Minggu, 21 Juni 2015

Surat Terbuka Untuk Para Pejuang Dakwah

dakwatuna.com – “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang meyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mugkar; merekalah orang-orang yang beruntung” ( Al Imran; 104)

Untukmu para pejuang dakwah….

Pekerjaan mana lagi kah yang lebih mulia daripada menegakkan agama Allah yang semata-mata hanya mengharap ridha dari Allah? Pekerjaan mana lagi kah yang lebih beruntung daripada mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Jawabannya, tidak ada. Ya, tidak ada yang lebih mulia dan lebih beruntung dari berdakwah, mengajak hamba-hamba Allah lainnya untuk ikut merasakan nikmatnya sebuah iman. Bukankah surga terlalu luas untuk kau huni sendiri?

Untukmu para pejuang dakwah….

Untukmu yang telah memilih jalan ini, menjadi bagian dari perjuangan ini merupakan nikmat yang tidak ada duanya. Bersyukurlah, kau telah dipilih Allah memperjuangkan dan menyeru agamaNya. Yakinlah bahwa Allah tidak akan memberikan amanah kepada hambanya yang tidak mampu membawanya. Kau telah dipilih Allah karena Allah telah mengokohkan pundakmu untuk membawa amanah ini. Allah telah menambah stok sabarmu untuk mengahadapi ujian di jalan ini. Nikmatilah setiap detiknya, karena tanpa sadar kumpulan dari detik, menit, jam, bahkan tahun yang dilalui di jalan ini akan menjadi saksi atas perjuanganmu di hadapan Allah, kelak. Insya Allah.

Untukmu para pejuang dakwah….

Berapa banyak yang sudah mundur teratur di jalan ini karena tidak sabar menghadapi ujian-ujiannya. Jalan ini memang tidak mudah, kawan. seperti kata Hasan al-Banna ; Andai perjuangan mudah, pasti ramai yang menyertainya. Andai perjuangan ini singkat, pasti ramai yang istiqomah. Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia, pasti ramai orang yang tertarik padanya. Tetapi hakikat perjuangan bukanlah begitu, turun-naiknya, sakit-pedihnya, umpama kemanisan yang tak terhingga. Kalau dakwah saja mungkin semua orang bisa, tapi yang berdakwah dan mencintai dakwah-lah yang sulit. Karena perjuangan ini membutuhkan orang-orang yang memiliki azzam dan tekad yang kuat.

Untukmu para pejuang dakwah….

Ajruki ‘ala qadri nashabik, pahalamu sesuai kadar payahmu. Salah satu sifat Allah adalah Maha Adil. RIdho dan pahala yang diberikan Allah kepada kita, sesuai seberapa banyak tetesan keringat dan darah yang kita korbankan untuk Allah di jalan ini. Tetaplah berjuang, wahai pejuang. Surga telah merindukan kalian, surga merindukan generasi-generasi Ash Shiddiq Abu Bakar yang berjuang di jalan Allah tanpa ragu, Al Faruq Ibnu Al Khaththab yang memakai keberaniannya untuk berjuang di jalan Allah, serta Al Amin yang selalu sabar menghadapi kerasnya jalan ini. Pun, kita rindu menjadi bagian dari mereka, serindu kita pada sambutan ini;

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabbmu dengan hati puas lagi diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam JannahKu…”(QS. Al-Fajr: 27-30)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/06/68284/surat-terbuka-untuk-para-pejuang-dakwah/#ixzz3dhT0z1Eb 

Kalimat yang Membakar Umar bin Abdul Aziz dari Anak 17 Tahun

Belum lama Umar bin Abdul Aziz merebahkan badannya, datanglah Abdul Malik, anaknya yang saat itu baru menginjak usia ketujuh belas.
“Apa yang Anda lakakukan, wahai Amirul Mukiminin?” tanya Abdul Malik dengan sopan dan tegas.
Umar menjawab, “Anandaku, aku ingin istirahat sejenak. Tiada lagi tenaga yang tersisa dalam jasadku.”
Abdul Malik tak diam mendengar penuturan ayahandanya, “Apakah Anda akan istirahat sebelum mengembalikan harta yang diambil secara lalim kepada yang berhak, wahai kau Amirul Mukminin?”
“Wahai, Ananda, semalam suntuk aku tidak tidur mengurus pamanmu Sulaiman: Jika tiba waktu Dhuhur tiba nanti, Insya Allah akan aku lakukan hal tersebut.”
“Siapa yang menjamin hidup Anda sampai Dhuhur, wahai Amirul Mukminin?”
Kumpulan kata-kata itu seakan membakar kembali semangat Umar dan mengusir rasa kantuk dari kedua matanya, menyegarkan kembali kekuatan dan tekadnya pada tubuh yang lunglai dan capai itu.
“Ananda, mendekatlah kemari…!” ucap Umar.
Usai mendekat, Umar lantas mendekap hangat dan mencium keningnya seraya berucap, “Alhamdulillah. Segala puji milik Allah yang melahirkan anak keturunan yang membantuku dalam agamaku.”
Lalu, ia beranjak dan memerintahkan untuk menyeru rakyatnya, mengumumkan kepada mereka, “Ketahuilah, barangsiapa yang hartanya telah diambil secara lalim, hendaknya dia mengangkat permasalahannya.”
Maha Besar Allah. 
Sumber : http://bersamadakwah.net/kalimat-yang-membakar-umar-bin-abdul-aziz-dari-anak-17-tahun/

Taubatnya Sang Preman Sekolah


Tepat pukul 6.30 bel sekolah berbunyi. Khusus hari senin bel itu berbunyi dua kali karena ada upacara bendera rutin setiap minggunya. Hari ini tiba giliran kelas kami menjadi petugas upacara. Oleh karena itu, aku berangkat sekolah lebih awal dari biasanya.

Sesaat menjelang upacara di mulai, mendadak penglihatan ku mulai kabur dan gelap. Suara yang ku dengar juga mulai kacau, kecil dan tak terdengar lagi. Yang kurasa hanya badan ku melemah dan seolah melayang. Dan ………… aku pingsan.

Apa, aku pingsan ?

Seolah tak percaya karena aku memang belum ernah mengalaminya. Dibantu tim palang merah remaja, aku jalan terkulai menuju ruang kesehatan. Sebenarnya tidak jauh tempat itu dari lapangan upacara, namun karena kondisi ku lemah sehingga terasa berat.dan perlu bantuan orang lain untuk ke sana

Sesampainya aku di ruang kesehatan, tampak ada seorang siswa yang sangat aku kenal. Sayangnya bukan prestasi atau sikap baiknya yang menjadikan aku kenal, melainkan sikap kasar dan kenakalannya. Jujur saja aku lebih suka nongkrong di perpustakaan dari pada tinggal di ruang kesehatan bersama preman sekolah itu.

Sesaat terdengar suara komandan upacara pertanda upacara sudah di mulai. Ku pandangi suasana ruang kesehatan hingga lapangan upacara. Dari pinggir lapangan tampak bu Ani berjalan menyusuri pinggir lapangan. Ternyata beliau menuju ruang kesehatan ini. Beliau adalah wali kelas ku, jadi wajar bila beliau ingin tahu kondisi siswanya yang tidak mengikuti kegiatan rutin setiap hari senin itu.

Bu guru yang terkenal dengan logat khasnya itu menanyakan kondisi ku, sembari berjalan menuju almari minuman. Dibukanya pintu dan menawari minuman yang sudah disiapkan untuk siswa yang sakit.

“Gimana kondisi mu sekarang De ? Sudah lebih baik kan ? ini ibu ambilkan minuman biar kondisi mu cepat pulih” kata bu ani

“Alhamdulillah saya sudah lebih baik bu, Cuma sedikit pusing. InsyaALLAH kalo sudah tilawah, saya sehat lagi. Mungkin danang lebih perlu minuman itu bu” jawab ku sambil menoleh ke arah danang.

Danang yang dari tadi main hp dari balik selimut cuma mengangguk saja tanda ia setuju.
“ah, aklo danang sih ga usah di kasih. Dia kan malas ikut upacara, makanya pura2 sakit. Hey, kamu itu cepet hilang nakalnya, biar jadi anak pintar” kata bu ani sambil duduk di bangku administrasi kesehatan.

Aku pun cuma ketawa kecil

Setelah pusing ku sedikit hilang, ku ambil hp di kantong celana. Ku buka aplikasi quran, dan ku lanjutkan ngaji semalam yang tak sempat ku baca setelah sholat subuh. Mungkin ini yang menyebabkan ku lemah pagi ini. Oleh karena itu dengan semangat ku lanjutkan ngaji ku.

“De, kamu ga minum ya ? Kamu mesti minum, biar cepat pulih. Ingat pesan ibu ani tadi” kata danang sembari berjalan menuju pinggir jendela ruang kesehatan

“Aku puasa bro, insyaALLAH aku lanjutkan sampai maghrib nanti. Baru aku minum dan makan” Ku jawan pertanyaan danang. Dia hanya bengong mendengar jawaban ku

Aku baca Quran sambil sesekali ku lihat danang. Rupanya dia mendengarkan apa yang ku baca. Surat lanjutan ngaji ku pas di Surat Ar Rahman. Selesai dengan membaca, ku lanjutkan membaca arti setiap ayat surat tersebut.

Tiba2 ku dengar isak tangis seseorang. Makin lama makin kuat tangisannya. Meskipun ia berusaha menahan tangisnya, tapi aku yakin dia berada di dekat ku. Setelah aku selesai membaca terjemahan, aku baru memastikan dari mana suara isak tangis itu.

Masyaallah, ternyata danang. Danang bisa menangis ? Masa iya preman sekolah bisa nangis, adanya orang dibuat nangis sama dia ? atau jangan2 dia sakit, tapi sakit apa ya yang bisa bikin dia nangis ?

“Kamu kenapa danang ? sakit ya, sakit apa ? ayo bilang biar aku panggil petugas kesehatan sekolah” ku borong pertanyaan untuk memastikan ia baik2 saja

“De, aku capek… aku capek sama kenakalan ku selama ini. Aku pingin taubat, aku kapok” jawab danang sambil terisak.

Tentu saja jawaban itu membuat ku bingung. Apa yang bisa buat ia berkata seperti itu ?

“Ku dengar tadi quran yang kau baca, bergetar badan ku, sesak nafas ku. Tak terbayang begitu banyak dosa ku. Banyak maksiat yang telah ku lakukan, banyak nikmat tuhan yang tak aku syukuri. Dan sekarang aku pingin berubah” jawab dia sambil meringkuk di pojok ruang ini.

“Sebenernya sudah lama aku perhatikan kamu sama kawan2 lainnya, sholat di masjid sekolah, ngaji bareng, dan banyak kegiatan yang kalian kerjakan di sana. Sebenernya aku pingin ikut. Tapi… tapi…” iya tak sampai mampu melanjutkannya. Hanya tangisan saja yang bisa ia lakukan

“ Sabar Danang, tenang. Katakana saja, tapi apa ??” Tanya ku penasaran dengan kalimat sambungannya.

“Aku malu, aku merasa tak pantas duduk bersama kalian. Aku kotor, aku penuh dosa, dan aku tak layak. Jujur aku pingin berubah. Aku sadar selama ini hidup ku kacau. Apa kah kamu mau ngajari aku ngaji ? ngajari aku sholat ? ngajari aku agama ?”

Sungguh aku hampir tak bisa berkata2 lagi. Kaget bercampur kagum rasanya ku lihat seorang preman yang ingin berubah

“Tenang bro, insyaALLAH kami siap membantu. Aku juga masih belajar, ngajiku belum lancar, makanya perlu komunitas kebaikan untuk selalu saling mengingatkan. Kalo sudah kita sadari, bismillah saja. Kita jalani, terserah orang mau menilai apa. Yang penting kita makin dekat dengan allah swt. Karena IA lah sumber kekuatan dan ketenangan hidup kita.”

“Makasih bro, nanti tunggu aku ya di masjid pas jam istirahat pertama. Aku pingin sholat dhuha bareng kalian” kata danang sebelum kembali ke kelas

Wow, subhanallah.

Jujur, aku juga masih belajar. Aku juga ngerasa semua yang aku lakukan bersama kawan2 rohis adalah hal yang biasa. Lumrah gitu. Jalan sekolah bareng, ngerjain tugas bareng2, sholat dhuha bareng, sholat berjamaah dan ngaji bareng, dan semua kegiatan sekolah ataupun oranisasi kami lakukan bersama2.


Ternyata orang lain memperhatikan kita. Jika niat kita memang mencari rido allah swt, maka yakinlah gelombang kebaikan itu akan menyentuh hati orang lain dan mengajak bersama dalam kebaikan

RAMADHAN DELAPAN RASA


Cilacap, 2008
illustrasi

Cilacap merupakan tempat tinggal orang tua ku. 30 tahun lamanya beliau berdua mengabdi menjadi guru sekolah dasar. Bilangan waktu yang tidak sedikit.
Sebagai pendatang, kami sudah bisa beradaptasi dan bahkan banyak yang mengira kami warga asli daerah tersebut. Di sana ku habiskan masa kecil, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama.
Tahun 2008, aku sudah duduk di perguruan tinggi. Ramadhan ini banyak ku habiskan di rumah. Aku merasa selama ini waktu untuk keluarga terlalu sedikit. Tinggal di kos dan hanya pulang setahun 3 kali, sehingga setiap kali libur kugunakan untuk keluarga.
Kegiatan ku antara lain bersih2 rumah, berkebun, memasak dsb. Menjelang idul fitri pasti kami membuat kue hidangan lebaran.



Klaten, 2009 

Klaten merupakan salah satu kabupaten perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Provinsi  Jawa Tengah di sisi timur. Ramadhan 2009 ku bertepatan dengan akhir masa prakek kerja masyarakat, atau yang lebih dikenal dengan istilah KKN.
3 bulan lamanya kami di sana, banyak kesan baik yang kami rasakan. Kami yang datang dengan berbagai latar suku, budaya, bahasa, dan disiplin ilmu harus mampu beradaptasi dengan lingkungan jawa khas Klaten lereng Gunung Merapi. Alhamdulillah selama masa KKN, program yang kami ajukan diterima dengan baik oleh masyarakat, dan kami merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat di sana.
Ramadhan 2009 ini kami mengenal suasana khas Klaten di mana budaya dan agama disandingkan. Acara yang sudah dilakukan secara turun temurun seperti padusan, kegiatan bersih masal masyarakat menjelang bulan suci ramadhan. Ada juga ruahan, di mana setiap keluarga membawa sepikul makanan untuk dikumpulkan di makam leluhur dan di makan bersama.
Meskipun tidak ada tuntunannya, satu nilai positif adalah kebersamaan dan kerukunan masyarakat terus terjaga. Begitu juga dengan silaturahim yang terus terjalin antar warga


Kalimantan, 2010 

Untuk pertama kalinya aku berada di Pulau Kalimantan. Sebagai mahasiswa kehutanan, praktek di  Kalimantan itu sesuatu yang wajib hukumnya. Meskipun menjadi salah satu keingian ku untuk pergi ke pulau tersebut, sejujurnya aku anggap itu hal mustahil karena sampai saat itu sudah bergulat dengan ujian skripsi.
Di sana lah Allah SWT mengingatkan ku bahwa sesuatu apapun itu bisa terjadi dengan izinNYA. Menjelang penentuan tanggal ujian skripsi, seorang dosen pembimbing dan penguji skripsi mendadak haru ke negeri matahari terbut untuk urusan dinas kampus. Alhasil kelulusan ku pun mundur, aku pun syok karena harus mundur 6 bulan.
Seorang dosen merekomendasikan ku untuk bergabung dengan tim penelitian untuk satwa dilindungi. Selain mengisi waktu menunggu dosen pulang, penelitian itu juga untuk mengenal dunia kehutanan lebih lajut karena lokasi penelitian benar2 di hutan alam dan belum pernah aku bayangkan sebelumnya.
Tiga bulan menjelang Ramadhan menjadikan jadual penelitian diubah, lebih padat dilapangan sehingga waktunya puasa, tinggal merekap data dan persiapan laporan. Satu hari menjelang puasa, tim sudah keluar dari lokasi di pedalaman daerah sangatta menuju kota Berau. Sedangkan hari pertama puasa, kami lanjutkan perjalanan dari kota Berau menuju kota Balikpapan menggunakan jalur udara. Sejak awal kami persiapkan dan waktu yang ada digunakan dengan efektif sehingga jadual membuat laporan pun sudah selesai. Waktu sisa dua hari kami habiskan untuk berlibur, belajar sedikit kultur, dan menikmati suasana ramadhan di kota itu.


Jogjakarta, 2011

Ramadhan 2011 ini tepat hari libur panjang . Tahun itu aku sudah bekerja di pulau Sumatera. Perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan industri menjadi pilihan. Ku atur waktu libur sehingga ramadhan bisa libur penuh hingga 7 hari setelah lebaran. Baik bus atupun pesawat, semua tidak bisa mengantar ku langsung ke kota orang tua ku, sehingga aku putuskan singah di kota Jogja.
Banyak hal yang bisa ku lakukan di kota gudeg ini. Menghilangkan penat pascakerja, refresing dan sebagainya. Tak lupa kukunjungi sahabat yang masih menyelesaikan study nya, ku datangi tempat yang menjadi saksi perjuangan dulu meraih gelar sarana, dan juga tempat bersejarah bagi ku mendapatkan hidayahNYA menemukan Tarbiyah.
Dan pastinya sebagai anak aku ingin memberikan hadiah untuk kedua orang tua ku, kakak, dan adik ku. Tentu saja sebatas yang aku mampu. Bagi ku, bisa member dan membuat keluarga ku tersenyum adalah segalanya.
Jogja memang istimewa


Lematang, 2012

Tahun di mana aku mulai telat pulang. Mudik puasa pun hanya bisa ku lakukan menjelang lebaran. Ini lokasi pertama aku bekerja. Tempat perbatasan kabupaten Muara Enim dan Lahat, Sumatera Selatan.
Mulai ku biasakan dengan lingkungan kerja, kultur budaya, makanan dan semua pernak pernik ramadhan, kususnya saat puasa di lokasi yang jauh di pedalaman. Semua keterbatasan itu menjadikan ku lebih mudah mengingat besarnya karunia yang Allah SWT berikan.
Alhamdulillah semua rekan kerja ku baik, untuk sahur dan buka kami masak dan makan bersama. Sesekali juga aku diajak tidur di rumah mereka. Hal yang paling aku ingat adalah sore sepulang kerja kami ke kebun mencari kelapa muda, membawanya ke GOR kota dan buka bersama di sana. Sebenarnya banyak penjual makanan untuk berbuka, tapi kami memilih untuk membawa sendiri dari kebun. Adapun orang yang lewat hanya senyum memandang tingkah kami yang sok cuek.. hehehe J




Niru, 2013

Setahun kemudian, aku pindah lokasi kerja di Kantor Pusat Operasional (KPO Niru). Sebagai pusat operasional, tentu saja aku mesti sering keliling 3 kantor wilayah yang membawahi areal di 6 kabupaten.
Ku atur ritme kerja supaya pekerjaan bisa berjalan tanpa mengganggu puasa ku. Sering kali pulang dari lokasi menjelang buka puasa. Oleh karena itu segera aku mandi dan pergi ke masjid kantor karena setiap hari ada buka puasa bersama. Di sana aku mulai mengenal lebih banyak ragam makanan khas daerah seperti pempek, tekwan dsb. Yang paling aku suka tentu saja Pempek Kapal Selam. Pernah suatu hari, saat buka puasa makan 2 porsi PKS, paginya ga sahur karena masih kenyang. hehe
Ramadhan tahun ini terasa lebih capek karena mesti lebih banyak keliling lokasi, meskipun demikian, fasilitas ibadah dll relatif lebih baik dari sebelumnya. Alhamdulillah, beguyuuuur


Prabumulih, 2014

Hari pertama masuk kerja pascalebaran, kuputuskan untuk tinggal kost di kota Prabumulih. Banyak yang menyayangkan kenapa mesti kost, tidak di mes lagi. Kenapa buang uang untuk sesuatu yang tidak perlu ? jawaban ku sederhana, aku mau nikah. Jadi perlu persiapan, perlu latihan gitu biar ga kaget nantinya. Yang bikin senyum kecut itu kalo ada kawan yang nanya, “Emang calonnya sudah ada ?” ah, itu urusan Allah SWT, aku Cuma bisa buat rencana J
Kegiatan Tarbawi ku yang dulu pernah berhenti, kini jalan lagi. Alhamdulillah dari sana lah pertolongan Allah muncul. Melalui seorang ustadz, aku dikenalkan dengan seorang gadis dari kota minyak ini. Cukup 2 minggu, aku mantap untuk melamarnya. Jadi ramadhan pertama di kota ini, aku sudah ditemani bidadari J
Ramadhan ini aku benar2 mendapatkan banyak berkah, keluarga baru, saudara baru di jalan Tarbiyah dan masih banyak lagi yang tentunya ak bisa ku uraikan sau persatu. Alhamdulillah



Prabumulih, 2015

4 Juni 2015,hadir di tengah2 keluarga kami. Seorang putri cantik yang Allah SWT kirimkan. Seperti kado pernikahan pertama kami.
Meskipun penuh dengan kekurangan, aku dan istriku selalu berusaha member yang terbaik untuk bidadari kecil itu. Kami pun mulai mengerti pengorbanan orang tua untuk kami. Meskipun kami tau tak akan mampu membayar pengorbanan mereka.
Ramadhan ini, ada tangisan bidadari kecil, ada tawa lebih karena melihat polah lucu sang bidadari. Bidadari kecil itu yang telah memberikan warna kehidupan kami menjadi lebih lengkap. Semoga kamibisa membimbing mu menjadi bidadari dunia akhirat,
aamiin

Jumat, 19 Juni 2015

Pesan Singkat Pagi Ini



Bidadari ku
Sama seperti hari-hari biasanya, setelah acara olahraga pagi di salah satu stasiun televisi swasta, saya berkemas menuju kantor. Masih terbayang sms semalam dari orang asing yang sebentar lagi menjadi bagian dari hidup ku, insyaALLAH…

Tak terasa langkah kaki ku sudah sampai di jalan utama kota ini. Di pinggir jalan, bus kantor sudah menunggu, sedangkan ada beberapa kawan kerja yang asyik diskusi di belakang bus sambil memegang koran terbitan setiap hari. 

Tak seperti biasanya, aku langsung masuk ke bus dan duduk  di bangku paling belakang. Sengaja ku pilih di sana karena bisa leluasa baca koran  yang ku beli pagi ini. Dan tentu saja bisa ku baca-baca  lagi sms semalam yang dikirim oleh si dia, orang asing tersebut.

“Dengan niatan yang sama, mengharap ridho Allah SWT saya juga memiliki rencana yang sama dengan Mas. Saya terima niat baik Mas untuk membangun rumah tangga”

Pesan singkat itu tak sesingkat kesannya, berulang kali aku baca pesan itu. Tak pernah bosan rasanya. Justru semakin aku baca semakin sadar begitu banyak nikmat ALLAH SWT yang tercurah pada ku. Jujur aku merasa begitu malu dengan semua nikmat itu sedang aku jarang sekali bersyukur.

Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, memikirkan semua yang telah ku lalui. Sungguh begitu singkat proses  yang ku jalani. Tak kurang dari 2 minggu sudah ku jalani. Hingga tadi malam ku sampaikan niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sudah tak ada lagi alasan untuk menunda. Sudah tak ada lagi alasan untuk menghindar. Kini semua kuserahkan pada MU ya Robb…..

Bimbinglah setiap proses ini…
Jagalah niat kami, luruskan karena mengharap ridho MU
Jadikan kami tergolong dalam orang-orang ahli syukur atas semua karunia MU
Mudahkanlah langkah-langkah kami…
Kekalkan ikatan di antara kami
Jadikan rumah tangga kami adalah sebagian dari rumah tangga peradaban penuh cahaya MU
Jadikan kami pengantin dunia akhirat… istiqomah di jalanMU
Aamiin

Menguatkan kembali mengasah minat menulis J
Teruntuk calon permaisuri ku, jadilah penyeuk mata dan hati ku J


NIRU, 09052014