Kamis, 23 Juli 2015

Doa Rabithah: Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan

Siang tadi (Sabtu 3 Desember 2011), saya mengikuti acara Tatsqif Kader Dakwah di Markaz Dakwah Gambiran, Yogyakarta. Ustadz Tulus Musthafa menyampaikan tausiyah yang sangat mengena. Penjagaan terhadap kader pada era dakwah di ranah publik harus semakin dikuatkan. Sarananya, kata beliau, telah terangkum dalam Doa Rabithah yang rutin kita baca setiap pagi dan petang.
Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang…..
Suatu masa, di era 1980-an…..

Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang aktivis dakwah, tidak banyak, hanya beberapa orang saja, duduk melingkar dalam sebuah majelis. Di ruangan yang sempit, diterangi lampu temaram, duduk bersila di atas tikar tua, khusyu’, khidmat, tawadhu’.
Tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Berbincang membelah kesunyian, pelan-pelan, tidak berisik. Semua datang dengan berjalan kaki, naik sepeda tua, atau naik kendaraan umum saja. Pakaian mereka sangat sederhana, apa adanya, bersahaja. Hati mereka sangat mulia.

Duapuluh tahun yang lalu, beberapa orang itu bercita-cita tentang kejayaan sebuah peradaban. Cita-cita besar, mengubah keadaan, menciptakan peradaban mulia. Wajah mereka tampak teduh, air wudhu telah membersihkan jiwa dan dada mereka. Tidak ada yang berbicara tentang fasilitas, materi, jabatan dan kekuasaan.
Mengakhiri majelis, mereka menundukkan wajah. Tunduk dalam kekhusyukan, larut dalam kehangatan persaudaraan, hanyut dalam samudera kecintaah. Doa Rabithah mereka lantunkan. Syahdu, menusuk kalbu.
Air mata berlinang, bercucuran. Akankah segelintir orang ini akan bisa mengubah keadaan ? Akan beberapa orang ini akan mampu menciptakan perubahan ? Hanya Allah yang mengetahui jawaban semua pertanyaan. Doa telah dimunajatkan, dari hati yang paling dalam :
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.
“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.
“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Sejuk, menyusup sampai ke tulang, mengalir dalam darah. Meresap hingga ke sumsum dan seluruh sendi-sendi tubuh. Merekapun berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat. Masing-masing meninggalkan ruangan. Satu per satu. Hening, tenang. Tidak ada kegaduhan dan kebisingan.

Masa bergerak, ke era 1990-an
Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlahnya, berkumpul dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ruang itu milik sebuah Yayasan, yang disewa untuk kantor dan tempat beraktivitas. Mampu menampung hingga seratus orang. Semua duduk lesehan, di atas karpet. Lampu cukup terang untuk memberikan kecerahan ruang.

Sebuah Daurah Tarqiyah dilakukan. Para muwajih silih berganti datang memberikan arahan. Taujih para masyayikh di seputar urgensi bersosialisasi ke tengah kehidupan masyarakat, berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik, memperluas jaringan kemasyarakatan dengan pendekatan personal dan kelembagaan. Semua aktivis diarahkan untuk membuka diri dan berkiprah secara luas di tengah masyarakat. Membangun jaringan sosial dan membentuk ketokohan sosial.

Sekumpulan aktivis dakwah, jumlahnya cukup banyak, datang dengan mengendarai sepeda motor, beberapa tampak mengendarai mobil Carry dan Kijang tua. Wajah mereka bersih, bersinar. Penampilan mereka tampak intelek, namun bersahaja. Sebagian berbaju batik, sebagian lainnya berpenampilan rapi dengan setelan kemeja dan celana yang serasi.

Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Namun sangat sarat muatan makna. Sebuah keyakinan semakin terhujamkan dalam jiwa, bahwa kemenangan dekat waktunya. Kader dakwah terus bertambah, aktivitas dakwah semakin melimpah ruah. Semua optimis dengan perkembangan dakwah.
Usai acara ditutup dengan doa. Hati mereka khusyu’, jiwa mereka tawadhu’. Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlah mereka, menengadahkan tangan, sepenuh harapan dan keyakinan. Munajat sepenuh kesadaran :
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.
“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Mereka berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat dan hangat. Hati mereka tulus, bekerja di jalan kebenaran, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan. Doa Rabithah mengikat hati-hati mereka, semakin kuat, semakin erat.
Perlahan mereka meninggalkan ruangan, menuju tempat beraktivitas masing-masing. Khidmat, hening, namun tetap terpancar wajah yang cerah dan harapan yang terang benderang.

Masa terus mengalir, sampai ke era 2000-an….
Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Memenuhi ruangan ber-AC, sebuah gedung pertemuan yang disewa untuk kegiatan. Diterangi lampu terang benderang, dengan sound system yang memadai, dan tata ruang yang tampak formal namun indah. Tampak bendera berkibar dimana-mana, dan sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta dipasang indah di berbagai ruas jalan hingga memasuki ruangan.

Sebuah kegiatan koordinasi digelar untuk mempersiapkan perhelatan politik tingkat nasional. Para aktivis datang dengan sepeda motor dan mobil-mobil yang tampak memadati tempat parkir. Mereka hadir dengan mengenakan kostum yang seragam, bertuliskan kalimat dan bergambarkan lambang partai. Di depan ruang, tampak beberapa aktivis berseragam khas, menjaga keamanan acara.
Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Mereka duduk berkursi, tampak rapi. Pakaian mereka formal dan bersih, sebagian tampak mengenakan jas dan dasi, bersepatu hitam mengkilap. Sebagian datang dengan protokoler, karena konsekuensi sebagai pejabat publik. Ada pengawal, ada ajudan, ada sopir, dan mobil dinas.

Para qiyadah hadir memberikan arahan dan taklimat, sesekali waktu disambut gegap gempita pekik takbir membahana. Rencana Strategis (Renstra) dicanangkan, program kerja digariskan, rancangan kegiatan telah diputuskan, para kader siap melaksanakan seluruh keputusan. Acara berlangsung meriah, diselingi hiburan grup nasyid yang tampil dengan penuh semangat.
Acara selesai, diakhiri dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, memimpin doa, munajat kepada Allah dengan kerendahan hati dan sepenuh keyakinan akan dikabulkan. Doa pun diumandangkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Acara resmi ditutup. Para aktivis berdiri, berjabat tangan, meninggalkan ruangan dengan khidmat. Terdengar kebisingan suara sepeda motor dan mobil yang mesinnya dihidupkan. Sepeninggal mereka, tampak panitia sibuk membereskan ruangan.
Masa cepat bergulir, hingga di era 2010-an…..

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Harus menyediakan ruangan yang sangat besar untuk menampung jumlah tersebut. Ruang kantor Yayasan sudah tidak bisa menampung, ruang pertemuan yang sepuluh tahun lalu digunakan, sekarang sudah tampak terlampau kecil. Harus menyewa gedung pertemuan yang memiliki hall besar agar menampung antusias para aktivis dari berbagai daerah untuk datang.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang naik pesawat, berasal dari Aceh hingga Papua. Berseragam rapi, semua mengenakan atribut dan jas berlambang partai. Peserta yang datang dari wilayah setempat datang dengan mobil atau taksi. Semua tampak rapi dan bersih.

Ruangan yang besar itu penuh diisi para aktivis dakwah yang datang dari seluruh pelosok wilayah. Dakwah telah tersebar hingga ke seluruh penjuru tanah air. Sebagian telah menempati posisi strategis sebagai pejabat pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, baik di eksekutif maupun legislatif. Hadir dengan sepenuh keyakinan dan harapan akan adanya perubahan menuju pencerahan.

Berbagai problem dan persoalan diutarakan. Berbagai ketidakpuasan disampaikan. Banyak kritik dilontarkan. Banyak saran dan masukan diungkapkan. Semua berbicara, mengevaluasi diri, mengaca kelemahan dan kekurangan, memetakan arah tujuan, namun tetap dalam bingkai kecintaan dan kasih sayang. Para aktivis sadar bahwa masih sangat banyak kekurangan dan kelemahan yang harus terus menerus diperbaiki dan dikuatkan. Semua bertekad untuk terus berusaha menyempurnakan.

Sang Qiyadah memberikan taujih dengan sepenuh kehadiran jiwa, “Nabi telah berpesan, bahwa sesungguhnya kalian dimenangkan karena orang-orang lemah di antara kalian. Maka tugas kita adalah selalu memberikan perhatian terhadap masyarakat, terlebih lagi kelompok dhuafa. Termasuk dhuafa di antara kader dakwah. Jangan pernah melupakan kerja para kader yang telah berjuang di pelosok-pelosok daerah. Lantaran kerja merekalah kita diberikan kemenangan oleh Allah”.

Lugas, tuntas. Arahan telah sangat jelas. Acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, mengajak semua peserta menghadirkan hati dan jiwa, dengan khusyu’ munajat kepadaNya agar senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan. Doapun dilantunkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.
“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Ternyata, doa Rabithah telah menghiasi perjalanan panjang kami. Bergerak melintasi zaman, dengan beragam tantangan, dengan aneka persoalan. Para aktivis selalu setia dengan arah tujuan, bergerak pasti menuju ridha Ilahi. Doa Rabithah tidak pernah lupa dimunajatkan, di waktu pagi dan malam hari.

Kesetiaan telah teruji pada garis waktu yang terus bergerak. Lintasan mihwar membawa para aktivis menuju kesadaran, bahwa kejayaan adalah keniscayaan, selama isi Doa Rabithah diamalkan, bukan sekedar diucapkan…..

Kabulkan permohonan kami, Ya Allah….

Musyawarah MALIKI SMA N 7 Purworejo, 2011
Sudahkah kita mengingat mati hari ini?
Sedangkan maut tak pernah memberitahukan kapan datangnya
Sudahkah kita mencurahkan segala cinta kita untuk-Nya subuh ini?
Sedangkan belum tentu nikmat iman berpadu selamanya di dalam diri
Sudahkah wahai Ikhwah?

Bismillah…

dakwatuna.com - Sejenak, marilah kita sama-sama renungkan tentang karya-karya yang telah dihasilkan orang-orang mulia. Bagaimana kisah Salman Al-Farisi, lelaki Persia dengan segala kemuliannya. Yang meskipun hanya meninggalkan beberapa harta ketika meninggal masih saja menangis karena merasa punya tanggung jawab yang besar kepada Allah swt. Atau cobalah kita saksikan keyakinan yang begitu kuat yang dimiliki oleh Khalid bin Walid bahwa Allah akan membantunya, dan dengan tenang menerima tantangan meminum minuman beracun dari pasukan Romawi.

Merekalah orang-orang mulai yang begitu teguh keyakinannya kepada Allah. Iman yang melekat di dalam diri mereka laksana darah yang mengaliri semua bagian tubuh mereka, iman bagi mereka adalah harta paling berharga, karena dia memberikan energi untuk bergerak, membongkar kemalasan yang sering mendera, dan iman bagi mereka adalah sumber kekuatan terbesar, terdahsyat, dan tak tergantikan oleh apapun.

Merekalah orang-orang mulia yang tercatat dalam sejarah bahwa meninggalnya mereka selalu dalam keadaan syahid, bahwa kehidupan mereka laksana air penyejuk bagi orang-orang di sekitar mereka, bahwa akhlaq
 mereka begitu dekat dengan Al-Qur’an, bahwa keberanian mereka membela agama Allah begitu membara di dalam jiwa.
Ya… Merekalah orang-orang yang hatinya selalu terhimpun untuk berjuang di Jalan Allah. Dengan bekal keimanan dan ketakwaan yang begitu kuat. Mereka mencapai kemuliaan hidup yang sangat sulit kita rasakan.

Saudaraku….

Keberhasilan meletakkan Allah di dalam diri mereka, adalah karena usaha yang begitu keras untuk selalu dekat dengan-Nya. Mereka tidak lena di malam hari, dibuai mimpi atau lebih memilih bersenang-senang dengan istri-istri mereka, mereka tidak pernah takut jika harus mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk agama Allah, mereka orang yang selalu bersemangat tatkala masa jihad telah tiba. Karena saatnya mereka membuktikan kecintaan dan keimanan mereka kepada Allah swt.

Lalu…

Mari kita bandingkan diri-diri kita dengan mereka.
Coba kita tengok berapa lama kita habiskan waktu kita untuk mengingat mati?
Berapa lama kita habiskan untuk men-tadabburi ayat-ayat-Nya?
Berapa lama kita memeras keringat untuk menguatkan jalan dakwah ini?
Berapa lama wahai ikhwah?
Berapa lama?

Betapa jauh….
Betapa jauh jika kita bandingkan dengan pengorbanan mereka.
Betapa kita sering berkeluh kesah, marah, kecewa, benci, bahkan kata-kata tak sanggup mengemban amanah dakwah ini begitu sering terucap.
Lantas jika mental ini dimiliki oleh seorang ikhwah kapan kita bisa membangun bangsa?
Kapan kita bisa merubah peradaban ummat?
Kapan wahai ikhwah?
Kapan?

Menunggu kalian berhenti menyelesaikan permainan game di depan komputer?
Menunggu kalian siap untuk menjadi Murabbi?
Menunggu kalian selesai tidur setelah subuh untuk datang syura?
Menunggu dan menunggu?
Itu yang ingin kalian katakan wahai ikhwah?

Wahai ikhwah

Hari ini…
Sudahkah kita ingat seberapa besar amal yang kita kerjakan?
Sudah berapa lembarkah tilawah kita?
Masihkah sujud di malam hari kita kerjakan?
Masihkah kita mengingat bahwa lapar di siang hari adalah energi bagi jiwa-jiwa para da’i?
Masihkah kita merenung bahwa bekal yang paling baik adalah iman dan takwa?
Masihkah dan masihkah wahai Ikhwah ?

Wahai ikhwah….
Sudahkah diskusi-diskusi keseharian kita bermuatan ilmu dan saling nasihat-menasihati ?
Sudahkah cerita-cerita kita berujung kepada perbaikan diri-diri kita ?
Sudahkah forum-forum syura kita menghasilkan kerja-kerja dakwah yang menggerakkan ?
Sudahkah wahai ikhwah ?
Sudahkah ?

Mari kita bertanya..
Jika saat ini, masih saja banyak kader yang lemah, masih saja dakwah ini tersendat-sendat, mari kita bertanya ke dalam diri kita..

Sudah dekatkah kita dengan-Nya ?
Sedangkan DIA adalah Zat Pemberi Kemenangan.
Sudah kuatkah amalan-amalan kita kepada-Nya ?
Sedangkan ia adalah senjata orang-orang yang mulia
Sudah seberapa jauhkah kita membuat tubuh ini letih bekerja di jalan-Nya ?
Sedangkan keletihan senantiasa melahirkan getar-getar iman yang mendalam..

Jika belum..
Mari sama-sama kita renungkan..

Keep Hamasah..
Allah mencintaimu…
Yogya, 10 Maret 2009
Di ujung Subuh yang memerah
Untuk sebuah kerinduan pada sosok-sosok mulia di lintasan zaman, terima kasih telah memberi inspirasi.. semoga ruh dan semangat itu selalu mengalir di dalam diri-diri kita. Meski wajah-wajah mereka (mungkin) takkan pernah kita saksikan.
Meski malam yang larut telah lewat
Ingin kukenang masa-masa itu
Ketika bumi Andalusia berhasil ditaklukkan
Ketika kemenangan perang Badar membahana di seantero Arab
Ketika Bilal bin Rabah meneriakkan ahad.. ahad.. ahad..
Ketika Ali RA syahid menjelang fajar
Ketika Umar RA berjalan dan membuat syaitan ketakutan..
Ya…
Aku ingin mengenang masa itu..
Agar diri merasa
Diri terpesona
Pada mereka..
Sosok-sosok yang mulia.

secercah harapan dari belantara rimba




sebuah tulisan singkat ku, dulu....
ketika akan ku ayunkan langkah kaki ku..
menapaki episode kehidupan..
jauh di perantauan





Assalamualaykum wm. wb.

Detik-detik menjelang pergantian waktu menuju 2 Desember 2011, di Bumi Sriwijaya
Sebuah kepingan waktu yang menyusun episode perjuangan untuk meniti jalan Illahi.
Sebuah usaha, yang dilakukan dengan segenap keterbatasan diri menuju kekayaan harapan..
Adalah ridho dan maghfiroh dari Robb semesta alam, tujuan yang menjadi sumber kekuatan.
Teriring basmallah pada setiap awal langkah, zikir di setiap tarikan nafas...
Semoga sedikit azzam di hati, kan memudahkan langkah menuju JannahMU....
Amin..

Wassalamualaykum wm. wb.


Minggu, 21 Juni 2015

Surat Terbuka Untuk Para Pejuang Dakwah

dakwatuna.com – “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang meyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mugkar; merekalah orang-orang yang beruntung” ( Al Imran; 104)

Untukmu para pejuang dakwah….

Pekerjaan mana lagi kah yang lebih mulia daripada menegakkan agama Allah yang semata-mata hanya mengharap ridha dari Allah? Pekerjaan mana lagi kah yang lebih beruntung daripada mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Jawabannya, tidak ada. Ya, tidak ada yang lebih mulia dan lebih beruntung dari berdakwah, mengajak hamba-hamba Allah lainnya untuk ikut merasakan nikmatnya sebuah iman. Bukankah surga terlalu luas untuk kau huni sendiri?

Untukmu para pejuang dakwah….

Untukmu yang telah memilih jalan ini, menjadi bagian dari perjuangan ini merupakan nikmat yang tidak ada duanya. Bersyukurlah, kau telah dipilih Allah memperjuangkan dan menyeru agamaNya. Yakinlah bahwa Allah tidak akan memberikan amanah kepada hambanya yang tidak mampu membawanya. Kau telah dipilih Allah karena Allah telah mengokohkan pundakmu untuk membawa amanah ini. Allah telah menambah stok sabarmu untuk mengahadapi ujian di jalan ini. Nikmatilah setiap detiknya, karena tanpa sadar kumpulan dari detik, menit, jam, bahkan tahun yang dilalui di jalan ini akan menjadi saksi atas perjuanganmu di hadapan Allah, kelak. Insya Allah.

Untukmu para pejuang dakwah….

Berapa banyak yang sudah mundur teratur di jalan ini karena tidak sabar menghadapi ujian-ujiannya. Jalan ini memang tidak mudah, kawan. seperti kata Hasan al-Banna ; Andai perjuangan mudah, pasti ramai yang menyertainya. Andai perjuangan ini singkat, pasti ramai yang istiqomah. Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia, pasti ramai orang yang tertarik padanya. Tetapi hakikat perjuangan bukanlah begitu, turun-naiknya, sakit-pedihnya, umpama kemanisan yang tak terhingga. Kalau dakwah saja mungkin semua orang bisa, tapi yang berdakwah dan mencintai dakwah-lah yang sulit. Karena perjuangan ini membutuhkan orang-orang yang memiliki azzam dan tekad yang kuat.

Untukmu para pejuang dakwah….

Ajruki ‘ala qadri nashabik, pahalamu sesuai kadar payahmu. Salah satu sifat Allah adalah Maha Adil. RIdho dan pahala yang diberikan Allah kepada kita, sesuai seberapa banyak tetesan keringat dan darah yang kita korbankan untuk Allah di jalan ini. Tetaplah berjuang, wahai pejuang. Surga telah merindukan kalian, surga merindukan generasi-generasi Ash Shiddiq Abu Bakar yang berjuang di jalan Allah tanpa ragu, Al Faruq Ibnu Al Khaththab yang memakai keberaniannya untuk berjuang di jalan Allah, serta Al Amin yang selalu sabar menghadapi kerasnya jalan ini. Pun, kita rindu menjadi bagian dari mereka, serindu kita pada sambutan ini;

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabbmu dengan hati puas lagi diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam JannahKu…”(QS. Al-Fajr: 27-30)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/06/68284/surat-terbuka-untuk-para-pejuang-dakwah/#ixzz3dhT0z1Eb 

Kalimat yang Membakar Umar bin Abdul Aziz dari Anak 17 Tahun

Belum lama Umar bin Abdul Aziz merebahkan badannya, datanglah Abdul Malik, anaknya yang saat itu baru menginjak usia ketujuh belas.
“Apa yang Anda lakakukan, wahai Amirul Mukiminin?” tanya Abdul Malik dengan sopan dan tegas.
Umar menjawab, “Anandaku, aku ingin istirahat sejenak. Tiada lagi tenaga yang tersisa dalam jasadku.”
Abdul Malik tak diam mendengar penuturan ayahandanya, “Apakah Anda akan istirahat sebelum mengembalikan harta yang diambil secara lalim kepada yang berhak, wahai kau Amirul Mukminin?”
“Wahai, Ananda, semalam suntuk aku tidak tidur mengurus pamanmu Sulaiman: Jika tiba waktu Dhuhur tiba nanti, Insya Allah akan aku lakukan hal tersebut.”
“Siapa yang menjamin hidup Anda sampai Dhuhur, wahai Amirul Mukminin?”
Kumpulan kata-kata itu seakan membakar kembali semangat Umar dan mengusir rasa kantuk dari kedua matanya, menyegarkan kembali kekuatan dan tekadnya pada tubuh yang lunglai dan capai itu.
“Ananda, mendekatlah kemari…!” ucap Umar.
Usai mendekat, Umar lantas mendekap hangat dan mencium keningnya seraya berucap, “Alhamdulillah. Segala puji milik Allah yang melahirkan anak keturunan yang membantuku dalam agamaku.”
Lalu, ia beranjak dan memerintahkan untuk menyeru rakyatnya, mengumumkan kepada mereka, “Ketahuilah, barangsiapa yang hartanya telah diambil secara lalim, hendaknya dia mengangkat permasalahannya.”
Maha Besar Allah. 
Sumber : http://bersamadakwah.net/kalimat-yang-membakar-umar-bin-abdul-aziz-dari-anak-17-tahun/

Taubatnya Sang Preman Sekolah


Tepat pukul 6.30 bel sekolah berbunyi. Khusus hari senin bel itu berbunyi dua kali karena ada upacara bendera rutin setiap minggunya. Hari ini tiba giliran kelas kami menjadi petugas upacara. Oleh karena itu, aku berangkat sekolah lebih awal dari biasanya.

Sesaat menjelang upacara di mulai, mendadak penglihatan ku mulai kabur dan gelap. Suara yang ku dengar juga mulai kacau, kecil dan tak terdengar lagi. Yang kurasa hanya badan ku melemah dan seolah melayang. Dan ………… aku pingsan.

Apa, aku pingsan ?

Seolah tak percaya karena aku memang belum ernah mengalaminya. Dibantu tim palang merah remaja, aku jalan terkulai menuju ruang kesehatan. Sebenarnya tidak jauh tempat itu dari lapangan upacara, namun karena kondisi ku lemah sehingga terasa berat.dan perlu bantuan orang lain untuk ke sana

Sesampainya aku di ruang kesehatan, tampak ada seorang siswa yang sangat aku kenal. Sayangnya bukan prestasi atau sikap baiknya yang menjadikan aku kenal, melainkan sikap kasar dan kenakalannya. Jujur saja aku lebih suka nongkrong di perpustakaan dari pada tinggal di ruang kesehatan bersama preman sekolah itu.

Sesaat terdengar suara komandan upacara pertanda upacara sudah di mulai. Ku pandangi suasana ruang kesehatan hingga lapangan upacara. Dari pinggir lapangan tampak bu Ani berjalan menyusuri pinggir lapangan. Ternyata beliau menuju ruang kesehatan ini. Beliau adalah wali kelas ku, jadi wajar bila beliau ingin tahu kondisi siswanya yang tidak mengikuti kegiatan rutin setiap hari senin itu.

Bu guru yang terkenal dengan logat khasnya itu menanyakan kondisi ku, sembari berjalan menuju almari minuman. Dibukanya pintu dan menawari minuman yang sudah disiapkan untuk siswa yang sakit.

“Gimana kondisi mu sekarang De ? Sudah lebih baik kan ? ini ibu ambilkan minuman biar kondisi mu cepat pulih” kata bu ani

“Alhamdulillah saya sudah lebih baik bu, Cuma sedikit pusing. InsyaALLAH kalo sudah tilawah, saya sehat lagi. Mungkin danang lebih perlu minuman itu bu” jawab ku sambil menoleh ke arah danang.

Danang yang dari tadi main hp dari balik selimut cuma mengangguk saja tanda ia setuju.
“ah, aklo danang sih ga usah di kasih. Dia kan malas ikut upacara, makanya pura2 sakit. Hey, kamu itu cepet hilang nakalnya, biar jadi anak pintar” kata bu ani sambil duduk di bangku administrasi kesehatan.

Aku pun cuma ketawa kecil

Setelah pusing ku sedikit hilang, ku ambil hp di kantong celana. Ku buka aplikasi quran, dan ku lanjutkan ngaji semalam yang tak sempat ku baca setelah sholat subuh. Mungkin ini yang menyebabkan ku lemah pagi ini. Oleh karena itu dengan semangat ku lanjutkan ngaji ku.

“De, kamu ga minum ya ? Kamu mesti minum, biar cepat pulih. Ingat pesan ibu ani tadi” kata danang sembari berjalan menuju pinggir jendela ruang kesehatan

“Aku puasa bro, insyaALLAH aku lanjutkan sampai maghrib nanti. Baru aku minum dan makan” Ku jawan pertanyaan danang. Dia hanya bengong mendengar jawaban ku

Aku baca Quran sambil sesekali ku lihat danang. Rupanya dia mendengarkan apa yang ku baca. Surat lanjutan ngaji ku pas di Surat Ar Rahman. Selesai dengan membaca, ku lanjutkan membaca arti setiap ayat surat tersebut.

Tiba2 ku dengar isak tangis seseorang. Makin lama makin kuat tangisannya. Meskipun ia berusaha menahan tangisnya, tapi aku yakin dia berada di dekat ku. Setelah aku selesai membaca terjemahan, aku baru memastikan dari mana suara isak tangis itu.

Masyaallah, ternyata danang. Danang bisa menangis ? Masa iya preman sekolah bisa nangis, adanya orang dibuat nangis sama dia ? atau jangan2 dia sakit, tapi sakit apa ya yang bisa bikin dia nangis ?

“Kamu kenapa danang ? sakit ya, sakit apa ? ayo bilang biar aku panggil petugas kesehatan sekolah” ku borong pertanyaan untuk memastikan ia baik2 saja

“De, aku capek… aku capek sama kenakalan ku selama ini. Aku pingin taubat, aku kapok” jawab danang sambil terisak.

Tentu saja jawaban itu membuat ku bingung. Apa yang bisa buat ia berkata seperti itu ?

“Ku dengar tadi quran yang kau baca, bergetar badan ku, sesak nafas ku. Tak terbayang begitu banyak dosa ku. Banyak maksiat yang telah ku lakukan, banyak nikmat tuhan yang tak aku syukuri. Dan sekarang aku pingin berubah” jawab dia sambil meringkuk di pojok ruang ini.

“Sebenernya sudah lama aku perhatikan kamu sama kawan2 lainnya, sholat di masjid sekolah, ngaji bareng, dan banyak kegiatan yang kalian kerjakan di sana. Sebenernya aku pingin ikut. Tapi… tapi…” iya tak sampai mampu melanjutkannya. Hanya tangisan saja yang bisa ia lakukan

“ Sabar Danang, tenang. Katakana saja, tapi apa ??” Tanya ku penasaran dengan kalimat sambungannya.

“Aku malu, aku merasa tak pantas duduk bersama kalian. Aku kotor, aku penuh dosa, dan aku tak layak. Jujur aku pingin berubah. Aku sadar selama ini hidup ku kacau. Apa kah kamu mau ngajari aku ngaji ? ngajari aku sholat ? ngajari aku agama ?”

Sungguh aku hampir tak bisa berkata2 lagi. Kaget bercampur kagum rasanya ku lihat seorang preman yang ingin berubah

“Tenang bro, insyaALLAH kami siap membantu. Aku juga masih belajar, ngajiku belum lancar, makanya perlu komunitas kebaikan untuk selalu saling mengingatkan. Kalo sudah kita sadari, bismillah saja. Kita jalani, terserah orang mau menilai apa. Yang penting kita makin dekat dengan allah swt. Karena IA lah sumber kekuatan dan ketenangan hidup kita.”

“Makasih bro, nanti tunggu aku ya di masjid pas jam istirahat pertama. Aku pingin sholat dhuha bareng kalian” kata danang sebelum kembali ke kelas

Wow, subhanallah.

Jujur, aku juga masih belajar. Aku juga ngerasa semua yang aku lakukan bersama kawan2 rohis adalah hal yang biasa. Lumrah gitu. Jalan sekolah bareng, ngerjain tugas bareng2, sholat dhuha bareng, sholat berjamaah dan ngaji bareng, dan semua kegiatan sekolah ataupun oranisasi kami lakukan bersama2.


Ternyata orang lain memperhatikan kita. Jika niat kita memang mencari rido allah swt, maka yakinlah gelombang kebaikan itu akan menyentuh hati orang lain dan mengajak bersama dalam kebaikan

RAMADHAN DELAPAN RASA


Cilacap, 2008
illustrasi

Cilacap merupakan tempat tinggal orang tua ku. 30 tahun lamanya beliau berdua mengabdi menjadi guru sekolah dasar. Bilangan waktu yang tidak sedikit.
Sebagai pendatang, kami sudah bisa beradaptasi dan bahkan banyak yang mengira kami warga asli daerah tersebut. Di sana ku habiskan masa kecil, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama.
Tahun 2008, aku sudah duduk di perguruan tinggi. Ramadhan ini banyak ku habiskan di rumah. Aku merasa selama ini waktu untuk keluarga terlalu sedikit. Tinggal di kos dan hanya pulang setahun 3 kali, sehingga setiap kali libur kugunakan untuk keluarga.
Kegiatan ku antara lain bersih2 rumah, berkebun, memasak dsb. Menjelang idul fitri pasti kami membuat kue hidangan lebaran.



Klaten, 2009 

Klaten merupakan salah satu kabupaten perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Provinsi  Jawa Tengah di sisi timur. Ramadhan 2009 ku bertepatan dengan akhir masa prakek kerja masyarakat, atau yang lebih dikenal dengan istilah KKN.
3 bulan lamanya kami di sana, banyak kesan baik yang kami rasakan. Kami yang datang dengan berbagai latar suku, budaya, bahasa, dan disiplin ilmu harus mampu beradaptasi dengan lingkungan jawa khas Klaten lereng Gunung Merapi. Alhamdulillah selama masa KKN, program yang kami ajukan diterima dengan baik oleh masyarakat, dan kami merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat di sana.
Ramadhan 2009 ini kami mengenal suasana khas Klaten di mana budaya dan agama disandingkan. Acara yang sudah dilakukan secara turun temurun seperti padusan, kegiatan bersih masal masyarakat menjelang bulan suci ramadhan. Ada juga ruahan, di mana setiap keluarga membawa sepikul makanan untuk dikumpulkan di makam leluhur dan di makan bersama.
Meskipun tidak ada tuntunannya, satu nilai positif adalah kebersamaan dan kerukunan masyarakat terus terjaga. Begitu juga dengan silaturahim yang terus terjalin antar warga


Kalimantan, 2010 

Untuk pertama kalinya aku berada di Pulau Kalimantan. Sebagai mahasiswa kehutanan, praktek di  Kalimantan itu sesuatu yang wajib hukumnya. Meskipun menjadi salah satu keingian ku untuk pergi ke pulau tersebut, sejujurnya aku anggap itu hal mustahil karena sampai saat itu sudah bergulat dengan ujian skripsi.
Di sana lah Allah SWT mengingatkan ku bahwa sesuatu apapun itu bisa terjadi dengan izinNYA. Menjelang penentuan tanggal ujian skripsi, seorang dosen pembimbing dan penguji skripsi mendadak haru ke negeri matahari terbut untuk urusan dinas kampus. Alhasil kelulusan ku pun mundur, aku pun syok karena harus mundur 6 bulan.
Seorang dosen merekomendasikan ku untuk bergabung dengan tim penelitian untuk satwa dilindungi. Selain mengisi waktu menunggu dosen pulang, penelitian itu juga untuk mengenal dunia kehutanan lebih lajut karena lokasi penelitian benar2 di hutan alam dan belum pernah aku bayangkan sebelumnya.
Tiga bulan menjelang Ramadhan menjadikan jadual penelitian diubah, lebih padat dilapangan sehingga waktunya puasa, tinggal merekap data dan persiapan laporan. Satu hari menjelang puasa, tim sudah keluar dari lokasi di pedalaman daerah sangatta menuju kota Berau. Sedangkan hari pertama puasa, kami lanjutkan perjalanan dari kota Berau menuju kota Balikpapan menggunakan jalur udara. Sejak awal kami persiapkan dan waktu yang ada digunakan dengan efektif sehingga jadual membuat laporan pun sudah selesai. Waktu sisa dua hari kami habiskan untuk berlibur, belajar sedikit kultur, dan menikmati suasana ramadhan di kota itu.


Jogjakarta, 2011

Ramadhan 2011 ini tepat hari libur panjang . Tahun itu aku sudah bekerja di pulau Sumatera. Perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan industri menjadi pilihan. Ku atur waktu libur sehingga ramadhan bisa libur penuh hingga 7 hari setelah lebaran. Baik bus atupun pesawat, semua tidak bisa mengantar ku langsung ke kota orang tua ku, sehingga aku putuskan singah di kota Jogja.
Banyak hal yang bisa ku lakukan di kota gudeg ini. Menghilangkan penat pascakerja, refresing dan sebagainya. Tak lupa kukunjungi sahabat yang masih menyelesaikan study nya, ku datangi tempat yang menjadi saksi perjuangan dulu meraih gelar sarana, dan juga tempat bersejarah bagi ku mendapatkan hidayahNYA menemukan Tarbiyah.
Dan pastinya sebagai anak aku ingin memberikan hadiah untuk kedua orang tua ku, kakak, dan adik ku. Tentu saja sebatas yang aku mampu. Bagi ku, bisa member dan membuat keluarga ku tersenyum adalah segalanya.
Jogja memang istimewa


Lematang, 2012

Tahun di mana aku mulai telat pulang. Mudik puasa pun hanya bisa ku lakukan menjelang lebaran. Ini lokasi pertama aku bekerja. Tempat perbatasan kabupaten Muara Enim dan Lahat, Sumatera Selatan.
Mulai ku biasakan dengan lingkungan kerja, kultur budaya, makanan dan semua pernak pernik ramadhan, kususnya saat puasa di lokasi yang jauh di pedalaman. Semua keterbatasan itu menjadikan ku lebih mudah mengingat besarnya karunia yang Allah SWT berikan.
Alhamdulillah semua rekan kerja ku baik, untuk sahur dan buka kami masak dan makan bersama. Sesekali juga aku diajak tidur di rumah mereka. Hal yang paling aku ingat adalah sore sepulang kerja kami ke kebun mencari kelapa muda, membawanya ke GOR kota dan buka bersama di sana. Sebenarnya banyak penjual makanan untuk berbuka, tapi kami memilih untuk membawa sendiri dari kebun. Adapun orang yang lewat hanya senyum memandang tingkah kami yang sok cuek.. hehehe J




Niru, 2013

Setahun kemudian, aku pindah lokasi kerja di Kantor Pusat Operasional (KPO Niru). Sebagai pusat operasional, tentu saja aku mesti sering keliling 3 kantor wilayah yang membawahi areal di 6 kabupaten.
Ku atur ritme kerja supaya pekerjaan bisa berjalan tanpa mengganggu puasa ku. Sering kali pulang dari lokasi menjelang buka puasa. Oleh karena itu segera aku mandi dan pergi ke masjid kantor karena setiap hari ada buka puasa bersama. Di sana aku mulai mengenal lebih banyak ragam makanan khas daerah seperti pempek, tekwan dsb. Yang paling aku suka tentu saja Pempek Kapal Selam. Pernah suatu hari, saat buka puasa makan 2 porsi PKS, paginya ga sahur karena masih kenyang. hehe
Ramadhan tahun ini terasa lebih capek karena mesti lebih banyak keliling lokasi, meskipun demikian, fasilitas ibadah dll relatif lebih baik dari sebelumnya. Alhamdulillah, beguyuuuur


Prabumulih, 2014

Hari pertama masuk kerja pascalebaran, kuputuskan untuk tinggal kost di kota Prabumulih. Banyak yang menyayangkan kenapa mesti kost, tidak di mes lagi. Kenapa buang uang untuk sesuatu yang tidak perlu ? jawaban ku sederhana, aku mau nikah. Jadi perlu persiapan, perlu latihan gitu biar ga kaget nantinya. Yang bikin senyum kecut itu kalo ada kawan yang nanya, “Emang calonnya sudah ada ?” ah, itu urusan Allah SWT, aku Cuma bisa buat rencana J
Kegiatan Tarbawi ku yang dulu pernah berhenti, kini jalan lagi. Alhamdulillah dari sana lah pertolongan Allah muncul. Melalui seorang ustadz, aku dikenalkan dengan seorang gadis dari kota minyak ini. Cukup 2 minggu, aku mantap untuk melamarnya. Jadi ramadhan pertama di kota ini, aku sudah ditemani bidadari J
Ramadhan ini aku benar2 mendapatkan banyak berkah, keluarga baru, saudara baru di jalan Tarbiyah dan masih banyak lagi yang tentunya ak bisa ku uraikan sau persatu. Alhamdulillah



Prabumulih, 2015

4 Juni 2015,hadir di tengah2 keluarga kami. Seorang putri cantik yang Allah SWT kirimkan. Seperti kado pernikahan pertama kami.
Meskipun penuh dengan kekurangan, aku dan istriku selalu berusaha member yang terbaik untuk bidadari kecil itu. Kami pun mulai mengerti pengorbanan orang tua untuk kami. Meskipun kami tau tak akan mampu membayar pengorbanan mereka.
Ramadhan ini, ada tangisan bidadari kecil, ada tawa lebih karena melihat polah lucu sang bidadari. Bidadari kecil itu yang telah memberikan warna kehidupan kami menjadi lebih lengkap. Semoga kamibisa membimbing mu menjadi bidadari dunia akhirat,
aamiin

Jumat, 19 Juni 2015

Pesan Singkat Pagi Ini



Bidadari ku
Sama seperti hari-hari biasanya, setelah acara olahraga pagi di salah satu stasiun televisi swasta, saya berkemas menuju kantor. Masih terbayang sms semalam dari orang asing yang sebentar lagi menjadi bagian dari hidup ku, insyaALLAH…

Tak terasa langkah kaki ku sudah sampai di jalan utama kota ini. Di pinggir jalan, bus kantor sudah menunggu, sedangkan ada beberapa kawan kerja yang asyik diskusi di belakang bus sambil memegang koran terbitan setiap hari. 

Tak seperti biasanya, aku langsung masuk ke bus dan duduk  di bangku paling belakang. Sengaja ku pilih di sana karena bisa leluasa baca koran  yang ku beli pagi ini. Dan tentu saja bisa ku baca-baca  lagi sms semalam yang dikirim oleh si dia, orang asing tersebut.

“Dengan niatan yang sama, mengharap ridho Allah SWT saya juga memiliki rencana yang sama dengan Mas. Saya terima niat baik Mas untuk membangun rumah tangga”

Pesan singkat itu tak sesingkat kesannya, berulang kali aku baca pesan itu. Tak pernah bosan rasanya. Justru semakin aku baca semakin sadar begitu banyak nikmat ALLAH SWT yang tercurah pada ku. Jujur aku merasa begitu malu dengan semua nikmat itu sedang aku jarang sekali bersyukur.

Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, memikirkan semua yang telah ku lalui. Sungguh begitu singkat proses  yang ku jalani. Tak kurang dari 2 minggu sudah ku jalani. Hingga tadi malam ku sampaikan niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sudah tak ada lagi alasan untuk menunda. Sudah tak ada lagi alasan untuk menghindar. Kini semua kuserahkan pada MU ya Robb…..

Bimbinglah setiap proses ini…
Jagalah niat kami, luruskan karena mengharap ridho MU
Jadikan kami tergolong dalam orang-orang ahli syukur atas semua karunia MU
Mudahkanlah langkah-langkah kami…
Kekalkan ikatan di antara kami
Jadikan rumah tangga kami adalah sebagian dari rumah tangga peradaban penuh cahaya MU
Jadikan kami pengantin dunia akhirat… istiqomah di jalanMU
Aamiin

Menguatkan kembali mengasah minat menulis J
Teruntuk calon permaisuri ku, jadilah penyeuk mata dan hati ku J


NIRU, 09052014

Selasa, 28 April 2015

Sekeping Doa untuk Pejuang Bumi Anbiya


Ku ayunkan langkah kaki, menuju terminal pasar kota minyak ini. Tak lupa ku perhatikan sekeliling ku. Sudah banyak aktivitas masyarakat setelah sholat subuh. Jual beli di pasar sudah ramai, tukang ojek lalu lalang mengantarkan langganannya, ada juga abang angkot membungkus dan menata barang-barang yang akan ia bawa.

Sesampainya di bis, ku pilih tempat duduk paling depan. Ya itu posisi favorit ku. Pemandangan yang lega tanpa terhalang, dan tentu saja ruang gerak kaki lebih lega dibandingkan kursi lain. Selagi bus menunggu penumpang lain, ku buka hp dan mencari berita. Setiap pagi aku selalu membuka laman berita untuk menambah pengetahuan dan apa-apa yang sedang terjadi.

Sepintas ada berita yang sangat menarik perhatian ku. Kabar tentang palestina. Sejak sekolah aku selalu mengikuti perkembangan beritanya.

Pagi ini ada kabar gembira dan duka sekaligus. Kabar gembiranya adalah parlemen mahasiswa di tepi barat di menangkan oleh gerakan mahasiswa yang berafiliasi ke hamas. Kita sudah tau siapa itu HAMAS, dan apa yang mereka perjuangkan.

Bagi ku, HAMAS adalah pahlawan, bukan saja untuk masyarakat palestina. Ia adalah symbol kekuatan dan semangat untuk mempertahankan bumi nabi yang kini dijajah oleh zionis laknatullah. Dengan orientasi perjuangannya itu lah akhirnya masyarakat palestin mengerti dan mempercayai hamas.

Dalam berita pagi ini, rupanya kancah perpolitikan mahasiswa juga tidak kalah penting. Mahasiswa yang notabene calon generasi mendatang, tulang punggung bangsa juga sudah mulai mengerti akan arti hamas. Oleh karena itulah pemilihan anggota dewan mahasiswa mencerminkan sikap generasi muda terpelajar palestina. Gerakan mahasiswa pro hamas memenangkan pemilihan raya mahasiswa.

Itu artinya hamas memiliki masa depan yang cerah. Masyarakat semakin banyak mendukungnya. Gerakan perlawanan terhadap zionis penjajah makin massif. Berarti pembebeasan palestina seutuhnya semakin terang. Bukan saja dari segi perlawanan kontak senjata yang dilakukan oleh pejuang Brigadir Al Qossam saja, dukungan mahasiswa semakin massif.

Sedangkan kabar sedih datang dari penangkapan aktivis mahasiswa prohamas. Banyak kasus penculikan untuk meredam semangat mahasiswa untuk membebaskan bumi palestin dari penjajahan zionis. Itulah cara curang yang dilakukan oleh musuh. Menculik bahkan membunuh. Meskipun demikian, aku tetap percaya akan semangat para mahasiswa palestina. Pergerakan atas dasar pemahaman dan semangat karena menjaga bumi para nabi, insyaALLAH bereka bersama tentara langit yang tak tampak kasat mata.


Hanya sekeping doa yang bisa aku panjatkan.

Bersama mengalir air mata ku, ku doakan kalian selalu dalam lindunganNYA
Menjaga bumi anbiya, meski nyawa taruhannya
Saudara ku, sejatinya kita adalah Satu
Kalian selalu ada dalam setiap doa2ku
Semoga kalian selalu kuat
Berjuang dengan penuh semangat
Karena tujuan kita adalah akhirat
Maka langkah2 mu kian kuat
Saudara2 ku
Aku di sini bukan berarti berdiam diri
Ku beritakan tujuan mulia mu ke segala penjuru negeri
Hingga mereka mengerti
Singa2 allah penjaga bumi anbiya
Semoga kalian temui cita2 mulia
Bebaskan bumi palestina atau syahid menjadi syuhada


 Prabumulih, 28042015