita dan anak keturunan kita orang-orang yang shaleh. Hanya Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan upayakan kalimat Tauhid sudah tertancap di hati anak sejak dini dan diiringi dengan pengamalan sesuai ajaran islam yang benar.
Sungguh, amat berbeda jauh dengan apa yang dilakukan para sahabat Nabi terhadap anak-anak mereka. Mereka tidak saja mengajarkan kalimat tauhid tetapi juga olahraga yang diperintahkan Rasulullah SAW, yaitu: memanah dan menunggang kuda. Para sahabat mengenalkan situasi dan kondisi pada saat berperang di medan jihad.
Wallahu a’lam.