Senin, 30 Maret 2015

Tetaplah Bersama Jamaah

wrt by Ale Ikhwan Jumali

dakwatuna.com - “Yaa Bilal, arihna bi shalaah!” Di suatu medan perang yang mencekam, saat semburat nadi menegang, saat asam laktat menambat hebat, menjadikan energi melemah yang bertambah payah, saat tubuh bersimbah darah di jalan dakwah dan genderang jihad fi sabilillah membedah, Muadzin pertama itu diseru oleh Sang Penghulu Para Syuhada, Rasulullah bersabda,

“Wahai Bilal, Istirahatkan kami dengan shalat!”

Shalat adalah ibadah yang membangkitkan jiwa, menjadi tiangnya agama, dan pilihan utama untuk mengistirahatkan diri kita saat beban begitu menggunung banyaknya.

Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah (Al Hadits). Maka tidak cukup aktifitas kita hanya terhenti di dalam masjid saja, pada liqoat pekanan kita, pada kajian tatsqif rutin kita, pada kajian tahsin dan tafsir kita. Tidak! Kita harus segera berbenah memperbaiki diri dan menyeru orang lain menuju cahaya Illahi.

Lantas, bagaimana aktifitas dakwah kita hari ini?

Sudahkah merasa lelah dan ingin berhenti?

Sudahkah merasa kecewa dan ingin mencari jamaah lainnya?

Jika hari ini kita belum merasakan lelah yang berpayah, Ust Cahyadi Takaryawan justru mengkhawatirkan itu bersebab karena kita belum melakukan apa-apa di dalam dakwah ini. Kok bisa-bisanya, dengan agenda dan urusan keummatan yang sebanyak ini belum menjadikan kita berlelah payah? Atau barangkali karena memang kita belum totalitas berdakwah, baru berkontribusi seadanya dengan energi sisa. Ya pantas saja.

Lelah adalah bagian yang tak terpisahkan dalam perjuangan, kenapa harus merasa kuat sedang nyatanya kita memang lemah tanpa bantuan dari-Nya. Kita hanya perlu untuk terus berjalan, Allah yang akan mencukupkan. Ketika ditanya kapankah kita istirahat? Wajar Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Istirahatnya kaum muslimin adalah saat kaki kanannya menginjak surga.”

Ust Rahmad Abdulllah membuat sebuah pengandaian,

“JIka dakwah adalah cinta, maka cinta akan meminta semuanya dari dirimu”
Ya, benar. Dakwah akan mencabut rasa kantuk dalam kelopak matamu, mengambil rasa lelah dalam tubuhmu, mengambil rasa kecewa dalam hatimu. Semenjak kita memutuskan untuk berafiliasi pada dakwah, maka kita sudah menyepakati semua konsekuensinya, termasuk bersiap untuk merasa kecewa.

Mengutip kalimatnya Ust Cahyadi Takaryawan,

“Dakwah dibangun dengan ikatan cinta. Gerbong dakwah melaju dengan berbagai proses dan dinamika, menuju harapan dan cita-cita yang telah dicanangkan. Dalam perjalanan inilah muncul friksi, muncul perbedaan pandangan, muncul gesekan satu dengan yang lain. Di antara orang-orang yang saling mencinta, akhirnya muncul perasaan kecewa. Muncul tuduhan, muncul praduga, muncul syak prasangka. Maka dalam kumpulan orang-orang yang atas dasar cinta saja masih bisa menimbulkan kekecewaan dan sederetan prasangka, lantas bagaimana dengan orang-orang yang berkumpulnya karena kecewa?”
Seolah kesadaran kita terbangunkan, bahwa keluar dari jamaah bukankah cara yang bijak. Saya selalu mencoba mencari tahu apa yang bisa dihasilkan dari kumpulan orang-orang yang sedang kecewa? Saya tidak menemukan itu, karena memang tidak ada! Mereka hanya sedang membuat barisan untuk menyerang jamaah, kemudian merasa benar dan ingin menunjukkan bahwa jamaah yang ditinggalkan nya memang salah.

Ikhwahfillah, kembalilah…

Jadikankah ikhlas sebagai panglimamu, jamaah sebagai kendaraanmu, totalitas sebagai bahan bakarmu. Dan jihad sebagai tujuan akhirmu. Apa sebenarnya tujuanmu selama ini? Begitu mudahnya antum berpaling dan meninggalkan jamaah yang sudah menjadikanmu menjadi sejauh ini. Kalaulah memang ada yang salah, kenapa tidak engkau perbaiki dari dalam saja? Ataukah antum sedang ingin masuk surga sendirian dan membiarkan kumpulan jamaah ini masuk ke neraka? Ataukah antum sudah mencoba memperbaiki namun tak jua kunjung ada hasil kemudian antum berputus asa dan memilih meninggalkan jamaah?

Ikhwah, ingatkah antum tentang wasiat Allah,
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. 12: 87)

Kita hanya perlu bersabar lebih lama lagi, berjamaah memang melelahkan. Pahamilah dinamika dan segala konsekuensinya. Jika ada yang futur dan keluar dari jamaah, sesungguhnya justru akan memperkuat dan mempersolid jamaah ini. Allah hendak menunjukkan mana dan siapa yang ikhlas dan dan tidak, mana yang pemersatu dan mana yang benalu. Eksistensi barisan sakit hati akan menggarap program kerja pertama mereka. Proyek pertama dan paling utama mereka adalah menyerang jamaah, memilih berseberangan dalam manhaj perjuangan, ini sangat melemahkan, namun disukai oleh musuh islam. Mari rapatkan barisan!

Ikhwahfillah yang masih terjaga dalam jamaah, bertahanlah!

Dengan kesabaran yang baik lagi, dengan kesabaran yang panjang lagi. Jika masih terpikir untuk kecewa dan ingin berhenti, periksa lagi hati. Kapan terakhir shalat jamaah lima waktu sehari? Kapan terakhir target tilawah harian terpenuhi? Kapan terakhir istirahat di dalam shalat malam menjadi destinasi? Kapan terakhir berdiri berlama lama di sepertiga malam yang akhir, kemudian bermunajat dengan segala hajat? Ayo berbenah lagi.

Istirahatkan hati yang sedang menganga terluka, obati perih yang menggores hati,

“Yaa Bilal, arihna bi shalaah!”

Mari rapatkan barisan jamaah kita lagi.

Jumat, 20 Maret 2015

Sekeping Hati

Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap

Berharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata

Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba 


Suci Sekeping Hati (Saujana)

Lirik nasyid itu telah lama kudengar. Saat masih duduk di bangku sekolah. Kira-kira 10 tahun yang lalu. Meskipun demikian, nasyid itu selalu ada di hp, laptop, ataupun komputer kerja. Selain enak nadanya, isinya juga bagus.
Komitmenku untuk terus bersama komunitas ini, serasa mendapatkan nasehat dari nasyid ini. Sedikit mengenalkan komunitas yang ku maksud, kami Cuma manusia biasa. Sadar betul banyak kekurangan yang ada pada diri kami. Meskipun demikian kami punya cita-cita untuk membumikan keyakinan kami,

Di jalan ini, mungkin tidak sedikit yang bersedia bersama kami, sehingga seolah-olah jalanan itu sepi, tak menarik, membosankan, atau malah justru membuang waktu dan uang. RUGI..... Tapi bagi kami, jalan itu sungguh indah. Yang kami tatap adalah tujuan yang jauh didepan. Ada pun sekarang, itulah jalanan yang harus ditempuh demi mencapai tujuan tersebut.

Kami juga menyadari, setiap waktu perjalalan ini tidak sendirian. Akan ada cobaan, rintangan, dan tantangan. Karena itu tabiat jalan tersebut. Ibarat sebuah perangkap yang tersebar untuk menjebak mangsanya. Rintangan itu tidak mudah kawan. Saking beratnya tidak sedikit di antara kami memilih untuk berhenti, dan memilih jalan lain. Beragam cobaan akan menguju setiap jengkal diri. Batin, fisik dan sebagainya akan menemui tantangannya masing-masing. Fisik yang akan lelah, psikis yang mungkin bosan, niat yang kembang kempis.

Jikalau ada yang mengharapkan kesenangan dalam jalan ini, mungkin mustahil. Secara logikan manusia mungkin tidak mungkin. Oleh karena itu, logikan yang kita pakai bukan manusia biasa. Melainkan manusia yang sudah merdeka seutuhnya dari pemikiran sesat. Kita memahami bahwasannya keberadaan di dunia hanya untuk beribadah. Mendapatkan Ridho Allah SWT.

Pengapa jalan perjuangan ini begitu sulit ?? Karena imbalan yang akan kita terima begitu indah................

Gambar: I luv Islam
Tugukecil, 21032015
9.14

Memburu waktu



Kriiiing……Kring……Kring…..
Bunyi alarm hp kian nyaring terdengar dari atas meja. Perlahan mulai jelas hp itu. Ternyata aku tertidur setelah sholat subuh. Quran masih di tangan, sarung masih terpakai, dan sajadah juga masih di lantai. Segera ku rapikan kamar kost, mandi, sarapan dan berangkat kerja.ini adalah hari pertama ku berangkat kerja dari kost. Tiga tahun lebih tinggal di mess kantor membuat ku manja karena banyak waktu luang. Dan kini, di kost harus padai2 mengatur waktu.
Pagi itu gerimis, cukup deras juga. Hanya jaket palestina dan topi lapangan yang ku pakai. Ku percepat langkah kaki menyusuri gang dan jalanan menuju pasar di kota baru ini. Lumayan juga perjalanan perdana ku ini, 15 menit berjalan kaki membuat jaket dan topi kesayangan ku basah. Basah karena gerimis dan keringat. Sepanjang jalan juga banyak genangan air karena saluran yang tersumbat. Ada juga jembatan kayu using yang mesti ekstra hati2 melewatinya. Bukan itu saja, jalur kereta ganda juga harus diseberangi dengan teliti. Salah melangkah bisa jatuh.
Sesampainya di pasar, bis karyawan sudah menunggu. Sekitar 6 orang sudah berada di dalamnya. Aku pilih duduk dibelakang sopir. Selain ruang lebih lebar, pemandangan depan dan samping juga lega tanpa halangan. Sembari menunggu kawan kerja lainnya, ku rapikan jake dan topi basah ke dalam tas.
Sepanjang perjalanan, aku merenung. Beginilah rutinitas yang akan ku lalui. Bangun lebih awal, pake acara bersih2 kost, masak dan sarapan, hingga berangkat kerja lebih pagi. Beda sekali dengan hari2 sebelumnya di mess kantor di mana kamar sudah ada yang beresi, sarapan sudah siap dan berangkat ke kantor cuma butuh waktu lima menit. Tiga tahun lamanya tinggal di mess dengan semua kemudahan membuat ku jenuh. Itulah motivasi terbesar ku keluar dari zona nyaman. Aku mau menikah, dan tentu saja harus mempersiapkan keperluan dan mandiri, juga tinggal di lingkungan yang kondusif untuk keluarga nanti.
Aku paham konsekuensi keluar dari zona nyaman itu. Biaya kost, listrik, transportasi dan masih banyak lagi. Tak masalah, asal aku menjadi manusia normal seutuhnya. Ada kalanya bekerja, ada kalanya liburan, ada waktu bermasyarakat, dan juga ada waktuuntuk menemukan komunitas kebaikan yang sudah lama hilang dari hidup ku.
Mulai saat ini juga, akan semakin padat aktivitas ku, makin beragam kegiatan ku, dan semakin banyak pula saudara2 ku. Semoga semua itu semakin mendekatkan ku pada ridho Mu ya Allah… memburu waktu, mempersiapkan bekal terbaik untuk kepulanganku
Niru, 18032014; 08.03

Menyegarkan Niat

Assalamualaikum….

Sahabat-sahabat ku, terik siang ini saya merasakan adanya teguran atas doa2 ku selama ini. Taukah kamu kira-kira doa apa itu ??

Ya, setiap saat aku ingin bisa istiqomah di jalan Allah SWT. Di sela-sela tugas kantor, sembari bersandar pada kursi teringat oleh ucapan sahabat seperjuangan dulu. “Menulis sebagai bentuk membina diri, dan juga orang besar selalu bisa menyampaikan gagasan melalui tulisan”

Intinya adalah menulis sebagai bentuk pembinaan diri untuk tetap bisa “bertahan”. Dengan menulis kita bisa menyampaikan gagasan bukan sekadar kepada satu atau dua orang saja. Bisa jadi lebih dari itu. Saya pun percaya buku bisa melebihi umur penulisnya. Oleh karena itu saya ingin mengawali niat itu kembali. Menulis…menulis…. dan menulis.

insyaALLAH dengan niat yang sudah disegarkan, akan ada banyak jalan untuk bisa istiqomah… termasuk saat ini jam sudah menunjukkan 13.05. jam kerja kembali aktif. Seiring dengan aktif kembali niat ku untuk menulis…. 

Semoga dimudahkan, aamiin

Wassalamualaikum


Semoga tulisan di atas menjadi doa, harapan untuk terus bisa meningkatkan kemampuan diri dalam dunia menulis... aamiin

Tugukecil, 200315
saat kumandang sholat isya telah terdengar